SEMARANG – Kegiatan Berbagi Praktik Baik SMKN Jateng di Semarang kembali digelar pada Jumat, 2 Oktober 2026. Bertempat di Ruang AVA mulai pukul 09.00 WIB, kegiatan kali ini menghadirkan dua penyaji yang membagikan pengalaman dan inovasi pembelajaran, yakni Kepala SMAN 1 Kaliwungu Kendal, Siti Nur Wiqoyati, S.Pd., M.A., serta Muhammad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., M.Pd. dari SMKN Jateng di Semarang.
Kegiatan Berbagi Praktik Baik SMKN Jateng di Semarang diikuti oleh Kepala SMKN Jateng di Semarang, guru dan karyawan, serta mahasiswa Lantip 8 Universitas Negeri Semarang (UNNES). Forum tersebut menjadi ruang belajar bersama untuk memperkaya wawasan pendidik melalui pengalaman nyata yang telah diterapkan di lingkungan sekolah.
Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., dalam sambutan pembukaan menyampaikan apresiasi kepada para penyaji yang telah bersedia hadir dan berbagi pengalaman dengan civitas akademika sekolah. Ia mendorong guru dan karyawan untuk memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dari praktik yang telah dilakukan oleh sekolah maupun pendidik lain.
“Untuk Bapak dan Ibu Guru Karyawan SMKN Jateng di Semarang mari kita belajar praktik baik yang sudah dilaksanakan oleh para penyaji,” ujar Ardan.
Menurut Ardan, kegiatan berbagi praktik baik menjadi bagian dari upaya membangun budaya belajar di lingkungan sekolah. Pengalaman yang disampaikan oleh para penyaji diharapkan dapat menjadi referensi bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid serta perkembangan dunia pendidikan.
Paparan pertama disampaikan oleh Kepala SMAN 1 Kaliwungu Kendal, Siti Nur Wiqoyati, S.Pd., M.A. Ia memaparkan penerapan Pembelajaran Mendalam berbasis Kurikulum Merdeka yang menekankan pemahaman konsep secara utuh, bukan sekadar menghafal materi.
Dalam paparannya, Siti menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam dibangun melalui tiga prinsip utama, yaitu Mindful Learning atau pembelajaran berkesadaran, Meaningful Learning atau pembelajaran bermakna, dan Joyful Learning atau pembelajaran yang menyenangkan.
Ketiga prinsip tersebut kemudian diterapkan melalui tiga pengalaman belajar, yakni memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan. Proses pembelajaran juga didukung oleh empat kerangka penopang yang meliputi praktik pedagogik, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan teknologi digital, serta kemitraan pembelajaran.
Siti juga mengaitkan penerapan Pembelajaran Mendalam dengan delapan dimensi profil lulusan sebagaimana yang dipaparkan dalam Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025. Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, serta komunikasi.
Namun, penerapan Pembelajaran Mendalam juga menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Beberapa di antaranya adalah pola pikir guru yang masih terbiasa dengan pembelajaran dangkal, bertambahnya alokasi waktu dan beban administrasi, keberagaman kemampuan awal murid, potensi distraksi penggunaan telepon seluler atau gawai, serta kebutuhan terhadap sarana pendukung pembelajaran yang kontekstual.
Untuk mendukung perubahan tersebut, SMAN 1 Kaliwungu mengembangkan ekosistem lingkungan sekolah melalui filosofi “CETAR MEMBAHANA”. Konsep tersebut menggambarkan berbagai aspek lingkungan sekolah, mulai dari lingkungan yang bersih dan nyaman, suasana edukatif, kedisiplinan, keaktifan, religiusitas, profesionalisme sumber daya manusia, digitalisasi, pengembangan prestasi, jurnalistik, kepedulian lingkungan, hingga sekolah sehat dan ramah anak.
Konsep tersebut antara lain diwujudkan melalui lingkungan sekolah yang tertata, fasilitas pembelajaran yang kondusif, kedisiplinan terhadap regulasi sekolah, keterlibatan dalam program pemerintah dan kemitraan, penguatan kegiatan keagamaan, peningkatan kompetensi pendidik, pemanfaatan teknologi digital, pembinaan prestasi hingga tingkat internasional, pengembangan jurnalistik siswa, program pelestarian lingkungan, serta layanan bimbingan dan konseling yang inklusif.
Dalam mendukung penerapan Pembelajaran Mendalam, SMAN 1 Kaliwungu juga menerapkan strategi manajerial “SMANKA” dalam ekosistem CETAR MEMBAHANA. Strategi tersebut mencakup supervisi mengajar, peningkatan kemampuan, dan evaluasi.
Supervisi mengajar dilakukan langsung oleh kepala sekolah secara mandiri sebanyak dua kali dalam setahun. Proses tersebut terdiri atas tahap pra-supervisi, kunjungan kelas, dan pasca-supervisi.
Peningkatan kemampuan dilakukan melalui pelatihan dan workshop kompetensi guru minimal empat kali dalam setahun. Materi yang diberikan mencakup materi baru sekaligus penguatan atau refreshment terhadap teori-teori pendidikan yang relevan.
Sementara itu, evaluasi dilakukan melalui rapat bulanan pada Jumat terakhir yang disebut “Rapat Jumakhir”. Forum tersebut menjadi ruang bagi wali kelas untuk menyampaikan laporan sekaligus merumuskan solusi terhadap berbagai persoalan pembelajaran secara bersama-sama.
Paparan tersebut juga menunjukkan hasil penerapan strategi yang telah dilakukan. Dari 55 guru yang ada, sebanyak 54 guru atau sekitar 98,18 persen disebut telah beralih dari metode ceramah murni menuju pembelajaran aktif. Metode yang digunakan antara lain diskusi, presentasi, latihan soal, gim, jigsaw, unjuk karya, Problem Based Learning (PBL), dan Project Based Learning (PjBL).
Penerapan Pembelajaran Mendalam di SMAN 1 Kaliwungu, berdasarkan paparan tersebut, menghasilkan suasana kelas yang lebih hidup, kondusif, serta mendorong antusiasme murid dalam mengikuti proses pembelajaran.
Paparan kedua disampaikan oleh Muhammad Sabil Abdul Aziz, S.Pd., M.Pd. dari SMKN Jateng di Semarang. Aziz mengangkat praktik pembelajaran bahasa Inggris melalui inovasi GULA ASEM, kependekan dari Guided Learning Activities for Authentic Speaking with Engaging Method.
Inovasi tersebut berangkat dari kebutuhan murid SMK Fase F atau kelas XI untuk memiliki keterampilan komunikasi aktif atau speaking yang autentik sesuai tuntutan capaian pembelajaran dan dunia kerja. Dalam paparannya, Aziz menjelaskan bahwa kebutuhan tersebut juga berkaitan dengan persyaratan sejumlah industri mitra SMKN Jateng di Semarang.
Beberapa mitra industri, seperti PT Sarana Utama Adimandiri (SUA), mensyaratkan sertifikasi TOEFL, sedangkan PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA) mensyaratkan sertifikasi IELTS. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kemampuan komunikasi bahasa Inggris yang dapat digunakan dalam konteks nyata dunia kerja.
Aziz juga memaparkan adanya penurunan indikator Link and Match dengan dunia kerja pada Rapor Pendidikan SMKN Jateng di Semarang Tahun 2025 sebesar 5,16 poin dibandingkan tahun 2024. Di tingkat kelas, sebanyak 35 persen murid kelas XI disebut memperoleh nilai speaking di bawah KKM 75.
Persoalan lain yang ditemukan adalah kejenuhan murid ketika harus mengamati penampilan kelompok lain setelah urutan kelima, kecenderungan murid hanya membaca teks tanpa melakukan kontak mata, serta waktu penilaian speaking yang dapat membutuhkan dua hingga tiga pertemuan untuk satu kelas.
Bahan ajar berupa buku teks juga dinilai belum sepenuhnya menyediakan materi autentik dan panduan atau scaffolding yang memadai. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Aziz untuk merumuskan pembelajaran yang lebih autentik, menarik, terbimbing, sekaligus efisien dari sisi waktu.
Kerangka GULA ASEM mengintegrasikan tiga pengalaman belajar Pembelajaran Mendalam, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan, dengan pendekatan berbasis teks atau Genre-Based Approach (GBA).
Tahap G — Guided Learning digunakan untuk membangun pengetahuan awal murid melalui Building Knowledge of the Field (BKoF). Guru menyampaikan tujuan pembelajaran sekaligus memantik pengetahuan awal murid menggunakan gambar cerita.
Tahap L — Language Acquisition dilakukan melalui Modelling of the Text (MoT). Murid mengidentifikasi struktur cerita melalui gim daring Treasure Hunt, kemudian melanjutkannya dengan diskusi dan kegiatan ice breaking berupa Hawaiian hula dance.
Selanjutnya, tahap A — Apply mengarahkan murid pada proses Joint Construction of the Text (JCoT). Murid dibagi menjadi delapan kelompok yang masing-masing terdiri atas tiga orang. Setiap kelompok memilih dan memodifikasi cerita untuk ditampilkan dalam bentuk Mini Drama Performance, sekaligus melakukan latihan peer feedback.
Tahap S — Show juga menggunakan Joint Construction of the Text. Murid menampilkan drama secara bergantian dengan pembagian kelompok penampil dan kelompok pengamat. Kelompok pengamat memberikan umpan balik terhadap penampilan yang disaksikan.
Tahap E — Evaluate dilakukan melalui refleksi mandiri menggunakan model 4F, yaitu Fact, Feeling, Finding, dan Future. Murid menuangkan refleksi melalui sticky notes sebagai bagian dari evaluasi pengalaman belajar.
Sementara itu, tahap M — Measure digunakan untuk mengukur persepsi murid melalui kuesioner sekaligus mendukung proses diseminasi praktik baik kepada lingkungan sekolah dan rekan sejawat.
Dalam pelaksanaannya, GULA ASEM juga menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan gawai untuk mengakses gim daring. Solusi yang dilakukan adalah meminjamkan gawai guru atau memfasilitasi murid mengerjakan gim secara berpasangan.
Kendala lain muncul ketika murid harus menghafalkan dialog drama. Untuk mengatasinya, guru memberikan keleluasaan kepada murid menggunakan catatan ringkas atau note-taking secara terbatas selama penampilan.
Hasil penerapan menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen murid menyatakan pembelajaran speaking melalui Mini Drama Performance terasa autentik dan memiliki keterkaitan dengan dunia nyata. Penampilan secara berkelompok juga disebut memberikan dampak terhadap peningkatan kepercayaan diri murid dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Praktik baik tersebut kemudian didiseminasikan melalui artikel pada situs web sekolah serta dibagikan kepada rekan sejawat guru bahasa Inggris maupun guru dari rumpun mata pelajaran lainnya. Ke depan, kerangka GULA ASEM diarahkan untuk terus dikembangkan, termasuk kemungkinan memfasilitasi penampilan secara individu pada tahap Independent Construction of the Text (ICoT).
Setelah pemaparan selesai, kegiatan Berbagi Praktik Baik SMKN Jateng di Semarang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Peserta memperoleh kesempatan untuk mendalami berbagai strategi yang telah dipaparkan, baik mengenai penerapan Pembelajaran Mendalam maupun inovasi pembelajaran speaking melalui GULA ASEM.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama. Melalui forum tersebut, SMKN Jateng di Semarang kembali menegaskan pentingnya budaya berbagi dan belajar bersama sebagai bagian dari pengembangan kompetensi pendidik. Praktik yang dibagikan tidak hanya menjadi dokumentasi pengalaman, tetapi juga dapat menjadi bahan refleksi dan inspirasi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, autentik, menyenangkan, serta relevan dengan kebutuhan murid dan dunia kerja.

Beri Komentar