Rabu, 30-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK Bahas Penguatan VMTS dan Kepemimpinan Pembelajaran Mendalam

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK 2 JP untuk siklus 3 Rabu, 30 September 2026, menjadi momentum bagi satuan pendidikan untuk memperkuat tata kelola sekolah melalui peninjauan kembali Visi, Misi, Tujuan, dan Strategi (VMTS), sekaligus merefleksikan strategi kepemimpinan dalam pengelolaan Pembelajaran Mendalam (PM). Kegiatan ini menghadirkan Rina Candrawati, S.Pd., M.Pd., sebagai fasilitator dan memberikan kesempatan kepada Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., untuk menyampaikan paparan mengenai praktik kepemimpinan dan pengelolaan pembelajaran di satuan pendidikan.

Kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK 2 JP untuk siklus 3 dilaksanakan dengan fokus pada dua agenda utama. Agenda pertama adalah mereview VMTS berdasarkan hasil masukan yang telah diperoleh serta merencanakan realisasi VMTS ke dalam Rencana Kerja Sekolah (RKS) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dengan alokasi 3 JP. Agenda kedua adalah mereview strategi kepemimpinan dalam pengelolaan Pembelajaran Mendalam dengan alokasi 1 JP.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan arah pengembangan sekolah tidak berhenti pada dokumen perencanaan, tetapi diterjemahkan menjadi program, kegiatan, indikator keberhasilan, serta dukungan anggaran yang dapat dilaksanakan secara nyata.

Kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK 2 JP untuk Siklus 3 Memperkuat Review VMTS

Dalam tata kelola sekolah, VMTS merupakan instrumen manajemen strategis yang menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan satuan pendidikan. VMTS memuat tata nilai dan arah kebijakan sekolah melalui visi, misi, tujuan, serta strategi atau sasaran yang hendak dicapai.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, VMTS memiliki keterkaitan erat dengan perencanaan sekolah, termasuk Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Karena itu, review VMTS perlu dilakukan secara berkala agar tetap relevan dengan kebutuhan murid, perkembangan lingkungan pendidikan, hasil evaluasi sekolah, serta masukan dari berbagai pemangku kepentingan.

Visi menjadi gambaran mengenai cita-cita bersama warga sekolah dan pemangku kepentingan terhadap kondisi yang ingin diwujudkan pada masa mendatang. Visi tersebut kemudian diterjemahkan melalui misi berupa tindakan dan layanan utama sekolah dalam memberikan pengalaman pendidikan kepada murid.

Sementara itu, tujuan menjadi target mutu yang lebih konkret dan terukur dalam periode tertentu. Tujuan tersebut perlu diselaraskan dengan standar mutu pendidikan sehingga dapat menjadi pijakan bagi sekolah dalam menentukan prioritas program.

Adapun strategi atau sasaran menjadi bagian yang menerjemahkan tujuan ke dalam langkah operasional. Di dalamnya dapat mencakup program kerja, metode pelaksanaan, pengembangan kompetensi guru, penguatan sarana prasarana, kemitraan, hingga alokasi anggaran sekolah.

“Review VMTS menjadi penting agar visi dan misi sekolah benar-benar hidup dalam program dan kegiatan sekolah, bukan hanya menjadi dokumen administratif. Karena itu, hasil review perlu diterjemahkan ke dalam RKS dan RKAS sehingga arah strategis sekolah memiliki dukungan program dan anggaran yang jelas,” demikian pokok penguatan dalam kegiatan pendampingan.

Kepemimpinan Transformatif dalam Pengelolaan Pembelajaran Mendalam

Selain membahas VMTS, Kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK 2 JP untuk siklus 3 juga memberikan ruang bagi peserta untuk mereview strategi kepemimpinan dalam pengelolaan Pembelajaran Mendalam.

Dalam konteks pengelolaan sekolah, praktik pedagogis merupakan seperangkat strategi, metode, dan pendekatan pembelajaran yang diterapkan pendidik dan diorkestrasi oleh manajemen sekolah. Tujuannya adalah memastikan proses belajar berlangsung efektif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., mendapatkan kesempatan menyampaikan paparan mengenai pengalaman dan strategi pengelolaan sekolah. Paparan tersebut menekankan pentingnya pergeseran paradigma kepemimpinan kepala sekolah, dari sekadar menjalankan fungsi administratif menjadi pemimpin yang mampu mengelola aset dan potensi sekolah secara strategis.

“Peran kepala sekolah tidak cukup hanya sebagai manajer administratif. Kepala sekolah perlu hadir sebagai manajer strategi aset yang mampu menyatukan kepemimpinan instruksional dan manajemen operasional secara terpadu,” ujar Ardan dalam paparannya.

Menurutnya, kepemimpinan transformatif perlu diwujudkan melalui kemampuan kepala sekolah menginspirasi, mengarahkan, dan menggerakkan seluruh ekosistem sekolah untuk mencapai visi yang telah disepakati bersama.

Paparan tersebut juga menguraikan empat pilar kerangka Pembelajaran Mendalam, yaitu kepemimpinan, praktik pedagogis, lingkungan belajar, dan kemitraan pembelajaran.

Pada aspek praktik pedagogis, pendidik didorong untuk bergeser dari peran sebagai pengajar yang berfokus pada penyampaian materi tekstual menjadi fasilitator, aktivator, dan perancang pengalaman belajar. Pendekatan seperti inkuiri, Problem-Based Learning (PBL), dan Project-Based Learning (PjBL) menjadi bagian dari strategi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan bermakna.

“Guru perlu bergerak dari sekadar menyampaikan materi menjadi fasilitator dan perancang pembelajaran yang mampu mengaktifkan murid. Pembelajaran berbasis inkuiri, PBL, dan PjBL dapat menjadi ruang bagi murid untuk mengalami proses belajar yang lebih nyata,” jelas Ardan.

Praktik Pembelajaran Mendalam di SMKN Jateng di Semarang

Dalam paparannya, Ardan juga membagikan sejumlah praktik yang dikembangkan di SMKN Jateng di Semarang. Salah satunya adalah penguatan growth mindset di lingkungan sekolah. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mengubah cara pandang guru dan murid terhadap tantangan sehingga sekolah tidak terjebak pada label sebagai sekolah yang memiliki banyak masalah.

Upaya tersebut diwujudkan melalui perubahan pola pikir menuju budaya sekolah yang berorientasi pada prestasi dan perbaikan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang dipaparkan adalah program DUMB Goals yang diarahkan untuk membangun student agency dengan menerjemahkan mimpi besar murid menjadi target yang jelas, aksi nyata, dan kebiasaan harian melalui habit loop.

“Yang kami bangun bukan hanya target prestasi, tetapi keberanian murid untuk memiliki mimpi, menentukan tujuan, mengambil tindakan, dan membangun kebiasaan. Dari sana kami ingin mengubah cara pandang bahwa sekolah ini penuh masalah menjadi sekolah yang mampu melahirkan prestasi,” kata Ardan.

Penguatan lingkungan belajar juga menjadi perhatian. Sistem asrama di SMKN Jateng di Semarang tidak hanya diposisikan sebagai tempat tinggal bagi siswa, tetapi sebagai ekosistem pendidikan yang mendukung pembentukan disiplin, karakter, kemandirian, dan kesejahteraan emosional, khususnya bagi siswa yang berasal dari keluarga kurang mampu.

Pada sisi kemitraan pembelajaran, sekolah juga membangun kolaborasi dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDIKA). Sejumlah mitra industri, antara lain Komatsu, BUMA, AKTI, NBI, dan SUA, dilibatkan dalam berbagai tahapan, mulai dari penyusunan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek nyata hingga penyediaan ruang magang.

Kemitraan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Dunia industri dapat menjadi bagian dari ekosistem belajar untuk membantu murid memahami konteks pekerjaan, budaya industri, kompetensi yang dibutuhkan, serta tantangan nyata di lapangan.

Kepemimpinan, Lingkungan Belajar, dan Kemitraan Menjadi Satu Ekosistem

Empat pilar Pembelajaran Mendalam yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut pada dasarnya saling berkaitan. Kepemimpinan menjadi pengarah visi dan budaya sekolah. Praktik pedagogis memastikan proses belajar dirancang sesuai kebutuhan murid. Lingkungan belajar menyediakan ruang yang aman, inklusif, dan mendukung kesejahteraan. Sementara itu, kemitraan pembelajaran memperluas sumber belajar melalui keterlibatan keluarga, masyarakat, dan DUDIKA.

Optimalisasi infrastruktur digital juga menjadi bagian dari penguatan lingkungan belajar, terutama untuk membantu sekolah memantau perkembangan murid berdasarkan data. Dengan demikian, keputusan yang diambil sekolah dapat lebih terarah dan didukung oleh informasi mengenai perkembangan proses dan hasil belajar.

Dalam implementasinya, strategi tersebut perlu didukung oleh sinergi antara daya juang murid, dedikasi guru, kepemimpinan sekolah, serta dukungan kebijakan dan fasilitasi pemerintah daerah. Sinergi berbagai modal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Salah satu dampak yang dipaparkan dalam kegiatan adalah capaian serapan lulusan SMKN Jateng di Semarang yang disebut mencapai 100 persen, baik melalui penyerapan di dunia kerja, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi maupun berwirausaha.

Evaluasi dan Tindak Lanjut Pengelolaan Pembelajaran Mendalam

Penguatan VMTS dan strategi kepemimpinan dalam Pembelajaran Mendalam selanjutnya perlu diikuti dengan evaluasi secara berkelanjutan. Dalam paparan kegiatan, evaluasi diarahkan menggunakan tahapan inkuiri kolaboratif yang mencakup Design, Implement, Measure, Reflect & Change.

Pendekatan tersebut dipadukan dengan Trilogi MER, yaitu Monitoring, Evaluasi, dan Refleksi. Ketiganya menjadi mekanisme untuk melihat apakah program yang dirancang telah berjalan sesuai tujuan, mengidentifikasi kesenjangan, serta menentukan perubahan yang diperlukan.

Evaluasi juga mengacu pada indikator keberhasilan yang berkaitan dengan keunggulan belajar murid, keunggulan mengajar pendidik, dan kematangan kepemimpinan kepala sekolah.

Sebagai langkah tindak lanjut, salah satu aksi pertama yang direncanakan adalah menyelenggarakan Forum Group Discussion (FGD) untuk memetakan tujuh modal aset bersama tim sekolah. Selain itu, sekolah diarahkan menyusun instrumen pemantauan pedagogi berbasis data.

Melalui Kegiatan Pendampingan Daring oleh FKK 2 JP untuk siklus 3, proses review VMTS dan strategi kepemimpinan diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi. Hasil pendampingan menjadi pijakan untuk memperkuat perencanaan, menghubungkan VMTS dengan RKS dan RKAS, serta memastikan kepemimpinan sekolah mampu menggerakkan praktik pedagogis, lingkungan belajar, dan kemitraan pembelajaran secara terpadu.

Dengan demikian, pengelolaan sekolah tidak hanya berorientasi pada pemenuhan administrasi, tetapi bergerak menuju tata kelola yang berbasis data, kolaboratif, reflektif, dan berpusat pada perkembangan murid.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan