SEMARANG – Berbagi Praktik Baik GTK SMKN Jateng di Semarang kembali digelar sebagai ruang belajar bersama untuk memperkuat penerapan nilai dasar Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Mengangkat tema Core Value ASN “Adaptif”, kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 25 September 2026, pukul 13.00–14.00 WIB di Ruang AVA SMKN Jateng di Semarang ini diikuti kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta mahasiswa Lantip 8 Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber dari lingkungan SMKN Jateng di Semarang, yakni Sukanti Oktaviana, staf Klinik SMKN Jateng di Semarang, Ferry Nor Toha, guru SMKN Jateng di Semarang, serta Deviana, guru pamong SMKN Jateng di Semarang. Ketiganya berbagi perspektif dan praktik nyata mengenai bagaimana nilai Adaptif dapat diterapkan sesuai dengan peran masing-masing dalam mendukung layanan pendidikan.
Dalam pemaparannya, Ferry Nor Toha menegaskan bahwa sikap adaptif merupakan bagian penting dari nilai ASN BerAKHLAK. Menurutnya, adaptif tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan mengikuti perubahan, tetapi juga mencakup kemauan untuk terus belajar, mencoba pendekatan baru, serta mengambil inisiatif dalam menghadirkan solusi.
“Adaptif berarti cepat belajar, berani mencoba cara baru, dan proaktif menghadirkan solusi yang relevan,” papar Ferry dalam kegiatan Berbagi Praktik Baik GTK SMKN Jateng di Semarang.
Ferry menjelaskan, ASN memiliki peran penting dalam menghadapi perubahan sekaligus menjadi bagian dari penggerak perubahan. Dalam konteks pelayanan publik, sikap adaptif diperlukan agar setiap aparatur mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi tanpa kehilangan arah dan tujuan utama pelayanan.
Ia memaparkan bahwa terdapat sejumlah perilaku yang mencerminkan nilai adaptif, antara lain cepat menyesuaikan diri menghadapi perubahan, terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas, serta bertindak proaktif untuk mengantisipasi kebutuhan dan permasalahan.
Bagi lingkungan sekolah menengah kejuruan, sikap tersebut semakin relevan karena SMK berada pada pertemuan antara dunia pendidikan, perkembangan teknologi, kebutuhan industri, dan layanan tumbuh kembang peserta didik. Perubahan yang berlangsung cepat menuntut seluruh warga sekolah untuk terus memperbarui pengetahuan, keterampilan, serta cara bekerja.
Menurut Ferry, perkembangan teknologi menjadi salah satu alasan penting mengapa sikap adaptif perlu dibangun secara bersama-sama. Media pembelajaran, sistem administrasi, pola komunikasi, hingga praktik kerja terus mengalami perkembangan. Warga sekolah dituntut tidak berhenti pada cara-cara lama, tetapi mampu mengevaluasi dan memperbarui metode kerja sesuai kebutuhan.
Di sisi lain, dunia industri juga membutuhkan talenta yang siap menghadapi perubahan. Karena itu, pembelajaran dan layanan karier di SMK perlu responsif terhadap perkembangan kompetensi, budaya kerja, serta peluang baru yang muncul di dunia kerja.
“Kita tetap berpegang pada tujuan pendidikan, tetapi harus berani memperbaiki cara untuk mencapai tujuan tersebut,” jelas Ferry.
Ia menambahkan bahwa kebutuhan peserta didik yang beragam juga membutuhkan pendekatan yang responsif. Layanan pembelajaran, pendampingan, kesehatan, maupun berbagai bentuk pelayanan lainnya perlu disesuaikan dengan kondisi nyata yang dihadapi siswa.
Dalam sesi tersebut, Ferry juga mengajak peserta untuk memulai budaya adaptif dari langkah-langkah sederhana. Menurutnya, perubahan tidak selalu harus diawali dengan program besar. Kebiasaan belajar, mencoba perbaikan, dan melakukan evaluasi secara konsisten dapat menjadi fondasi terbentuknya budaya adaptif di lingkungan sekolah.
Ia menawarkan kerangka aksi A-D-A-P-T yang dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari. Huruf A pertama berarti Analyze, yakni menganalisis tren industri dan kebutuhan siswa. D berarti Design, yaitu merancang inovasi layanan yang digital dan fleksibel. A kedua adalah Act, yakni mengeksekusi aksi nyata secara proaktif. P berarti Partner, yaitu memperluas kolaborasi dengan industri mitra. Sementara T berarti Transform, yakni mewujudkan ekosistem SMK yang unggul dan berkelanjutan.
Kerangka tersebut menempatkan nilai adaptif bukan sekadar konsep, melainkan sebagai kebiasaan yang dapat diterapkan dalam pekerjaan. Setiap warga sekolah didorong untuk belajar hal baru yang mendukung layanan, membawa gagasan perbaikan dari permasalahan yang ditemukan, serta menindaklanjuti perubahan melalui evaluasi yang sederhana dan terbuka.
Sementara itu, Sukanti Oktaviana membagikan praktik penerapan nilai adaptif dari perspektif layanan kesehatan sekolah. Sebagai staf Klinik SMKN Jateng di Semarang, ia menjelaskan bahwa layanan kesehatan di sekolah membutuhkan respons cepat sekaligus pendekatan preventif agar keselamatan dan kesehatan peserta didik dapat terjaga.
Dalam praktiknya, sikap adaptif dapat diwujudkan dengan memutakhirkan prosedur layanan sesuai kondisi kesehatan siswa, protokol sekolah, dan informasi kesehatan yang terpercaya. Pemanfaatan pencatatan sederhana berbasis digital juga dapat membantu petugas memantau kunjungan, kebutuhan pertolongan pertama, serta tindak lanjut layanan.
“Layanan kesehatan sekolah perlu tanggap terhadap situasi dan terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik,” ujar Sukanti saat memaparkan praktik baik layanan klinik sekolah.
Selain memberikan layanan ketika siswa mengalami gangguan kesehatan, klinik sekolah juga dapat mengambil peran dalam upaya preventif. Edukasi mengenai kesehatan mental, gizi, kebersihan, dan keselamatan kerja dapat dikemas secara kreatif agar lebih mudah diterima oleh peserta didik.
Praktik adaptif juga dibagikan oleh Deviana, guru pamong SMKN Jateng di Semarang. Ia menyoroti peran guru pamong sebagai penghubung antara rencana pembelajaran, kebutuhan peserta didik, budaya sekolah, dan dinamika praktik di lapangan.
Menurut Deviana, pendampingan peserta didik tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua siswa. Guru pamong perlu menyesuaikan strategi berdasarkan kebutuhan, gaya belajar, dan perkembangan masing-masing peserta didik.
“Pendampingan harus relevan dengan kondisi dan perkembangan peserta didik. Karena itu, guru perlu mampu membaca kebutuhan siswa dan menyesuaikan strategi yang digunakan,” kata Deviana.
Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari praktik adaptif yang dapat dilakukan guru pamong. Platform digital dapat digunakan untuk memberikan umpan balik, mendokumentasikan perkembangan peserta didik, serta mempercepat komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendampingan.
Deviana juga menekankan pentingnya kemampuan mengidentifikasi hambatan belajar sejak dini. Ketika permasalahan ditemukan lebih awal, guru pamong dapat merancang solusi bersama guru mata pelajaran maupun wali kelas sehingga pendampingan dapat dilakukan secara lebih terarah.
Berbagi Praktik Baik GTK SMKN Jateng di Semarang tersebut pada akhirnya menjadi ruang refleksi bahwa nilai Adaptif dapat diterapkan dalam berbagai bidang pelayanan sekolah. Guru, tenaga kependidikan, maupun pengelola layanan sekolah memiliki ruang yang sama untuk melakukan perbaikan sesuai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Kegiatan ini juga menjadi sarana mempertemukan pengalaman praktis para GTK dengan peserta, termasuk mahasiswa Lantip 8 Unnes yang sedang menjalani proses pembelajaran dan pengalaman lapangan. Melalui berbagi praktik baik, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual mengenai nilai ASN BerAKHLAK, tetapi juga melihat contoh penerapannya dalam situasi nyata di lingkungan sekolah.
Nilai Adaptif pada akhirnya bukan sekadar kemampuan mengikuti perubahan. Lebih dari itu, adaptif merupakan kemauan untuk terus belajar, keberanian mencoba cara baru, dan kesiapan mengambil langkah sebelum persoalan berkembang menjadi lebih besar.
Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam membangun layanan pendidikan yang responsif. Dengan budaya belajar dan perbaikan yang dilakukan secara berkelanjutan, setiap unsur di SMKN Jateng di Semarang diharapkan mampu menghadirkan layanan yang semakin relevan dengan kebutuhan peserta didik, perkembangan teknologi, serta tuntutan dunia kerja.
ASN adaptif adalah ASN yang siap belajar, berani berubah, dan berupaya menghadirkan dampak nyata melalui tugas pelayanan yang dijalankannya. Semangat inilah yang menjadi pesan utama dalam kegiatan Berbagi Praktik Baik GTK SMKN Jateng di Semarang.

Beri Komentar