SEMARANG, 13 Maret 2026 – Di tengah dinamika dunia industri yang semakin kompetitif, institusi pendidikan kejuruan dituntut tidak hanya melahirkan lulusan yang memiliki keterampilan teknis atau hard skills, tetapi juga pribadi yang tangguh secara karakter serta cerdas dalam mengelola keuangan. Menjawab tantangan tersebut, kelompok guru Normatif-Adaptif (Normada) SMKN Jawa Tengah di Semarang menggelar rapat koordinasi besar pada Jumat (13/3) untuk memaparkan peta jalan kegiatan Komunitas Belajar (Kombel) siswa.
Rapat yang berlangsung di lingkungan kampus SMKN Jateng di Semarang tersebut menjadi momentum penting bagi para pendidik untuk menyelaraskan pembelajaran non-teknis dengan kebutuhan nyata siswa di dunia kerja. Dalam forum tersebut, para guru mempresentasikan rancangan program pembinaan yang akan diterapkan kepada siswa kelas 10 dan 11 melalui empat pilar utama pembelajaran yang menitikberatkan pada literasi keuangan, budaya kerja, kolaborasi lintas disiplin, serta penguatan kesiapan menghadapi dunia industri.
Salah satu fokus utama dalam pembahasan rapat adalah edukasi literasi keuangan bagi siswa. Para guru menilai pemahaman mengenai pengelolaan uang tidak bisa lagi dipandang sebagai materi tambahan, melainkan menjadi bekal penting bagi siswa yang sebagian besar sudah mulai menerima dukungan finansial berupa beasiswa pendidikan.
Dalam program tersebut, siswa kelas 10 akan dikenalkan pada konsep dasar psikologi uang, termasuk kemampuan membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Selain itu, mereka juga akan dilatih mencatat arus kas secara sederhana namun disiplin melalui buku saku keuangan, baik dalam bentuk digital maupun manual. Kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran finansial sejak dini sehingga siswa mampu mengelola setiap pemasukan secara bijak.
“Banyak siswa menerima beasiswa, tetapi tanpa edukasi yang tepat dana itu sering habis untuk konsumsi jangka pendek. Kami ingin mengubah pola pikir mereka bahwa beasiswa adalah modal awal untuk masa depan,” ujar Laely Rohmatin Apriliani guru Matematika dalam rapat koordinasi tersebut.
Selain bagi siswa kelas 10, perhatian khusus juga diberikan kepada siswa kelas 11 yang dalam waktu dekat akan memasuki masa Praktik Kerja Lapangan (PKL) saat mereka duduk di kelas 12 semester pertama. Menurut para guru, masa PKL merupakan simulasi awal kehidupan profesional yang akan memperkenalkan siswa pada pengelolaan penghasilan secara nyata.
Selama menjalani PKL, siswa biasanya menerima bantuan transportasi dari sekolah, bahkan dalam beberapa kasus mendapatkan insentif tambahan dari perusahaan tempat mereka magang. Situasi ini menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar mengatur keuangan secara mandiri.
“Uang saku PKL sering kali menjadi ‘gaji’ pertama yang dirasakan siswa. Tanpa pendampingan, ada risiko mereka tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Kami ingin mereka kembali dari industri tidak hanya membawa sertifikat keahlian, tetapi juga tabungan dari hasil kerja keras mereka,” jelas Laely tersebut.
Selain literasi keuangan, rapat juga menyoroti pentingnya penguatan budaya kerja. Guru Normada menilai banyak lulusan SMK memiliki keterampilan teknis yang baik, namun masih kurang siap menghadapi proses administratif dan etika profesional di dunia kerja.
Melalui program Kombel, siswa akan dibimbing secara intensif untuk menyusun curriculum vitae (CV) yang profesional, menulis surat lamaran kerja yang persuasif, serta membangun identitas profesional di dunia digital. Pembelajaran ini tidak hanya menekankan isi dokumen, tetapi juga estetika penyajian yang sering menjadi pertimbangan penting bagi tim rekrutmen perusahaan.
“Siswa sering kali gagal di tahap seleksi administrasi bukan karena mereka tidak kompeten, tetapi karena tidak memahami cara mempresentasikan diri secara profesional. Itulah yang ingin kami perbaiki melalui program ini,” ungkap Muhammad Sabilul Aziz, guru Bahasa Inggris sebagai peserta rapat.
Puncak dari pembelajaran budaya kerja tersebut adalah simulasi wawancara kerja yang dirancang menyerupai proses rekrutmen nyata di perusahaan. Dalam simulasi ini, siswa akan dilatih menjawab pertanyaan sulit, menjaga komunikasi verbal dan nonverbal yang baik, hingga memahami etika berpakaian profesional.
Melalui latihan tersebut, siswa diharapkan tidak lagi merasa asing ketika menghadapi wawancara kerja yang sesungguhnya. Mereka juga akan dilatih menghadapi pertanyaan berbasis studi kasus yang sering digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Keunikan program Kombel ini terletak pada pendekatan kolaboratif lintas disiplin yang melibatkan kelompok guru Normada. Para guru dari mata pelajaran normatif dan adaptif seperti Bahasa Indonesia, Matematika, Pendidikan Kewarganegaraan, hingga sejarah bekerja bersama merancang materi yang kontekstual dengan kebutuhan dunia kerja.
Guru Bahasa Indonesia, misalnya, berperan dalam membimbing siswa menyusun surat lamaran dan komunikasi profesional. Sementara guru Matematika memberikan pendampingan dalam penyusunan anggaran keuangan pribadi serta perencanaan tabungan. Adapun guru PKn dan sejarah menanamkan nilai etika kerja serta karakter kebangsaan yang menjadi fondasi perilaku profesional.
Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dan aplikatif bagi siswa SMK. Materi yang selama ini dianggap teoritis kini dikaitkan langsung dengan kebutuhan nyata yang akan mereka hadapi setelah lulus sekolah.
Rencana kegiatan yang dipaparkan dalam rapat pada 13 Maret tersebut akan segera diimplementasikan melalui pertemuan berkala komunitas belajar siswa. Targetnya, pada akhir semester ini seluruh siswa kelas 10 dan 11 sudah memiliki portofolio lamaran kerja yang lengkap sekaligus rencana keuangan pribadi yang terstruktur.
Manajemen sekolah memberikan apresiasi terhadap inisiatif para guru Normada tersebut. Program ini dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas kesiapan lulusan sekaligus menekan angka pengangguran lulusan sekolah kejuruan.
“SMKN Jateng bukan sekadar tempat belajar mesin atau coding. Ini adalah kawah candradimuka di mana karakter, kedisiplinan, dan kemandirian siswa ditempa secara utuh,” ujar Aziz.
Dengan pendekatan pembelajaran yang menyeimbangkan keterampilan teknis, literasi keuangan, serta budaya kerja profesional, SMKN Jateng di Semarang berharap mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap mengelola kehidupan mereka secara mandiri dan bertanggung jawab.
Penulis: Maulana Muhammad Fathul Alim, S.Pd., Guru SMKN Jateng di Semarang

Beri Komentar