Berita bukan sekadar rangkaian kata yang menyampaikan informasi. Ia adalah kekuatan yang mampu membentuk persepsi, mengubah arah sejarah, bahkan menentukan nasib sebuah bangsa. Dalam setiap peristiwa besar, selalu ada berita yang menjadi jantungnya — yang merekam, menafsirkan, sekaligus memengaruhi pandangan publik terhadap kenyataan. Sejarah membuktikan bahwa kekuatan berita bisa membawa pencerahan, tetapi juga bisa menjadi alat manipulasi yang menghancurkan. Artikel ini mengulas bagaimana berita telah mengubah dunia dari masa ke masa, dan bagaimana SMK Negeri 10 Semarang belajar dari sejarah tersebut untuk membangun citra positifnya di tengah tantangan informasi era digital.
Ketika berbicara tentang berita yang mengubah dunia, kita tak bisa melewatkan titik awalnya: penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada pertengahan abad ke-15. Sebelum mesin cetak ditemukan, informasi adalah barang langka dan eksklusif. Buku ditulis tangan, hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan, pendeta, atau cendekiawan. Pengetahuan terkunci dalam dinding biara dan istana. Lalu datanglah Gutenberg dengan inovasinya yang monumental — mesin cetak dengan huruf logam bergerak (movable type printing press). Sekitar tahun 1440-an, ia membuka pintu menuju demokratisasi pengetahuan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, buku dapat diproduksi massal, dan informasi menjadi milik masyarakat luas. Dari sinilah lahir surat kabar pertama, yang kemudian menandai awal dari jurnalisme modern. Dampaknya luar biasa: ide-ide Renaisans menyebar ke seluruh Eropa, gerakan Reformasi Gereja muncul, dan dunia mulai berubah oleh kekuatan kata-kata yang dicetak.
Beberapa abad kemudian, kekuatan berita kembali diuji pada peristiwa yang mengguncang dunia: pembunuhan Presiden John F. Kennedy pada 22 November 1963. Peristiwa ini bukan hanya tragedi politik, melainkan juga titik balik dalam sejarah media. Untuk pertama kalinya, dunia menyaksikan bagaimana berita disiarkan secara langsung dan serentak melalui televisi. Siaran real-time dari Dallas, Texas, membuat masyarakat Amerika — bahkan dunia — seakan hadir di lokasi kejadian. Dampaknya meluas: ketidakstabilan politik, duka nasional, dan munculnya era baru dalam jurnalisme televisi. Berita tak lagi menunggu waktu cetak; ia hadir saat itu juga, memengaruhi opini publik secara instan. Sejak saat itu, breaking news menjadi bagian dari kehidupan manusia modern.
Perang Dunia II juga menjadi salah satu bab penting dalam sejarah berita. Liputan intens melalui radio, surat kabar, dan bioskop menjadikan perang ini sebagai “perang pertama yang terdokumentasi secara massal”. Suara penyiar radio membawa suasana medan perang ke ruang tamu keluarga di seluruh dunia. Film dokumenter yang ditayangkan di bioskop membentuk kesadaran global tentang bahaya perang dan penderitaan manusia. Dari sinilah muncul pemahaman baru bahwa berita memiliki tanggung jawab moral — bukan hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menjaga kemanusiaan. Perang Dunia II mengubah geopolitik global, namun juga melahirkan kesadaran baru tentang pentingnya jurnalisme damai.
Berita juga pernah menjadi alat kekuasaan yang menyesatkan, seperti yang terjadi di Indonesia pada peristiwa 1965. Ketika itu, radio menjadi medium utama penyebaran informasi, dan sayangnya, juga menjadi alat propaganda. Manipulasi berita yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu menimbulkan kebingungan massal dan memicu kekerasan sosial yang berkepanjangan. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bahwa media bukanlah entitas netral — ia bisa menjadi alat pencerahan, tetapi juga senjata yang mematikan bila digunakan tanpa etika. Di sinilah lahir kesadaran bahwa kejujuran dan keberimbangan dalam berita adalah fondasi utama bagi perdamaian dan keadilan sosial.
Berpuluh tahun kemudian, dunia kembali menyaksikan kekuatan berita pada saat jatuhnya Tembok Berlin tahun 1989. Peristiwa yang menjadi simbol berakhirnya Perang Dingin ini tidak hanya dirayakan oleh rakyat Jerman, tetapi juga oleh seluruh dunia. Gambar-gambar yang disiarkan secara global — warga Berlin Timur dan Barat saling berpelukan di atas reruntuhan tembok — menjadi bukti bagaimana berita bisa menjadi saksi kebebasan dan persatuan. Dampaknya luar biasa: penyatuan Jerman, lahirnya negara-negara baru di Eropa Timur, dan berakhirnya tirani ideologi yang telah memisahkan manusia selama puluhan tahun. Di era itu, berita menjadi kekuatan yang membebaskan, bukan membelenggu.
Namun di abad ke-21, berita juga menghadirkan tantangan etika baru. Invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003 menjadi titik penting dalam sejarah jurnalisme perang. Untuk pertama kalinya, jurnalis berada langsung di garis depan, melaporkan pertempuran secara real-time. Dunia menyaksikan perang secara langsung dari layar televisi. Namun, di balik itu muncul perdebatan besar: apakah media hanya melaporkan fakta, atau justru memperkuat narasi politik tertentu? Kebenaran menjadi kabur di antara kepentingan global. Era ini menandai bab baru dalam etika jurnalisme — bahwa kebebasan pers harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial dan kepekaan moral.
Dari perjalanan panjang itu, kita belajar satu hal: berita tidak pernah netral terhadap sejarah. Ia bisa menjadi kekuatan pembentuk kebaikan atau keburukan, tergantung pada siapa yang mengendalikannya. Kesadaran inilah yang kini dihidupi oleh SMK Negeri 10 Semarang. Sekolah ini memahami bahwa di era digital, citra lembaga tidak hanya dibentuk oleh prestasi nyata, tetapi juga oleh bagaimana berita tentangnya disampaikan kepada publik.
Seperti halnya peristiwa besar dunia, persepsi publik terhadap SMK Negeri 10 Semarang pun pernah dibentuk oleh pemberitaan yang tidak selalu berimbang. Ada kalanya kesalahan kecil diperbesar, sementara keberhasilan tidak banyak terekspos. Dari situ sekolah belajar satu hal penting: membiarkan pihak lain mengendalikan narasi berarti menyerahkan kendali terhadap persepsi. Seperti sejarah dunia membuktikan, persepsi yang keliru bisa membentuk realitas sosial yang salah arah. Karena itu, SMK Negeri 10 Semarang memutuskan untuk membangun narasi sendiri — bukan untuk memanipulasi fakta, tetapi untuk menyeimbangkan informasi dan memberikan gambaran yang utuh tentang siapa mereka sebenarnya.
Langkah pertama yang diambil adalah membangun website resmi sekolah sebagai pusat produksi berita positif. Melalui platform ini, sekolah tidak hanya mempublikasikan kegiatan rutin, tetapi juga menampilkan kisah inspiratif tentang siswa, guru, dan tenaga kependidikan yang berprestasi. Setiap berita disusun dengan semangat jurnalisme konstruktif: menyampaikan fakta dengan akurat, berimbang, dan menginspirasi. Tujuannya bukan sekadar promosi, melainkan membangun kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan kualitas sekolah.
Selain melalui website, SMK Negeri 10 Semarang juga mengoptimalkan berbagai kanal komunikasi digital. Grup WhatsApp warga sekolah digunakan untuk mempercepat penyebaran informasi internal, sementara media sosial seperti Instagram dan Facebook menjadi sarana berbagi berita positif secara lebih luas. Setiap konten disusun dengan bahasa yang ramah, visual yang menarik, dan pesan yang menggugah. Strateginya sederhana namun efektif: menyusun dan menyebarkan berita positif secara konsisten, agar publik melihat bahwa sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat tumbuhnya karakter, kreativitas, dan inovasi.
Upaya membangun citra positif ini bukan berarti menutupi kekurangan. Justru sebaliknya, SMK Negeri 10 Semarang berkomitmen untuk selalu terbuka terhadap kritik dan menjadikannya bahan refleksi. Transparansi menjadi bagian dari strategi komunikasi yang sehat. Dengan mengelola berita secara bertanggung jawab, sekolah berharap bisa menciptakan ruang dialog yang konstruktif antara lembaga pendidikan dan masyarakat.
Akhirnya, sejarah dunia dan pengalaman lokal bertemu dalam satu pelajaran besar: berita bisa mengubah dunia — dan juga bisa mengubah citra sebuah sekolah. Dari Gutenberg hingga era digital, dari revolusi informasi hingga strategi komunikasi sekolah, semuanya menunjukkan bahwa siapa yang menguasai narasi, dialah yang menguasai persepsi.
SMK Negeri 10 Semarang memilih untuk menjadi pengendali narasi positifnya sendiri. Dengan semangat keterbukaan dan profesionalisme, sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan bukan hanya tentang mengajar, tetapi juga tentang membangun kepercayaan publik. Karena pada akhirnya, seperti halnya sejarah besar dunia, citra positif tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kesadaran untuk menulis dan menyebarkan kebenaran dengan bijak.
Maka, mari kita dukung SMK Negeri 10 Semarang dalam upayanya membangun narasi positif demi masa depan pendidikan yang lebih baik. Sebab seperti yang pernah dikatakan oleh seorang jurnalis legendaris: “Kebenaran yang diceritakan dengan baik akan selalu lebih kuat daripada kebohongan yang diulang-ulang.”
Berita SMK Negeri 10 Semarang bisa dibaca disini
Penulis : Ardan Sirodjuddin, M.Pd, Kepala SMK Negeri 10 Semarang.

Beri Komentar