SEMARANG — SMKN Jateng di Semarang menggagas program penguatan karakter dan keterampilan murid bertajuk “SMKN Jateng di Semarang Sang Juara.” Program ini diinisiasi melalui wadah Komunitas Belajar (Kombel) sebagai upaya sistematis untuk membekali murid dengan keterampilan non-teknis atau soft skills yang semakin dibutuhkan di dunia industri.
Roadmap awal program tersebut dibahas dalam sebuah pertemuan yang digelar pada Jumat, 13 Maret, di Ruang 6 Lantai 3 Gedung Pembelajaran sekolah setempat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh kepala sekolah serta 17 guru yang terlibat sebagai koordinator dan pelaksana berbagai program pengembangan murid.
Dalam forum tersebut, masing-masing koordinator memaparkan rencana aksi yang dirancang untuk memperkuat kompetensi murid, terutama dalam aspek etika kerja dan literasi keuangan. Kedua bidang ini dipandang sebagai keterampilan penting yang harus dimiliki lulusan sekolah vokasi agar mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia kerja modern.
Koordinator program Etika di Dunia Kerja, Ferry Nor Toha, menjelaskan bahwa kegiatan untuk murid kelas X akan difokuskan pada penguatan wawasan melalui talkshow inspiratif bersama alumni yang telah berkarier di berbagai sektor industri di Kota Semarang.
“Melalui talkshow ini kami ingin menghadirkan pengalaman nyata dari para alumni yang sudah bekerja. Murid bisa belajar langsung bagaimana etika profesional diterapkan di dunia kerja, sekaligus mendapatkan motivasi untuk mempersiapkan diri sejak dini,” ujar Ferry saat memaparkan rencana programnya.
Sementara itu, penguatan etika kerja bagi murid kelas XI akan dilakukan melalui simulasi proses rekrutmen kerja yang dirancang menyerupai kondisi nyata di industri. Koordinator kegiatan tersebut, Mokhamad Sabil Abdul Aziz, menegaskan bahwa pendekatan ini bertujuan menanamkan nilai integritas serta kesiapan menghadapi seleksi kerja yang kompetitif.
“Kami akan membuat simulasi sesi wawancara kerja yang cukup ketat. Murid yang belum memenuhi standar akan mengikuti sesi remedial agar mereka benar-benar memahami pentingnya sikap profesional, kejujuran, dan kesiapan mental saat menghadapi dunia kerja,” kata Sabil.
Selain penguatan etika kerja, program “Sang Juara” juga menaruh perhatian besar pada literasi keuangan. Program ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran dan kemandirian finansial murid sejak di bangku sekolah.
Koordinator literasi keuangan kelas XI, Mohamad Eri Setyo Wahyudi, menjelaskan bahwa kegiatan akan dikemas dalam bentuk workshop bersama praktisi keuangan serta pembagian buku saku pencatatan keuangan bagi murid.
“Literasi keuangan adalah keterampilan dasar yang harus dimiliki generasi muda. Melalui workshop bersama praktisi, murid akan belajar bagaimana mengelola uang secara bijak, mulai dari pencatatan pengeluaran hingga perencanaan keuangan sederhana,” jelas Eri.
Di sisi lain, pendekatan yang lebih digital akan diterapkan untuk murid kelas X. Koordinator program tersebut, Laely Rohmatin Apriliani, mengatakan bahwa kegiatan akan memanfaatkan aplikasi pencatatan keuangan serta studi kasus nyata agar murid lebih mudah memahami konsep pengelolaan keuangan.
“Kami akan menggunakan pendekatan digital agar lebih dekat dengan keseharian murid. Selain itu, kami juga akan menghadirkan studi kasus riil, misalnya bagaimana mengelola dana beasiswa atau bantuan pendidikan secara bertanggung jawab,” ungkap Laely.
Menurutnya, metode pembelajaran berbasis kasus nyata dinilai efektif untuk membangun kesadaran finansial sekaligus melatih kemampuan pengambilan keputusan yang bijak dalam mengelola uang.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd, M.Pd yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, memberikan pengarahan kepada para guru agar Komunitas Belajar tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi yang mampu melahirkan prestasi bagi sekolah.
“Kombel ini jangan hanya menjadi tempat berdiskusi. Saya berharap forum ini menjadi batu loncatan untuk menghasilkan inovasi pembelajaran dan juga prestasi, baik bagi guru maupun murid,” ujar Ardan.
Ia juga mendorong para guru untuk memanfaatkan forum tersebut sebagai sarana persiapan dalam mengikuti berbagai kompetisi pendidikan, baik di tingkat daerah maupun nasional.
Selain itu, Ardan menekankan pentingnya mendorong murid untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai ajang kompetisi yang dapat mengasah kemampuan mereka, seperti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) maupun lomba karya ilmiah yang mengangkat tema literasi keuangan.
“Kita harus membiasakan murid untuk berkompetisi secara sehat. Ajang seperti LKS atau lomba karya ilmiah bisa menjadi wadah bagi mereka untuk menunjukkan kemampuan sekaligus melatih kepercayaan diri,” katanya.
Menurut Ardan, keberhasilan pendidikan vokasi tidak hanya diukur dari kemampuan teknis, tetapi juga dari kesiapan mental, etika kerja, serta kemampuan berpikir kritis yang dimiliki oleh lulusan.
Melalui program “SMKN Jateng di Semarang Sang Juara,” pihak sekolah berharap dapat menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih kolaboratif sekaligus mempersiapkan murid menjadi generasi profesional yang unggul, berintegritas, dan siap bersaing di dunia kerja.
Program ini juga menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam memperkuat pendidikan karakter serta membangun budaya prestasi di lingkungan sekolah. Dengan dukungan penuh dari guru dan manajemen sekolah, inisiatif ini diharapkan mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi, kepemimpinan, dan literasi finansial yang kuat.
Penulis : Mokhamad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., M.Pd, Guru Bahasa Inggris SMKN Jawa Tengah di Semarang

Beri Komentar