Kamis, 24-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru BK SMKN Jateng di Semarang Belajar 7 Jurus BK Hebat Bersama MGMP BK

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Kegiatan MGBK Rabu, 24 September 2026, membahas Jurus 2 Kelola Emosi sebagai bagian dari program 7 Jurus BK Hebat yang berfokus pada penguatan kompetensi guru Bimbingan dan Konseling (BK). Kegiatan tersebut menghadirkan Hesti Lilia Paraswati, S.Pd., Guru BK SMK 1 Semarang, sebagai narasumber dan diikuti oleh para Guru BK SMK Kota Semarang bersama Pengawas BK, Dra. Sri Maryati, MT.

Pembahasan mengenai Kelola Emosi menjadi penting karena kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi tidak hanya dibutuhkan peserta didik, tetapi juga menjadi kompetensi penting bagi guru dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman, positif, dan mendukung perkembangan siswa. Melalui kegiatan MGBK ini, para guru BK memperoleh penguatan pemahaman sekaligus perspektif praktis yang dapat diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

Jurus 2 Kelola Emosi merupakan bagian dari 7 Jurus BK Hebat, sebuah program peningkatan kompetensi guru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang salah satu fokusnya adalah Pembelajaran Sosial Emosional atau Social Emotional Learning (SEL). Pendekatan tersebut menekankan pentingnya kemampuan individu untuk mengenali, memahami, mengelola emosi, membangun hubungan positif, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dalam kegiatan MGBK Rabu, 24 September 2026, peserta diajak memahami bahwa kondisi emosional memiliki hubungan erat dengan proses belajar. Ketika peserta didik berada dalam kondisi emosi yang lebih tenang dan terkelola, mereka akan memiliki ruang yang lebih baik untuk berpikir, memahami informasi, berinteraksi dengan orang lain, dan mengambil keputusan.

Hesti Lilia Paraswati menjelaskan bahwa pengelolaan emosi perlu dipahami secara utuh, bukan sekadar upaya menahan atau menyembunyikan perasaan. Menurutnya, seseorang perlu terlebih dahulu mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami pemicunya, kemudian menentukan respons yang tepat terhadap situasi yang dihadapi.

Salah satu konsep yang diperkenalkan dalam materi Jurus 2 Kelola Emosi adalah Brain in the Palm atau “Otak di Kepalan Tangan” yang dikembangkan oleh Prof. Daniel Siegel. Teknik tersebut digunakan sebagai ilustrasi sederhana untuk membantu guru dan peserta didik memahami cara kerja otak ketika seseorang mengalami lonjakan emosi.

Dalam ilustrasi tersebut, pergelangan tangan menggambarkan batang otak yang berkaitan dengan fungsi dasar tubuh, seperti pernapasan dan detak jantung. Bagian telapak tangan dan ibu jari menggambarkan sistem limbik, termasuk amigdala, yang berperan dalam memproses emosi seperti rasa takut, marah, dan sedih.

Sementara itu, jari-jari yang mengepal menggambarkan korteks prefrontal atau Prefrontal Cortex (PFC), yaitu bagian otak yang berkaitan dengan kemampuan berpikir rasional, mengendalikan impuls, mempertimbangkan konsekuensi, dan menunjukkan empati. Ketika seseorang mengalami emosi yang sangat kuat, fungsi pengendalian dari PFC dapat terganggu. Kondisi tersebut dalam ilustrasi Brain in the Palm digambarkan sebagai “flipped lid”, ketika kendali rasional seolah-olah terlepas dan respons emosional mengambil alih.

Konsep tersebut menjadi salah satu cara untuk membantu guru BK menjelaskan kepada peserta didik bahwa munculnya emosi merupakan hal yang wajar. Hal yang perlu dilatih adalah kemampuan mengenali emosi dan memilih respons yang tepat agar emosi tidak mendorong seseorang melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Materi Kelola Emosi dalam kegiatan MGBK juga menekankan lima kompetensi utama dalam Pembelajaran Sosial Emosional. Kompetensi pertama adalah kesadaran diri atau self-awareness, yakni kemampuan mengenali dan memahami perasaan yang sedang dialami, seperti bahagia, sedih, kecewa, takut, atau marah.

Kompetensi kedua adalah pengelolaan diri atau self-management. Kemampuan ini berkaitan dengan cara seseorang mengendalikan respons emosional sehingga tidak menimbulkan dampak negatif. Guru BK dapat membantu peserta didik belajar memberikan jeda sebelum bereaksi, mengenali pemicu emosi, dan memilih tindakan yang lebih konstruktif.

Kompetensi ketiga adalah kesadaran sosial atau social awareness. Pada tahap ini, peserta didik dilatih memahami kondisi dan perasaan orang lain. Empati menjadi bagian penting, baik dalam bentuk cognitive empathy, yaitu memahami perspektif orang lain, maupun emotional empathy, yaitu kemampuan merasakan dan merespons kondisi emosional orang lain secara tepat.

Selanjutnya, kompetensi keempat adalah keterampilan berelasi atau relationship skills. Kemampuan ini berkaitan dengan membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat melalui komunikasi yang positif dan asertif. Salah satu teknik komunikasi yang dapat digunakan adalah I-Message, yaitu menyampaikan perasaan dan kebutuhan tanpa menyalahkan atau menyerang pihak lain.

Kompetensi kelima adalah pengambilan keputusan yang bertanggung jawab atau responsible decision-making. Peserta didik diarahkan untuk mempertimbangkan berbagai konsekuensi dari pilihan yang akan diambil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sebelum memberikan respons terhadap suatu peristiwa.

Kelima kompetensi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan emosi bukan sekadar persoalan mengendalikan kemarahan. Lebih dari itu, Kelola Emosi menjadi bagian dari proses membangun kecakapan sosial dan emosional yang diperlukan peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika berada di sekolah, keluarga, maupun lingkungan sosial.

Bagi guru BK, pemahaman terhadap kompetensi sosial emosional juga menjadi bekal penting dalam memberikan layanan kepada peserta didik. Guru tidak hanya membantu siswa ketika menghadapi persoalan, tetapi juga dapat memberikan pembelajaran yang mendorong siswa mengenali dirinya, memahami orang lain, membangun hubungan sehat, serta bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat.

Guru BK SMKN Jateng di Semarang, Rizki Umu Amalia, menilai kegiatan MGBK memberikan pemahaman yang relevan bagi para peserta, khususnya mengenai pentingnya mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara tepat.

“Kegiatan ini memberikan pemahaman kepada Bapak/Ibu peserta MGBK mengenai pentingnya mengenali, memahami, dan mengelola emosi secara tepat dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan sekolah maupun dalam interaksi sosial,” ujar Rizki.

Menurut Rizki, materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi guru BK untuk mendampingi peserta didik menghadapi berbagai situasi emosional. Kemampuan tersebut semakin penting karena peserta didik berada pada fase perkembangan yang membutuhkan pendampingan untuk memahami perubahan diri, membangun relasi, serta menentukan pilihan secara bijaksana.

Kegiatan MGBK Rabu, 24 September 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan bagi para Guru BK SMK Kota Semarang. Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat peran guru BK dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional peserta didik.

Melalui pemahaman tentang Kelola Emosi, guru BK diharapkan mampu mengembangkan layanan yang membantu siswa menjadi lebih sadar terhadap kondisi dirinya, mampu mengelola respons emosional, memiliki empati, membangun hubungan positif, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pesan utama yang mengemuka dalam pembahasan Jurus 2 Kelola Emosi adalah bahwa ketenangan emosi menjadi salah satu fondasi penting dalam proses belajar. Ketika hati murid lebih tenang, pikiran memiliki ruang untuk berkembang. Karena itu, penguatan kompetensi sosial emosional menjadi bagian penting dalam menciptakan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kecakapan hidup peserta didik.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan