Sabtu, 14-03-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Dari Anak Teknik Mesin hingga Lulusan MIT, Nyoman Bakar Semangat Mahasiswa Jadi Entrepreneur

BANDUNG — Ratusan mahasiswa memadati aula kampus saat seorang pembicara perempuan berdiri di panggung dan membuka kisahnya dengan jujur. “Anak teknik mesin sampai seramai ini dulu ya. Terus saya juga sebenarnya di ITB enggak langsung jadi presiden KM,” ujarnya disambut tawa dan tepuk tangan. Sosok yang dimaksud adalah Nyoman, alumni Institut Teknologi Bandung yang kini dikenal sebagai pengusaha muda sekaligus lulusan Massachusetts Institute of Technology. Kehadirannya dalam forum kemahasiswaan itu bukan sekadar berbagi cerita sukses, tetapi memaparkan perjalanan panjang dari aktivis kampus, profesional di perusahaan multinasional, hingga membangun bisnis sendiri dari nol.

Dalam paparannya, Nyoman menekankan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ia mengaku memulai karier organisasi dari bawah, menjadi staf kabinet mahasiswa, kemudian kepala divisi, hingga akhirnya dipercaya memimpin organisasi tingkat kampus. “Saya meniti dulu karier. Jadi staf dulu di kabinet, dari staf jadi kadiv, di himpunan juga jadi kadiv pendidikan. Saya coba membalance antara kuliah dan organisasi,” katanya.

Menurutnya, keseimbangan antara kemampuan akademik dan pengalaman organisasi adalah kunci pembentukan kompetensi mahasiswa. Hard skill, lanjut dia, diperoleh di ruang kelas, sementara soft skill terbentuk di lapangan. “Problem solving, managing team, communication, public speaking itu kalian dapat bukan di kelas, tapi ketika berorganisasi,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa pengalaman tersebut menjadi bekal utama yang membantunya berbicara di forum publik dan memimpin tim dalam dunia kerja maupun bisnis.

Selain aktif berorganisasi, Nyoman juga dikenal memiliki hobi mendaki gunung. Ia mengaku telah menaklukkan lebih dari sebelas gunung berapi di Indonesia, di antaranya Gunung Rinjani, Kerinci, dan Tambora. Pengalaman tersebut, menurutnya, membentuk ketahanan mental dan kemampuan menghadapi tekanan. “Naik gunung itu melatih disiplin dan daya tahan. Sama seperti membangun karier, enggak ada yang instan,” tuturnya.

Setelah lulus kuliah, Nyoman tidak langsung melanjutkan studi. Ia memilih bekerja di perusahaan multinasional Unilever sebagai management trainee selama lima tahun. Di sana ia ditempatkan pada divisi rantai pasok dan banyak terlibat proyek teknik di pabrik. “Saya banyak membuat automation di pabrik menggunakan kemampuan teknik mesin saya. Itu portofolio yang akhirnya saya kumpulkan,” katanya.

Pengalaman profesional itulah yang kemudian membuka jalan baginya untuk melanjutkan studi ke MIT. Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi luar negeri tidak hanya menilai nilai akademik semata. “CV yang bagus itu bukan cuma IPK tinggi. Pengalaman kerja, proyek, dan kontribusi ke masyarakat itu sangat diperhatikan,” ujarnya. Ia bahkan mengungkapkan bahwa dirinya tidak memiliki IPK sempurna. “IPK saya sekitar 3,56, bukan yang tertinggi. Tapi pengalaman saya kuat,” katanya.

Di MIT, Nyoman merasakan atmosfer yang berbeda dibandingkan kampus di Indonesia. Ia menyebut semangat kewirausahaan dan inovasi sangat kental, dengan banyak klub teknologi dan startup. Mahasiswa didorong untuk belajar melalui praktik langsung. “Moto di MIT itu mind and hand. Enggak cukup otak pintar, tangan juga harus terampil,” jelasnya.

Pengalaman yang paling mengubah hidupnya terjadi saat mengikuti konferensi bisnis internasional. Ia mengaku bertemu banyak investor asing yang tertarik menanamkan modal di Indonesia. “Mereka literally mencari pelajar Indonesia. Kenapa? Karena market Indonesia sangat besar,” katanya. Menurutnya, perusahaan yang mampu menjangkau pasar domestik secara luas bisa tumbuh hingga skala triliunan rupiah.

Motivasi tersebut mendorong Nyoman untuk pulang dan membangun bisnis sendiri. Ia memulai dari sebuah rumah kecil di Bandung pada 2021 dengan modal terbatas. Pesanan datang dari platform e-commerce, dan proses pengemasan masih dilakukan sendiri bersama suaminya. “Orderan datang, kami yang packing. Enggak ada tim besar waktu itu,” kenangnya.

Kini perusahaannya berkembang pesat dengan ratusan karyawan, studio siaran langsung 24 jam, gudang logistik, hingga laboratorium penelitian dan pengembangan sendiri. Ia menyebut pembangunan laboratorium menjadi keunggulan kompetitif karena memungkinkan perusahaan merancang formula produk secara mandiri tanpa bergantung pada pihak ketiga.

Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa menanyakan bagaimana ia percaya diri membangun bisnis di luar bidang akademiknya. Nyoman menjawab bahwa wirausaha bukan tentang menguasai semua hal sendiri, melainkan kemampuan mengelola tim. “Entrepreneur itu tentang delegasi. Kita mempekerjakan orang yang lebih ahli dari kita,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya menemukan masalah nyata sebelum membangun bisnis. Menurutnya, entrepreneur pada dasarnya adalah pemecah masalah. Produk akan berhasil jika mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat dan memiliki kecocokan dengan pasar.

Di akhir acara, Nyoman memberikan pesan kepada mahasiswa agar mulai mempersiapkan masa depan sejak di bangku kuliah, baik bagi yang ingin berkarier profesional maupun melanjutkan studi ke luar negeri. Persiapan itu meliputi prestasi akademik, pengalaman organisasi, kemampuan bahasa asing, serta visi kontribusi bagi masyarakat.

“Sekolah tinggi terbaik di dunia itu mencari orang yang punya visi setelah lulus, bukan sekadar pintar,” ujarnya.

Acara ditutup dengan antusiasme tinggi dari peserta yang mengajukan pertanyaan lanjutan. Bagi banyak mahasiswa, kisah Nyoman menjadi bukti bahwa perjalanan dari aktivis kampus hingga pengusaha global bukanlah mimpi yang mustahil, melainkan hasil dari proses panjang, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang