Semarang — Gelaran “Kompas TV Goes to Undip” pada Jumat, 28 November 2025 menghadirkan suasana hangat di Auditorium Universitas Diponegoro (Undip), ketika ribuan mahasiswa mengikuti dialog inspiratif bersama tiga figur yang selama ini dikenal sebagai penggerak perubahan di bidangnya. Hadir sebagai narasumber yakni Mendiksti Saintech Prof. Brian Yuliarto, pegiat lingkungan Muhammad Jamaluddin, dan pelopor desa wisata Cipta Ning Tias. Acara dipandu jurnalis senior Kompas TV, Rosianna Silalahi.
Acara dimulai dengan pemaparan Prof. Brian Yuliarto, ilmuwan nanoteknologi yang meraih Habibie Prize tahun 2024. Ia menegaskan pentingnya semangat belajar dan keberanian berinovasi di tengah perubahan teknologi. “Adik-adik mahasiswa, keterbatasan justru bisa menjadi sumber kemajuan,” ujar Prof. Brian saat menyapa mahasiswa Undip dengan hangat.
Sosok inspiratif berikutnya adalah Muhammad Jamaluddin, local hero Pertamina dari Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Cilacap. Ia dikenal berkat inovasinya membangun pembangkit listrik tenaga hybrid yang memadukan panel surya dan kincir angin untuk daerah terpencil. Jamal menuturkan bahwa seluruh perjuangannya dimulai dari keresahan hidup di dusun yang gelap gulita selama 20 tahun. “Saya tidak ingin anak-anak di dusun saya mengalami apa yang pernah saya alami,” ujarnya.
Selain itu, Jamal juga memaparkan bagaimana ketiadaan akses air bersih memaksa warga menempuh perjalanan berbahaya sejauh tujuh kilometer ke lereng Nusakambangan. Inovasinya berkembang menjadi sistem desalinasi air payau berbasis masyarakat. “Alhamdulillah, sekarang Dusun Bondan merdeka dari kekeringan air bersih,” ucapnya.
Dari bidang pariwisata, Cipta Ning Tias atau Bu Ning, arsitek pariwisata berkelanjutan dari Desa Pentingsari, Yogyakarta, berbagi kisah transformasi desanya yang kini menjadi desa wisata kelas dunia. “Awalnya desa kami hanya kampung biasa dengan keterbatasan akses dan sumber daya manusia. Tapi kami punya mimpi,” terang Bu Ning, yang baru saja meraih ASEAN Tourism Award 2025. Ia menekankan bahwa kunci perubahan adalah konsistensi dan perubahan pola pikir masyarakat. “Pembuktian itu penting. Jangan hanya rencana, tapi mari melangkah,” tegasnya.
Sementara itu, musisi dan storyteller Raim Laode—yang lagu Komang-nya telah didengar lebih dari 600 juta kali—mengajak mahasiswa tidak takut bermimpi besar. “Cita-cita itu gratis, ambil yang paling mahal,” kata Raim yang menceritakan perjalanan kariernya sejak gagal audisi hingga menjadi penyanyi papan atas.
Rektor Undip Prof. Suharnomo menegaskan komitmen kampus untuk menjadi universitas riset kelas dunia. Ia memaparkan bahwa Undip kini berada pada peringkat kedua nasional dengan 1.165 permohonan paten dalam satu dekade terakhir. “Sebaik-baik kampus adalah yang paling banyak manfaatnya bagi masyarakat,” tegasnya.
Acara yang melibatkan dialog langsung mahasiswa itu ditutup dengan pesan penting para narasumber tentang ketekunan dan nilai kebermanfaatan. “Jangan berhenti jadi orang baik,” pesan Jamal kepada mahasiswa Undip.
Melalui kegiatan ini, Kompas TV bersama Undip berharap semakin banyak generasi muda berani menjawab tantangan zaman dengan inovasi yang berdampak nyata. “Bangsa ini hanya bisa maju oleh pencerita dan para inovator,” tutup Raim Laode dalam sesi akhir acara.
