SEMARANG — Suasana khidmat menyelimuti kegiatan Ibadah Minggu yang digelar di Gereja Baptis Indonesia Jatisari, Jalan Jatisari RT 5 RW 13, Kelurahan Gisikdrono, Kecamatan Semarang Barat, pada Minggu (8/3/2026) pagi. Ibadah yang berlangsung pukul 07.00 hingga 08.30 WIB tersebut dipimpin oleh Pendeta Indriyanto S.Th dengan mengangkat tema “Terang Kristus Mengubah Karakter” yang diambil dari kitab Yehezkiel 36:26.
Kegiatan ibadah diikuti oleh lima peserta yang seluruhnya merupakan siswa kelas XI, yakni Bagas Afit Wicaksono, Amanda, Kornelius Johan, Anjas Prasetya, dan Rafael. Meski jumlah peserta tidak banyak, ibadah berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan perhatian dari para peserta yang mengikuti setiap rangkaian kegiatan mulai dari pujian, doa, hingga penyampaian firman.
Dalam khotbahnya, Pendeta Indriyanto menekankan pentingnya perubahan karakter dalam kehidupan setiap orang percaya. Ia menjelaskan bahwa terang Kristus memiliki kuasa untuk mengubah hati manusia yang sebelumnya keras menjadi lembut dan peka terhadap kehendak Tuhan.
“Firman Tuhan dalam Yehezkiel 36:26 menyatakan bahwa Tuhan akan memberikan hati yang baru dan roh yang baru dalam diri kita. Artinya, perubahan yang sejati dimulai dari hati yang diubahkan oleh Tuhan,” ujar Pdt. Indriyanto dalam khotbahnya di hadapan jemaat.
Menurutnya, perubahan hati merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter seseorang. Hati yang telah diterangi oleh terang Kristus akan memengaruhi cara berpikir, sikap, serta tindakan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Pendeta Indriyanto juga menjelaskan bahwa terang Kristus tidak hanya mengubah hati, tetapi juga membawa perubahan dalam perilaku manusia. Ia menegaskan bahwa seseorang yang telah mengalami perubahan dari dalam seharusnya mampu menunjukkan perubahan tersebut melalui tindakan nyata.
“Jika hati kita sudah diubahkan oleh Tuhan, maka perilaku kita juga akan berubah. Kita akan lebih sabar, lebih mengasihi sesama, dan berusaha hidup sesuai dengan kehendak Tuhan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa perubahan karakter tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan komitmen dan kesungguhan dari setiap individu untuk terus hidup dalam terang Kristus.
“Perubahan karakter memerlukan komitmen. Kita harus mau terus belajar, berproses, dan hidup dalam firman Tuhan. Tanpa komitmen, perubahan itu tidak akan bertahan lama,” jelasnya.
Di akhir khotbahnya, Pendeta Indriyanto mengingatkan bahwa perubahan karakter sejati bukanlah semata-mata hasil usaha manusia, melainkan karya Tuhan yang bekerja dalam kehidupan setiap orang.
“Tuhanlah yang mengubah karakter seseorang, bukan semata-mata hasil usaha kita. Perubahan berasal dari dalam hati yang disentuh oleh Tuhan dan kemudian diwujudkan melalui perilaku kita sehari-hari,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa setiap orang perlu membuka hati dan memberikan ruang bagi Tuhan untuk bekerja dalam kehidupannya.
Sementara itu, salah satu peserta ibadah, Bagas Afit Wicaksono, mengaku bersyukur dapat mengikuti ibadah tersebut dan merasa mendapat penguatan rohani dari pesan yang disampaikan.
“Khotbahnya sangat mengingatkan kami bahwa perubahan harus dimulai dari hati. Kami sebagai pelajar juga perlu belajar memperbaiki sikap dan karakter,” kata Bagas.
Hal senada disampaikan oleh Kornelius Johan yang mengatakan bahwa pesan tentang komitmen dalam perubahan karakter menjadi hal yang penting bagi dirinya.
“Sering kali kita ingin berubah tapi tidak konsisten. Dari khotbah tadi saya belajar bahwa perubahan harus disertai komitmen supaya bisa benar-benar terlihat dalam perilaku kita,” ujarnya.
Selama ibadah berlangsung, para peserta terlihat mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian. Mereka juga aktif dalam pujian dan doa yang menjadi bagian dari rangkaian ibadah pagi tersebut.
Kegiatan Ibadah Minggu ini diharapkan dapat menjadi sarana pembinaan iman bagi para peserta, khususnya generasi muda, agar semakin memahami pentingnya perubahan karakter yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan.
Dengan tema “Terang Kristus Mengubah Karakter”, ibadah ini mengingatkan bahwa perubahan hidup yang sejati tidak hanya terjadi melalui usaha manusia semata, tetapi melalui karya Tuhan yang bekerja di dalam hati setiap orang. Perubahan tersebut kemudian tercermin dalam sikap, perilaku, serta komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Tuhan beserta kita semua
Beri Komentar