Kamis, 24-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menghidupkan Kembali Hikayat melalui Pembelajaran Kontekstual Berbasis Problem Based Learning

Diterbitkan : Jumat, 25 September 2026

Pembelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang kelas X tidak semata-mata diarahkan pada kemampuan murid memahami struktur, unsur kebahasaan, dan kaidah penggunaan bahasa. Lebih dari itu, pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan murid memahami nilai-nilai kehidupan yang tercermin dalam berbagai karya sastra. Salah satu materi yang dapat menjadi ruang untuk mencapai tujuan tersebut adalah teks hikayat atau cerita rakyat. Melalui pembelajaran hikayat, murid tidak hanya diperkenalkan pada cerita-cerita tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga diajak menggali nilai moral, sosial, budaya, dan kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Hikayat merupakan bagian dari kekayaan sastra Indonesia yang menyimpan berbagai gambaran tentang kehidupan masyarakat pada masa lalu. Di dalamnya terdapat tokoh, peristiwa, konflik, serta nilai-nilai yang dapat menjadi bahan pembelajaran karakter. Namun, pembelajaran hikayat sering kali menghadapi tantangan ketika murid memandang cerita lama sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Bahasa yang digunakan, latar kehidupan masyarakat masa lalu, serta pola pikir yang berbeda dengan kehidupan sekarang dapat membuat murid merasa bahwa hikayat hanya sekadar materi yang harus dibaca dan dipelajari untuk memenuhi tuntutan pembelajaran.

Karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang mampu menjembatani dunia cerita dalam hikayat dengan realitas kehidupan murid. Salah satu model yang dapat digunakan adalah Problem Based Learning (PBL). Model ini memberikan kesempatan kepada murid untuk belajar melalui permasalahan yang dekat dengan kehidupan mereka. Murid tidak hanya diminta membaca dan memahami isi hikayat, tetapi juga diajak menemukan persoalan, menganalisis nilai yang terkandung di dalam cerita, serta menghubungkannya dengan kehidupan masyarakat masa kini.

Melalui model tersebut, pembelajaran teks hikayat dapat berkembang dari sekadar kegiatan memahami isi bacaan menjadi proses berpikir yang lebih mendalam. Murid dapat diajak mempertanyakan apakah nilai yang terdapat dalam hikayat masih relevan dengan kehidupan sekarang, bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta apakah terdapat nilai tertentu yang mengalami perubahan akibat perkembangan masyarakat dan zaman. Dengan demikian, hikayat tidak lagi ditempatkan semata-mata sebagai cerita masa lalu, tetapi sebagai sumber pembelajaran yang dapat membantu murid memahami kehidupan masa kini.

Pembelajaran diawali dengan kegiatan apersepsi untuk membangun pengetahuan awal sekaligus membangkitkan rasa ingin tahu murid. Pendidik dapat menampilkan cerita rakyat yang telah dikenal luas oleh masyarakat, seperti Malin Kundang, Bawang Merah dan Bawang Putih, atau cerita rakyat yang berasal dari daerah setempat. Pemilihan cerita yang dekat dengan pengalaman atau pengetahuan murid diharapkan dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih akrab.

Setelah cerita ditampilkan, murid diajak berbagi pengalaman. Pendidik dapat menggali apakah mereka pernah membaca, mendengar, atau menyaksikan cerita tersebut dalam bentuk lain. Percakapan kemudian diarahkan pada nilai yang terkandung di dalam cerita. Pertanyaan pemantik seperti, “Apa nilai yang kalian temukan dalam cerita tersebut?” dan “Apakah nilai tersebut masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini?” dapat digunakan untuk mengarahkan perhatian murid pada persoalan yang akan dipelajari.

Pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan untuk memperoleh jawaban benar atau salah. Pertanyaan pemantik menjadi pintu masuk bagi murid untuk membangun rasa ingin tahu dan menyadari bahwa sebuah cerita dapat memiliki hubungan dengan kehidupan nyata. Murid mulai memahami bahwa nilai tentang kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kasih sayang, penghormatan kepada orang tua, maupun hubungan sosial yang terdapat dalam cerita tradisional masih dapat ditemukan dalam kehidupan mereka.

Pada kegiatan inti, murid dibagi ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok memperoleh satu teks hikayat untuk dibaca dan dianalisis. Pembagian kelompok memberikan ruang bagi murid untuk belajar secara kolaboratif sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi. Mereka tidak hanya membaca teks secara individual, tetapi juga berdiskusi untuk membangun pemahaman bersama terhadap isi cerita.

Dalam proses analisis, murid mengidentifikasi berbagai unsur yang terdapat dalam hikayat. Mereka dapat mencermati struktur teks, karakteristik tokoh, latar, alur, penggunaan bahasa, serta nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita. Pendidik memberikan arahan agar murid tidak berhenti pada kemampuan menemukan unsur cerita, tetapi mampu menjelaskan hubungan antara unsur tersebut dengan pesan atau nilai yang hendak disampaikan.

Setelah memahami isi hikayat, murid dihadapkan pada permasalahan yang berkaitan dengan nilai-nilai dalam cerita. Misalnya, mereka diminta mendiskusikan nilai apa saja yang masih dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan nilai apa yang penerapannya mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Permasalahan tersebut mendorong murid untuk berpikir kritis karena mereka harus menyampaikan alasan berdasarkan isi teks sekaligus mempertimbangkan kondisi kehidupan masyarakat saat ini.

Pada tahap ini, pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Murid dapat membandingkan kehidupan yang digambarkan dalam hikayat dengan kehidupan yang mereka alami. Nilai tentang hubungan keluarga, kepemimpinan, tanggung jawab, keberanian, kesetiaan, atau kehidupan bermasyarakat dapat didiskusikan berdasarkan pengalaman dan lingkungan sosial murid. Mereka belajar bahwa karya sastra tidak berdiri sendiri, melainkan lahir dari kehidupan masyarakat dan dapat kembali digunakan untuk memahami kehidupan.

Strategi kontekstual diterapkan dengan menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata murid. Ketika membahas nilai kesetiaan, misalnya, murid dapat menghubungkannya dengan hubungan pertemanan. Ketika membahas tanggung jawab, mereka dapat mengaitkannya dengan tanggung jawab sebagai pelajar, anggota keluarga, maupun bagian dari masyarakat. Dengan cara demikian, nilai dalam hikayat menjadi lebih dekat dan mudah dipahami.

Sementara itu, strategi kolaboratif diterapkan melalui diskusi kelompok. Setiap murid memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasan, mempertanyakan pendapat temannya, memberikan alasan, serta menyusun kesimpulan bersama. Perbedaan pendapat yang muncul dalam diskusi justru dapat menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Murid belajar bahwa memahami karya sastra tidak selalu berarti menemukan satu jawaban tunggal, tetapi membutuhkan kemampuan membaca, menafsirkan, memberikan alasan, dan menghargai perspektif orang lain.

Metode yang digunakan dalam pembelajaran meliputi membaca, tanya jawab, diskusi, penugasan, dan presentasi. Membaca menjadi dasar untuk membangun pemahaman terhadap teks. Melalui kegiatan membaca, murid berlatih menemukan informasi, memahami makna, mengenali karakter tokoh, serta mencermati penggunaan bahasa yang terdapat dalam hikayat.

Tanya jawab digunakan untuk menggali pemahaman murid secara lebih mendalam. Pendidik dapat memberikan pertanyaan yang bergerak dari tingkat pemahaman menuju analisis. Murid tidak hanya ditanya mengenai siapa tokoh dalam cerita atau di mana peristiwa berlangsung, tetapi juga diajak menjelaskan alasan suatu tokoh mengambil keputusan dan menghubungkannya dengan nilai kehidupan.

Diskusi menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan bekerja sama. Dalam kelompok, mereka menganalisis struktur, unsur cerita, serta nilai-nilai yang terdapat dalam hikayat. Hasil diskusi kemudian dituangkan dalam bentuk penugasan sebagai penguatan terhadap materi yang telah dipelajari.

Pada tahap akhir kegiatan inti, setiap kelompok mempresentasikan hasil analisisnya di depan kelas. Presentasi memberikan kesempatan kepada murid untuk mengomunikasikan hasil pemikirannya secara sistematis. Kelompok lain dapat memberikan tanggapan, pertanyaan, atau masukan. Dengan demikian, proses pembelajaran tidak hanya melatih kemampuan membaca dan menganalisis, tetapi juga mengembangkan keterampilan berbicara, mendengarkan, berargumentasi, dan berkomunikasi.

Dalam keseluruhan proses tersebut, pendidik berperan sebagai fasilitator. Pendidik tidak menjadi satu-satunya sumber informasi, tetapi memberikan ruang yang cukup kepada murid untuk menemukan dan membangun pengetahuannya sendiri. Pendidik mengarahkan proses pembelajaran, memberikan pertanyaan pemantik, membantu murid ketika mengalami kesulitan memahami teks, serta memberikan penguatan ketika diperlukan.

Peran tersebut membuat murid ditempatkan sebagai subjek utama pembelajaran. Mereka aktif membaca, menemukan informasi, menganalisis persoalan, berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta mempresentasikan hasil pemikiran. Pembelajaran menjadi proses yang menempatkan murid sebagai pembelajar aktif, bukan sekadar penerima informasi dari pendidik.

Kegiatan pembelajaran kemudian ditutup dengan refleksi. Murid bersama pendidik meninjau kembali proses yang telah berlangsung. Mereka dapat diminta menyampaikan pengetahuan baru yang diperoleh, pengalaman yang paling berkesan, serta nilai dari hikayat yang menurut mereka masih relevan dengan kehidupan saat ini.

Refleksi menjadi bagian penting karena membantu murid menyadari bahwa pembelajaran sastra bukan hanya tentang kemampuan menjawab pertanyaan mengenai sebuah teks. Lebih jauh, pembelajaran sastra dapat menjadi sarana untuk mengenali nilai kehidupan dan mempertimbangkan bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan dalam konteks kehidupan masa kini.

Pendidik kemudian memberikan penguatan mengenai karakteristik teks hikayat, struktur, unsur cerita, penggunaan bahasa, serta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Penguatan dilakukan berdasarkan hasil proses pembelajaran sehingga konsep yang disampaikan memiliki hubungan langsung dengan pengalaman belajar yang baru saja dilalui murid.

Pembelajaran teks hikayat dengan model Problem Based Learning pada akhirnya dapat menjadi ruang yang mempertemukan sastra masa lalu dengan kehidupan masa kini. Murid tidak hanya belajar mengenali karya sastra tradisional, tetapi juga belajar membaca kehidupan melalui cerita. Mereka diajak memahami bahwa di balik kisah tentang tokoh dan peristiwa masa lalu terdapat nilai yang dapat dipertanyakan, didiskusikan, dan dikontekstualisasikan.

Pembelajaran semacam ini juga memberikan kontribusi terhadap pengembangan keterampilan abad ke-21. Kemampuan berpikir kritis berkembang ketika murid menganalisis persoalan dan mempertanyakan relevansi nilai dalam hikayat. Kemampuan bekerja sama tumbuh melalui diskusi kelompok. Kemampuan komunikasi terasah melalui kegiatan presentasi dan tanya jawab. Sementara itu, kemampuan literasi berkembang melalui proses membaca, memahami, menafsirkan, dan menyampaikan kembali informasi dari teks.

Pada saat yang sama, pembelajaran hikayat dapat menjadi salah satu jalan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap kekayaan sastra dan budaya Indonesia. Generasi muda perlu mengenal karya-karya yang lahir dari perjalanan panjang masyarakat Indonesia agar tidak kehilangan hubungan dengan akar budayanya. Namun, pengenalan tersebut akan lebih bermakna apabila dilakukan dengan cara yang memungkinkan murid menghubungkan karya masa lalu dengan realitas kehidupan mereka.

Dengan demikian, pembelajaran teks hikayat tidak perlu berhenti pada pertanyaan tentang apa isi cerita, siapa tokohnya, atau bagaimana strukturnya. Pembelajaran dapat bergerak lebih jauh menuju pertanyaan yang lebih bermakna: nilai apa yang terkandung di dalamnya, mengapa nilai tersebut penting, bagaimana nilai tersebut dapat diterapkan, dan apakah nilai tersebut masih sesuai dengan kehidupan masyarakat sekarang.

Ketika murid mampu menemukan hubungan antara hikayat dan kehidupan nyata, karya sastra tradisional tidak lagi terasa sebagai cerita lama yang jauh dari kehidupan mereka. Hikayat dapat hadir sebagai sumber refleksi, ruang diskusi, dan sarana untuk memahami nilai kehidupan. Di situlah pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih dari sekadar pembelajaran bahasa, tetapi juga menjadi proses membangun literasi, karakter, kemampuan berpikir kritis, serta penghargaan terhadap kekayaan budaya bangsa.

Penulis :  Atiya Najal Aufa, Mahasiswa Lantip 8 UNNES

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan