Rabu, 30-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Berbakti kepada Orang Tua, Jalan Menuju Ridha Allah dan Keberkahan Hidup

Diterbitkan : Kamis, 1 Oktober 2026

Berbakti kepada orang tua merupakan salah satu kewajiban terbesar seorang anak dalam ajaran Islam. Kewajiban ini bukan sekadar bentuk balas budi atas kasih sayang dan pengorbanan yang telah diberikan, melainkan bagian dari ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Sejak seorang anak dilahirkan hingga tumbuh dewasa, orang tua menjadi sosok yang senantiasa hadir dengan cinta, perhatian, doa, dan pengorbanan yang sering kali tidak terhitung nilainya.

Kewajiban berbakti kepada orang tua juga tidak berhenti ketika seorang anak telah dewasa, memiliki keluarga, atau hidup mandiri. Selama orang tua masih hidup, kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka terbuka luas. Bahkan ketika mereka telah wafat, seorang anak tetap memiliki kewajiban moral dan agama untuk mendoakan serta meneruskan kebaikan yang dapat menjadi amal bagi keduanya.

Di antara kedua orang tua, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kedudukan seorang ibu. Ibu mengandung selama berbulan-bulan dengan segala kepayahan, mempertaruhkan tenaga dan bahkan nyawanya ketika melahirkan, kemudian menyusui, merawat, menjaga, serta mendidik anak dengan penuh kasih sayang. Banyak pengorbanan seorang ibu yang dilakukan tanpa mengharap imbalan. Karena itu, berbakti kepada ibu bukan sekadar membalas jasa, sebab kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah benar-benar mampu dibayar dengan materi.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan manusia tentang kewajiban berbakti kepada kedua orang tua. Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 14:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”

Ayat tersebut memperlihatkan betapa erat hubungan antara kewajiban beribadah kepada Allah dan kewajiban berbuat baik kepada orang tua. Setelah manusia diperintahkan untuk bersyukur kepada Allah, ia juga diperintahkan untuk bersyukur kepada kedua orang tuanya. Ini menunjukkan bahwa bakti kepada orang tua bukan perkara kecil dalam kehidupan seorang Muslim.

Secara khusus, ayat tersebut menggambarkan perjuangan seorang ibu. Kehamilan digambarkan sebagai kondisi yang penuh kelemahan dan bertambahnya kepayahan. Setelah itu, seorang ibu harus melewati proses persalinan, menyusui, merawat, dan mendampingi pertumbuhan anak. Gambaran tersebut menjadi pengingat bahwa di balik tumbuhnya seorang anak terdapat pengorbanan orang tua yang tidak boleh dilupakan.

Bakti kepada orang tua pada hakikatnya merupakan bagian dari rasa syukur. Seorang anak yang menyadari betapa besar perjuangan orang tuanya akan memahami bahwa keberadaannya di dunia tidak terlepas dari jasa mereka. Karena itu, menghormati, membantu, menjaga perasaan, dan mendoakan orang tua semestinya menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.

Rasulullah SAW juga memberikan penegasan mengenai pentingnya keridhaan orang tua. Dalam hadis yang masyhur disebutkan, “Keridhaan Allah tergantung keridhaan orang tua, dan murka Allah tergantung murka orang tua.” Pesan tersebut menegaskan betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan kedua orang tua. Ridha orang tua menjadi salah satu jalan yang mengantarkan seorang anak kepada ridha Allah SWT.

Pesan tersebut juga begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. H. Rhoma Irama, misalnya, pernah mengabadikan pesan serupa dalam syair lagunya: “Ridho Ilahi karena ridho-Nya, murka Ilahi karena murka-Nya.” Syair tersebut menunjukkan bagaimana pesan keagamaan tentang hubungan antara ridha Allah dan ridha orang tua telah hidup dalam budaya populer dan mudah diterima masyarakat.

Namun, berbakti kepada orang tua tidak hanya diwujudkan dengan memberikan uang, memenuhi kebutuhan mereka, atau menyediakan fasilitas kehidupan. Islam juga mengajarkan adab yang sangat halus dalam memperlakukan orang tua, termasuk dalam berbicara dan bersikap.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 23:

“Maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Perintah tersebut menunjukkan betapa tinggi penghormatan yang harus diberikan kepada orang tua. Bahkan ungkapan kecil yang menunjukkan kejengkelan pun dilarang. Jika mengatakan “ah” saja tidak diperbolehkan, tentu perkataan yang lebih kasar, bentakan, penghinaan, atau tindakan yang menyakiti hati orang tua lebih patut untuk dihindari.

Dalam kehidupan sehari-hari, larangan tersebut memiliki makna yang sangat luas. Seorang anak perlu menjaga intonasi ketika berbicara dengan orang tua, tidak memotong pembicaraan dengan kasar, tidak menunjukkan kejengkelan, dan tidak mempermalukan mereka di hadapan orang lain. Perbedaan pendapat pun hendaknya disampaikan dengan bahasa yang santun. Berbeda pandangan bukan alasan untuk kehilangan rasa hormat.

Bakti kepada orang tua juga dapat diwujudkan melalui perkara-perkara sederhana. Ketika orang tua masih hidup, seorang anak dapat membantu pekerjaan mereka, memenuhi kebutuhan sesuai kemampuan, menemani ketika membutuhkan, merawat ketika sakit, serta mendengarkan cerita dan keluh kesah mereka. Terkadang, yang paling dibutuhkan orang tua bukanlah sesuatu yang mahal, melainkan kehadiran anak, perhatian, dan waktu yang tulus.

Di tengah kesibukan kehidupan modern, perhatian kepada orang tua sering kali menjadi sesuatu yang tanpa sadar terabaikan. Anak sibuk bekerja, mengejar karier, mengurus keluarga, atau menjalani berbagai aktivitas. Komunikasi dengan orang tua pun terkadang hanya dilakukan ketika ada keperluan. Padahal, satu panggilan telepon, kunjungan singkat, menanyakan kabar, atau sekadar duduk bersama dapat menjadi bentuk kebahagiaan yang sangat berarti bagi orang tua.

Menjaga perasaan orang tua juga merupakan bagian dari bakti. Seorang anak hendaknya tidak membuat mereka merasa tidak dibutuhkan setelah anak tumbuh dewasa. Sebaliknya, orang tua perlu tetap dihargai sebagai bagian penting dalam kehidupan keluarga. Selama tidak bertentangan dengan ajaran Allah, nasihat mereka patut didengarkan dan dihormati.

Lalu bagaimana jika orang tua telah meninggal dunia? Apakah kesempatan untuk berbakti telah berakhir? Tidak. Seorang anak masih dapat menunjukkan baktinya dengan mendoakan mereka, memohonkan ampunan kepada Allah, bersedekah atas nama mereka, melanjutkan kebaikan yang pernah mereka lakukan, serta menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sahabat-sahabat orang tua.

Menjaga silaturahmi dengan orang-orang yang dahulu dekat dengan orang tua juga menjadi bentuk penghormatan yang sangat berarti. Seorang anak dapat tetap menyambung hubungan dengan kerabat, sahabat, atau orang-orang yang pernah berjasa dalam kehidupan orang tuanya. Dengan demikian, kebaikan orang tua tidak terputus begitu saja setelah mereka meninggalkan dunia.

Bakti kepada orang tua pada akhirnya bukan hanya tentang hubungan antara anak dan orang tua. Lebih jauh, ia merupakan bagian dari perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT. Setiap bantuan yang diberikan dengan ikhlas, setiap perkataan lembut yang disampaikan, setiap kesulitan orang tua yang diringankan, dan setiap doa yang dipanjatkan untuk mereka dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.

Karena itu, berbakti kepada orang tua seharusnya tidak dilakukan hanya ketika membutuhkan doa mereka atau ketika sedang menghadapi kesulitan. Bakti merupakan kewajiban yang dijalankan dengan kesadaran bahwa orang tua adalah amanah yang harus dihormati. Ketika kesempatan itu masih ada, jangan menunggu sampai kehilangan baru kemudian menyadari betapa berharganya kehadiran mereka.

Pada akhirnya, berbakti kepada orang tua merupakan perintah yang memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW. Allah SWT memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, sementara Rasulullah SAW menegaskan pentingnya menjaga keridhaan mereka. Islam bahkan memberikan tuntunan yang sangat rinci tentang bagaimana seorang anak berbicara dan bersikap kepada orang tua.

Ridha orang tua menjadi salah satu jalan menuju ridha Allah. Karena itu, selama tidak bertentangan dengan perintah Allah, seorang anak hendaknya berusaha menjaga hati kedua orang tuanya, memperlakukan mereka dengan lembut, membantu mereka dengan ikhlas, serta tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbuat baik.

Berbakti kepada orang tua bukanlah beban, melainkan kesempatan besar untuk meraih keberkahan hidup. Anak yang senantiasa berusaha memuliakan orang tuanya akan belajar tentang keikhlasan, kesabaran, rasa syukur, dan kasih sayang. Di situlah bakti kepada orang tua menjadi ibadah yang tidak hanya menghadirkan ketenangan hati, tetapi juga menjadi jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT dan keselamatan di dunia maupun akhirat.

Penulis : Munjawir, S.Ag, Guru Pendidikan Agama Islam SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan