Telepon berdering tanpa jeda. Notifikasi pesan berdenting saling bertabrakan. Tumpukan berkas menunggu tanda tangan seperti barisan yang tak sabar menuntut perhatian. Di layar komputer, tenggat laporan SPJ berkedip, seolah mengingatkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar berpihak. Di balik dinding ruang kerja, hiruk-pikuk itu seperti tak pernah benar-benar berhenti. Seorang kepala sekolah duduk di kursinya, menarik napas panjang, lalu kembali menatap daftar pekerjaan yang belum selesai. Di luar ruangan, guru-guru menyiapkan pembelajaran, siswa-siswa berlarian dengan impian masing-masing, dan dunia pendidikan terus bergerak dengan ritmenya yang padat. Namun di dalam ruangan itu, sering kali yang terasa hanya satu hal: tekanan untuk mencapai.
Dalam banyak percakapan profesional, profesionalisme hampir selalu diterjemahkan sebagai pencapaian. Angka kelulusan tinggi, siswa menjuarai lomba, laporan tersusun cepat dan rapi, sertifikat penghargaan terpajang di dinding. Prestasi menjadi mata uang utama. Ia menjadi alat tukar harga diri. Semakin banyak yang dikumpulkan, semakin tinggi nilai diri yang dirasa. Tanpa sadar, kita membangun identitas di atas grafik yang menanjak dan statistik yang mengesankan. Kita mengukur keberhasilan dari seberapa cepat target tercapai dan seberapa sering nama lembaga kita disebut dengan nada kagum.
Namun ada satu kalimat sederhana yang jarang sekali muncul dalam indikator kinerja atau key performance indicator: “Tetaplah jadi orang baik dimanapun kamu bekerja.” Kalimat ini tidak tercantum dalam laporan tahunan. Ia tidak dihitung dalam rapor mutu. Ia tidak menjadi poin dalam audit eksternal. Dan justru karena itulah, ia sering terlewat. Padahal, nilai inilah yang paling abadi. Keberhasilan sejati bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi bagaimana kita berjalan menuju puncak itu. Bukan sekadar tentang sampai di garis akhir, melainkan tentang jejak kaki seperti apa yang kita tinggalkan di sepanjang perjalanan.
Barangkali kita perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: berapa lama tepuk tangan bertahan? Seberapa lama rasa bangga itu menghangatkan dada sebelum digantikan oleh target berikutnya? Dalam psikologi, ada konsep yang dikenal sebagai Hedonic Treadmill. Ia menggambarkan kecenderungan manusia untuk kembali pada tingkat kebahagiaan semula setelah mengalami pencapaian atau peristiwa besar. Kita bekerja keras, meraih prestasi, merasakan lonjakan kebahagiaan, lalu perlahan rasa itu mereda. Kita kembali berlari, mengejar sesuatu yang baru, lebih tinggi, lebih gemilang. Seperti berada di atas treadmill yang terus bergerak, kita berlari tanpa benar-benar tiba.
Prestasi memang indah. Ia seperti kembang api di langit malam—terang, memukau, membuat banyak orang menengadah takjub. Tetapi kembang api hanya menyala sesaat. Setelahnya, langit kembali gelap, dan kita menanti letupan berikutnya. Membangun identitas hanya dari kembang api adalah risiko besar. Itu seperti mendirikan rumah di atas pasir: tampak megah di awal, namun rapuh ketika ombak datang. Jika harga diri kita sepenuhnya bergantung pada pencapaian, maka setiap kegagalan akan terasa seperti runtuhnya fondasi diri.
Psikologi positif menawarkan perspektif yang lebih utuh tentang kesejahteraan. Melalui model PERMA yang diperkenalkan oleh Martin Seligman, kesejahteraan tidak hanya diukur dari Positive Emotion atau emosi positif semata. Ia juga mencakup Engagement—keterlibatan penuh dalam aktivitas yang bermakna; Relationships—hubungan yang hangat dan saling mendukung; Meaning—rasa memiliki tujuan yang lebih besar dari diri sendiri; serta Accomplishment—pencapaian. Menariknya, dalam dunia kerja, elemen Relationships sering kali menjadi fondasi yang paling diingat orang. Ketika seseorang pindah tugas atau pensiun, yang dikenang bukan hanya daftar prestasinya, tetapi bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Konsep lain yang relevan adalah flourishing, sebagaimana dijelaskan oleh Huppert dan So. Flourishing bukan sekadar merasa happy sesaat, melainkan functioning well—berfungsi dengan baik secara psikologis dan sosial. Ia adalah keadaan ketika seseorang bukan hanya tersenyum, tetapi juga mampu menjalankan perannya dengan utuh, membangun relasi yang sehat, dan menemukan makna dalam pekerjaannya. Sekolah yang hanya mengejar angka tanpa memperhatikan kesejahteraan emosional warganya mungkin akan tampak gemilang dari luar, tetapi di dalamnya tersimpan kelelahan kolektif. Guru merasa terkuras, staf merasa tak terlihat, siswa merasa hanya menjadi angka dalam statistik. Itu bukan flourishing. Itu hanya berlari bersama di atas treadmill yang sama.
Lalu, bagaimana kita menerjemahkan teori ini ke dalam koridor sekolah yang nyata? Bagaimana nilai-nilai psikologi positif itu menjelma dalam rapat-rapat yang tegang, dalam evaluasi yang penuh tekanan, dalam hari-hari ketika energi terasa menipis?
Pertama-tama, kita perlu mendefinisikan ulang profesionalisme. Kebaikan bukanlah kelemahan. Ia bukan kelembekan yang mengurangi wibawa. Justru sebaliknya, kebaikan adalah bentuk kematangan emosi. Ia lahir dari kecerdasan emosional yang terlatih—kemampuan memahami diri sendiri, mengelola emosi, dan peka terhadap perasaan orang lain. Seorang kepala sekolah yang tegas sekaligus hangat tidak kehilangan otoritasnya. Ia justru memperkuatnya dengan kepercayaan.
Melihat manusia di balik jabatan adalah langkah awal yang sederhana namun revolusioner. Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum. Ia adalah individu dengan kecemasan, impian, dan beban pribadi yang mungkin tak pernah kita lihat. Staf administrasi bukan sekadar pengolah data; ia adalah penjaga alur yang membuat sistem tetap berjalan. Siswa bukan sekadar angka kelulusan; ia adalah pribadi yang sedang bertumbuh, dengan luka dan harapan yang rapuh. Ketika kita mulai melihat mereka sebagai manusia utuh, cara kita berbicara, mengambil keputusan, dan memberi umpan balik pun berubah.
Perubahan besar sering kali berawal dari tindakan kecil—micro-actions—yang tampak sepele namun berdampak luas. Mendengarkan, misalnya. Seorang kepala sekolah yang bersedia duduk dan mendengarkan keluhan guru tanpa langsung menghakimi telah menanam benih kepercayaan. Ia mungkin tidak langsung menyelesaikan masalah, tetapi ia memberi pesan: “Saya melihat Anda. Saya peduli.” Integritas juga merupakan tindakan sunyi yang bergaung panjang. Rekan kerja yang tidak mengambil ide orang lain dan berani memberi kredit secara terbuka sedang membangun budaya saling menghargai. Empati hadir dalam bentuk yang sederhana: senyuman tulus di hari yang melelahkan, kesabaran menghadapi pegawai baru yang masih sering keliru, atau pesan singkat yang menanyakan kabar ketika seseorang tampak murung.
Dari tindakan-tindakan kecil itu, lahirlah sesuatu yang lebih besar: keamanan psikologis. Lingkungan yang aman secara psikologis adalah ruang di mana orang berani mengemukakan ide tanpa takut dipermalukan, berani mengakui kesalahan tanpa takut dihukum secara tidak proporsional. Di tempat seperti itu, kreativitas tumbuh. Inovasi muncul bukan dari tekanan, melainkan dari rasa aman untuk mencoba. Loyalitas pun tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari rasa dihargai. Orang bertahan bukan karena terpaksa, melainkan karena merasa menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna.
Pada akhirnya, setiap perjalanan profesional akan sampai pada satu titik perhentian. Entah itu pensiun, mutasi, atau sekadar pergantian kepemimpinan. Di momen itu, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan sejak sekarang: “Bagaimana rasanya bekerja dengannya?” Jarang sekali jawabannya berupa angka. Orang tidak berkata, “Ia meningkatkan grafik sekian persen.” Mereka lebih sering berkata, “Ia menyenangkan,” “Ia adil,” “Ia suportif,” atau sebaliknya, “Ia membuat kami takut,” “Ia sulit didekati,” “Ia melukai banyak orang.”
Pertanyaan itu adalah cermin yang jujur. Apakah tangga karier yang kita daki perlahan mengikis kemanusiaan kita? Apakah dalam upaya menjadi profesional, kita justru kehilangan sisi esensial sebagai manusia? Kita mungkin berhasil memenuhi semua target, tetapi jika di sepanjang jalan kita menyisakan luka yang dalam pada orang-orang di sekitar, maka keberhasilan itu terasa hampa. Orang mungkin lupa strategi brilian yang kita susun, tetapi mereka ingat apakah kita adil. Orang mungkin lupa angka yang kita kejar, tetapi mereka ingat apakah kita menyakiti atau menguatkan mereka.
Kebaikan, dalam konteks ini, adalah investasi jangka panjang dalam memori orang lain. Ia mungkin tidak menghasilkan tepuk tangan yang riuh, tetapi ia menanamkan cerita yang hidup lebih lama dari laporan tahunan. Reputasi sebagai “yang paling manusiawi” tidak runtuh hanya karena satu kegagalan proyek. Ia dibangun dari konsistensi sikap, dari pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari ketika tidak ada yang menyorot.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Kejar target dengan disiplin. Susun strategi dengan cermat. Tidak ada yang salah dengan ambisi dan pencapaian. Namun jangan lupakan kemanusiaan di tengah semua itu. Jadikan kebaikan sebagai budaya, bukan sekadar insiden sesekali ketika suasana hati sedang baik. Biarkan efek domino kebaikan terjadi. Satu tindakan empati memicu tindakan serupa pada orang lain. Satu keputusan yang adil menginspirasi keberanian untuk berlaku jujur. Sedikit demi sedikit, atmosfer sekolah berubah—bukan hanya menjadi tempat berprestasi, tetapi juga ruang bertumbuh yang sehat.
Di ruang kepala sekolah yang kembali sunyi setelah jam kerja usai, mungkin masih ada berkas yang belum selesai dan target yang belum tercapai. Namun di antara semua itu, ada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih kuat: pilihan untuk tetap menjadi manusia yang baik. Ketika semua angka dan laporan telah usang, yang tetap hidup adalah cerita tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Dan di sanalah letak keberhasilan yang sesungguhnya.
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang

Beri Komentar