SEMARANG – Perkembangan teknologi digital membuka semakin banyak peluang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif, menarik, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Hal tersebut menjadi salah satu fokus dalam Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 19 September 2026, pukul 09.00–11.00 WIB.
Kegiatan Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru menghadirkan Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd. sebagai narasumber. Pelatihan diikuti oleh guru dan kepala sekolah dari berbagai daerah di Jawa Tengah yang ingin meningkatkan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi, desain visual, dan kecerdasan artifisial (AI) untuk mendukung proses pembelajaran.
Dalam paparannya, Ardan menjelaskan bahwa desain visual bagi guru bukan sekadar aktivitas membuat tampilan materi menjadi indah. Desain visual merupakan proses merancang materi pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai elemen rupa, seperti gambar, warna, huruf, ilustrasi, dan tata letak, sehingga informasi dapat disampaikan secara lebih jelas, menarik, dan mudah dipahami oleh peserta didik.
“Desain visual untuk guru bukan hanya tentang membuat materi pembelajaran terlihat bagus. Yang lebih penting adalah bagaimana visual tersebut membantu guru menyampaikan pesan dan membantu siswa memahami materi dengan lebih mudah,” ujar Ardan dalam kegiatan tersebut.
Menurut Ardan, perkembangan teknologi memberikan ruang yang semakin luas bagi guru untuk mengembangkan kreativitas. Berbagai perangkat digital dan teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu guru menemukan ide, menyusun konsep, hingga menghasilkan rancangan visual yang dapat dikembangkan menjadi media pembelajaran.
Namun demikian, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti kreativitas guru. Justru, teknologi menjadi alat yang dapat memperluas kemampuan guru dalam menerjemahkan gagasan menjadi sebuah karya visual.
Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru Kenalkan Unsur Penting Desain Pembelajaran
Dalam Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru, peserta diajak memahami sejumlah unsur penting yang perlu diperhatikan ketika membuat media pembelajaran visual. Unsur pertama adalah warna. Pemilihan warna perlu dilakukan secara tepat agar terdapat kontras yang cukup antara tulisan dan latar sehingga materi mudah dibaca. Warna juga dapat digunakan untuk memberikan penekanan terhadap informasi tertentu dan membantu membangun suasana dalam pembelajaran.
Unsur berikutnya adalah tipografi atau penggunaan huruf. Ardan menekankan pentingnya memilih jenis dan ukuran huruf yang bersih, sederhana, serta mudah dibaca. Penggunaan terlalu banyak jenis huruf justru dapat membuat tampilan menjadi kurang terstruktur dan mengurangi kenyamanan peserta didik ketika membaca materi.
“Guru tidak perlu menggunakan terlalu banyak warna atau jenis huruf untuk membuat desain terlihat menarik. Prinsipnya sederhana, jelas, rapi, dan pesan utamanya mudah ditangkap oleh siswa,” jelas Ardan.
Selain warna dan tipografi, penggunaan gambar atau ilustrasi juga menjadi bagian penting dalam desain visual pembelajaran. Foto, ikon, diagram, grafik, maupun ilustrasi yang relevan dapat membantu guru menjelaskan konsep yang sulit apabila hanya disampaikan melalui teks.
Menurut Ardan, gambar yang digunakan dalam pembelajaran harus memiliki keterkaitan dengan materi. Penggunaan gambar semata-mata untuk mempercantik tampilan tanpa memperkuat pesan pembelajaran justru dapat mengalihkan perhatian siswa dari informasi utama.
Unsur lain yang tidak kalah penting adalah tata letak atau layout. Setiap elemen dalam sebuah desain perlu ditempatkan secara terstruktur sehingga memiliki alur baca yang jelas. Dengan tata letak yang baik, siswa dapat mengetahui informasi mana yang harus dibaca terlebih dahulu, informasi pendukung, hingga kesimpulan atau pesan utama.
Visualisasi Membantu Guru Menyederhanakan Materi Pembelajaran
Ardan juga menjelaskan bahwa Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru diarahkan untuk membantu peserta menghasilkan media pembelajaran yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki fungsi pedagogis.
Materi yang kompleks dapat disederhanakan melalui diagram, infografis, mind map, ilustrasi, atau bentuk visual lainnya. Dengan demikian, guru memiliki alternatif dalam menjelaskan konsep yang sulit kepada siswa.
Desain visual juga dapat membantu menarik perhatian peserta didik. Di tengah lingkungan digital yang penuh dengan informasi visual, guru dituntut mampu menyajikan materi secara komunikatif agar siswa tetap fokus terhadap pesan yang disampaikan.
Selain membantu pemahaman dan menarik perhatian, visualisasi juga dapat memperkuat daya ingat. Materi yang dipadukan dengan gambar, warna, diagram, atau struktur visual tertentu dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan penyampaian materi dalam bentuk teks semata.
Pemanfaatan teknologi AI kemudian menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Guru dikenalkan pada bagaimana teknologi dapat membantu mengembangkan ide dan mempercepat proses produksi bahan pembelajaran.
Dalam konteks tersebut, kemampuan menyusun prompt atau perintah menjadi salah satu keterampilan yang penting. Prompt yang disusun secara jelas dan spesifik akan membantu AI menghasilkan keluaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Teknologi Memperluas Ruang Kreativitas Guru
Pelaksanaan Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru mendapat respons positif dari peserta. Khilyatul Khoiriyah dari SMAN 3 Demak menilai pelatihan tersebut memberikan pemahaman bahwa teknologi seharusnya menjadi sarana untuk memperluas kreativitas guru.
“Pelatihan ini mengajarkan bahwa teknologi bukan untuk menggantikan kreativitas guru, tetapi untuk memperluas ruang kreativitas. Dengan AI, ide yang sebelumnya hanya ada dalam pikiran dapat divisualisasikan menjadi media pembelajaran yang lebih hidup, menarik, dan bermakna,” ungkap Khilyatul.
Senada dengan itu, Awal Nurro’ining, S.Pd., dari SMK Negeri 3 Jepara, mengapresiasi pemanfaatan teknologi dalam membantu guru bekerja lebih efektif sekaligus meningkatkan kreativitas dalam pembelajaran.
“Terima kasih sekali bahwa dengan adanya perkembangan teknologi saat ini sangat membantu dalam mengefisiensi waktu, menambah pengetahuan, dan meningkatkan kreativitas untuk mengembangkan serta menuangkan ide-ide, terutama bagi seorang guru dalam pengembangan diri dan inovasi dalam kegiatan belajar mengajar,” tuturnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi dapat membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakter peserta didik saat ini.
“Dengan demikian, murid-murid Gen-Z menjadi lebih bergembira dan semangat dalam belajar serta mampu menghasilkan output yang dapat menyesuaikan perkembangan teknologi saat ini,” tambah Awal.
Apresiasi juga disampaikan Arbeti Susilaningrum, S.Pd., M.Pd., dari SMK Negeri 1 Ampelgading. Menurutnya, materi yang disampaikan relevan dengan kebutuhan guru dalam menghadapi perkembangan teknologi pembelajaran.
“Materinya sangat relevan. Saya menjadi bisa memahami perbedaan karakteristik antara ChatGPT yang unggul dalam kreativitas dan interaksi natural serta Gemini yang terintegrasi kuat dengan ekosistem Google dan data real-time,” kata Arbeti.
Ia juga menilai materi tentang penyusunan prompt memberikan pengalaman baru yang dapat langsung diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari sebagai guru.
“Belajar cara menyusun perintah atau prompt yang baik agar hasil jawaban dari AI lebih akurat, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan spesifik,” ujarnya.
Menurut Arbeti, kemampuan memanfaatkan AI juga berpotensi meningkatkan produktivitas guru dalam berbagai pekerjaan.
“AI membantu saya sebagai guru menghemat waktu dalam membuat bahan ajar, modul ajar, menyusun ide, membuat laporan, mengolah data, hingga mendukung proses administrasi atau pembelajaran,” lanjutnya.
Guru Dituntut Adaptif terhadap Perkembangan Teknologi
Sementara itu, Agung Tri Nugroho, S.Pd., dari SMP Negeri 2 Tengaran, menyampaikan apresiasi terhadap materi yang diberikan dalam kegiatan tersebut. Ia menilai pemanfaatan teknologi bukan hanya berkaitan dengan efisiensi pekerjaan guru, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk bagi inovasi pembelajaran.
“Apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk Bapak Ardan atas materi luar biasa yang disampaikan melalui Pusat Pelatihan Guru. Pemanfaatan teknologi tidak hanya mempermudah efisiensi kerja guru, tetapi juga membuka ruang inovasi agar suasana belajar murid Gen-Alpha menjadi lebih menyenangkan, aktif, dan kontekstual,” ungkap Agung.
Ia berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi langkah awal bagi guru untuk terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Semoga materi ini menjadi pemantik awal untuk terus melangkah bersama perkembangan zaman. Kami sangat menantikan materi dan sesi sharing berikutnya dari Pak Ardan,” tambahnya.
Melalui Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru, para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang prinsip dasar desain visual, tetapi juga mendapatkan perspektif mengenai bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam proses kreatif dan pembelajaran.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru tidak berhenti pada penguasaan materi ajar. Guru juga perlu mengembangkan kemampuan komunikasi visual, kreativitas, literasi teknologi, dan kemampuan beradaptasi dengan berbagai perkembangan digital.
Pada akhirnya, teknologi tetap merupakan alat, sedangkan guru menjadi pihak yang menentukan bagaimana alat tersebut digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Ketika kreativitas guru dipadukan dengan pemanfaatan teknologi secara tepat, materi pembelajaran dapat dikembangkan menjadi lebih komunikatif, kontekstual, dan dekat dengan dunia peserta didik.
Pelatihan Membuat Visual Desain untuk Guru menjadi salah satu ruang belajar bersama bagi pendidik di Jawa Tengah untuk memperkuat kompetensi tersebut. Melalui kegiatan berbagi pengetahuan dan praktik, guru diharapkan semakin percaya diri dalam mengembangkan media pembelajaran visual serta memanfaatkan teknologi AI secara bijak, kreatif, dan produktif untuk mendukung pembelajaran di sekolah.

Beri Komentar