Senin, 19-10-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Memandang Komunikasi Guru dan Murid dengan Interactional Sociolinguistic

Diterbitkan : Senin, 19 Oktober 2026

Komunikasi menjadi bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia. Dalam komunikasi, bahasa menjadi alat yang menghubungkan ide-ide antarmanusia. Dalam dunia pendidikan, bahasa menjadi jembatan komunikasi antara guru dan murid dalam pembelajaran. Bahkan, dapat dikatakan bahasa adalah alat utama dalam menghubungkan pemikiran guru dengan pemikiran murid, baik secara lisan, maupun tertulis.

Dalam komunikasi ini, terjadi interaksi antara guru dan murid. Dua generasi yang berbeda dengan kemungkinan perbedaan budaya, pola pikir, dan latar belakang lainnya diharuskan berinteraksi dan mampu memahami satu sama lainnya. Gap antara dua generasi ini akan menjadi salah satu tantangan dalam berkomunikasi antara guru dan murid.

Sosiolinguistik, sebagai cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, menawarkan perspektif penting dalam memahami bagaimana variasi bahasa muncul di lingkungan sekolah sebagai akibat dari pola-pola sosial penggunanya. Komunikasi yang efektif antara guru dan murid bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan sebuah proses sosial yang kompleks yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya, status, dan konteks situasional.

Salah satu bentuk sosiolinguistik yang dapat digunakan untuk mempelajari interaksi komunikasi antara guru dan murid ini adalah interactional sociolinguistic. Menurut Gumperz, interactional sociolinguistic merupakan analisis wacana/tuturan, baik lisan, maupun tulis, yang berusaha yang menjelaskan kemampuan kita untuk mengintepretasi apa yang ingin disampaikan oleh partisipan dalam praktik komunikasi sehari-hari. Bailey dan Schiffrin juga menambahkan bahwa dalam interactional sociolinguistic ini ada penanda-penanda yang digunakan dan mempertahankan hubungan yang lebih makrososiologis, seperti dialek, kelompok etnis, dan proses diferensiasi sosial, seperti penggunaan kata seru, konjungsi, campur kode, alih kode, dan penanda lainnya.

Perbedaan Peran Sosial

Dalam interaksi dan komunikasi di lingkungan sekolah, baik dalam pembelajaran di kelas, maupun dalam interaksi lainnya, ada peran sosial untuk masing-masing individu. Peran sosial yang menonjol di lingkungan sekolah adalah peran sebagai guru dan murid.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menyebutkan bahwa guru wajib memiliki empat kompetensi, yaitu pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi itu akan membentuk peran guru di sekolah.

Kompetensi pedagogik akan membentuk peran guru sebagai pendidik. Sebagai pendidik, artinya guru akan melaksanakan kegiatan mendidik murid, mulai dari memfasilitasi kebutuhan murid terhadap ilmu pengetahuan hingga mendampingi pembentukan karakter murid. Dari sinilah, terbentuk interaksi intensif antara guru dan murid. Bagaimana guru menempatkan dirinya dalam pembelajaran dan memfasilitasi segala sesuatu yang dibutuhkan murid dalam pembelajaran menjadi dasar peran ini terbentuk.

Peran guru selanjutnya adalah ahli dalam materi yang diajarkan. Peran ini muncul dari kompetensi profesional guru, yaitu guru harus mampu menjelaskan materi sesuai dengan kompetensi yang diajarkan, misalnya guru produktif teknik mesin harus mampu menjelaskan hal-hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik secara teori, maupun praktik kepada murid yang diajarnya.

Guru memiliki peran sebagai anggota masyarakat dengan kompetensi sosial. Kompetensi ini menempatkan guru dalam status sosial di sekolah. Status sosial ini dapat berubah berkaitan dengan situasi dan kondisi, bergantung apa dan siapa yang dihadapi guru. Ketika di kelas, status sosial guru menjadi pemateri, fasilitator, dan evaluator. Ketika di luar kelas, guru dapat berubah menjadi orang tua, teman, atau pembimbing murid, bahkan bisa menjadi rekan kerja.

Melalui kompetensi kepribadian, guru dapat menunjukkan perannya sebagai individu mandiri. Guru dapat berekspresi sebagai individu, menunjukkan bakat dan minatnya, atau mengembangkan pola pikirnya sendiri. Karakter guru dilihat dari kepribadian yang dimilikinya. Sebagai individu yang mandiri, guru akan dipandang sebagai pribadi yang dibedakan dengan pribadi yang lain.

Sementara itu, murid di sekolah pun memiliki peran yang beragam. Pertama, murid sebagai murid yang memiliki kewajiban untuk belajar dan mematuhi peraturan sekolah. Peran ini memungkinkan murid untuk mendapatkan fasilitas belajar yang baik, tetapi juga menimbulkan konsekuensi dan tanggung jawab murid terhadap sekolah.

Peran kedua murid adalah sebagai anak. Seperti anak pada umumnya, murid masih memiliki jiwa yang bergantung pada orang yang lebih dewasa. Mereka akan cenderung manja, melakukan kesalahan, atau memberontak dari aturan.

Murid juga memiliki peran sebagai individu mandiri. Sama dengan guru, sebagai individu mandiri, murid memiliki kebebasan individu, hak dan kewajiban, serta pribadi yang berbeda dengan pribadi yang lain.

Memperpendek Gap Generasi dengan Kajian Interactional Sociolinguistic

Gap generasi antara guru dan murid tidak dapat dipungkiri berasal dari perbedaan peran sosial yang dibawa secara alamiah oleh guru dan murid. Perbedaan peran sosial ini juga didasari oleh perbedaan fisik, seperti tinggi dan berat badan, perbedaan usia, perbedaan pola pikir, perbedaan latar belakang, dan perbedaan lainnya.

Perbedaan-perbedaan tersebut akan menimbulkan gesekan-gesekan saat terjadi interaksi antara guru dan murid. Dua generasi yang berbeda, tumbuh dalam lingkungan yang berbeda, tentu saja memiliki gap yang cukup tajam. Di sinilah komunikasi yang efektif menjadi kunci agar gap kedua generasi ini dapat dipersempit.

Komunikasi efektif untuk mempersempit gap generasi dapat dilakukan dengan menerapkan hal-hal yang berkaitan dengan sosiolinguistik interaksional (interasctional sociolinguistic). Beberapa kajian interactional sociolinguistic yang bisa digunakan untuk memperpendek gap generasi ini adalah sebagai berikut.

Pertama Menggunakan Pilihan Kode (Code-Switching & Code-Mixing). Code-switching (alih kode) merupakan perubahan bahasa, baik berupa ragam bahasa, maupun jenis bahasa dalam percakapan. Sementara itu, code-mixing (campur kode) merupakan pencampuran bahasa, baik ragam bahasa, maupun jenis bahasa dalam percakapan. Dalam konteks interaksi antara guru dan murid, alih kode dan campur kode ini dapat digunakan untuk mempermudah pemahaman konteks pembicaraan atau menjelaskan tujuan pembicaraan sehingga komunikasi dua arah dapat terjadi lebih efektif dan efisien.

Misalnya, dalam percakapan antarpersonal, guru tidak perlu memaksakan diri menggunakan semua bahasa gaul murid—hal ini justru bisa terasa tidak natural. Murid pun tak perlu memaksakan diri untuk terus menggunakan alur formal yang biasa digunakan guru. Namun, fleksibilitas dalam beralih kode (code-switching) dari ragam formal saat menyampaikan materi ke ragam yang lebih santai saat diskusi informal dapat meruntuhkan dinding pembatas. Langkah ini memberi sinyal bahwa guru terbuka terhadap dunia murid.

Dalam penyampaian materi pembelajaran, guru dapat melakukan alih kode dari Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris ke Bahasa Jawa agar murid lebih memahami materi pembelajaran yang sulit dipahami murid jika diberikan dalam bahasa awal. Alih kode dan campur kode ini akan mengubah kecemasan murid dalam pembelajaran menjadi lebih rileks karena komunikasi tidak terhambat.

Kedua Penguasaan Alignment dan Footing (Goffman). Kajian interactional sociolinguistics ini dikemukakan oleh Goffman. Goffman memandang bahwa hubungan diri kita dengan masyarakat akan membentuk proses sosial dalam interaksi sosial yang pada akhirnya menciptakan tatanan dan stabilitas sosial melalui peran sosial, status sosial, dan identitas sosial.

Footing merujuk pada posisi atau peran yang diambil seseorang dalam sebuah interaksi. Jika guru selalu mengambil footing sebagai otoritas tunggal yang menggurui, murid akan cenderung menarik diri. Mengubah footing menjadi pendengar, fasilitator, atau rekan diskusi akan menciptakan ruang aman (safe space) bagi murid untuk mengekspresikan pikiran mereka tanpa takut dihakimi.

Melalui kesadaran alignment dan footing masing-masing peran sosial guru, maupun murid inilah yang akan menempatkan guru dan murid mengubah penggunaan bahasanya sehingga komunikasi akan berjalan lancar tanpa menjadikan interaksi sosial sebagai sebuah kesalahpahaman.

Ketiga Kepekaan Terhadap Turn-Taking (Pola Giliran Bicara/Alih Tutur). Alih tutur, disebut juga pola giliran bicara atau turn taking, merupakan faktor kunci dalam percakapan yang memastikan proses pertukaran peran antara penutur dan mitra tutur berjalan lancar. Alih tutur ini memungkinkan pembicara dan pendengar saling mengubah peran dalam percakapan sehingga tidak terjadi monopoli dalam percakapan. Pengubahan peran ini dapat melalui pemberian petunjuk, isyarat, dan lainnya.

Generasi muda menyukai pola komunikasi yang interaktif dan partisipatif. Pola pengajaran satu arah membuat mereka cepat merasa bosan. Dengan memberikan jeda yang cukup dan respon yang mengindikasikan bahwa suara mereka didengar, guru sedang membangun co-construction of meaning (pembentukan makna bersama) di dalam kelas.

Keempat Mengurai Hambatan Kesantunan (Politeness Strategies). Kesantunan dalam interactional sociolinguistic dipandang sebagai proses dinamis yang dinegosiasikan oleh penutur dan mitra tutur selama interaksi berlangsung, bukan sekadar aturan tata krama yang kaku.

Menurut teori kesantunan Brown & Levinson, guru dan murid perlu saling menjaga face (citra diri sosial). Guru perlu memahami bahwa gaya komunikasi murid yang terkesan santai sering kali bukan bertujuan merendahkan otoritas guru (face-threatening act), melainkan bentuk kesantunan positif (positive politeness) untuk menunjukkan rasa memiliki dan keakraban.

Kesenjangan generasi (gap generations) di kelas bukanlah takdir yang tidak bisa diubah, melainkan tantangan komunikasi yang bisa diurai. Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip Interactional Sociolinguistics, guru dan murid dapat belajar saling membaca “petunjuk” linguistik masing-masing. Guru memahami konteks sosial di balik cara tutur murid, sememtara murid dibimbing untuk memahami norma berbahasa yang tepat, maka interaksi di dalam kelas tidak lagi menjadi arena perbenturan generasi, melainkan ruang kolaborasi yang kaya dan harmonis.

Penulis : Daning Wahyu Rokhana, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan