Sabtu, 03-10-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang, Khatib Ajak Jamaah Seimbangkan Doa dan Ikhtiar Hadapi Kemarau

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG — Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang pada Jumat, 2 Oktober 2026, berlangsung dengan penuh khidmat. Dalam khutbahnya, Khatib sekaligus Imam, Nur Khamim, mengajak seluruh jamaah untuk menghadapi fenomena kemarau panjang dengan memadukan doa, muhasabah atau introspeksi diri, serta ikhtiar melalui usaha nyata.

Khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang tersebut mengangkat tema tentang pentingnya kesadaran manusia terhadap keterbatasan diri sekaligus tanggung jawab untuk berusaha menghadapi persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar. Kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan air menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Nur Khamim menjelaskan bahwa kondisi kemarau yang berlangsung panjang seharusnya tidak hanya disikapi dengan menunggu turunnya hujan. Menurutnya, doa merupakan bentuk kesadaran manusia bahwa kehidupan sangat bergantung pada kehendak Allah SWT, sedangkan ikhtiar menjadi wujud tanggung jawab manusia dalam mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapi.

“Doa adalah bentuk kesadaran kita bahwa manusia memiliki keterbatasan dan sangat membutuhkan pertolongan Allah. Namun, doa tidak boleh membuat kita berhenti berusaha. Kita tetap harus melakukan ikhtiar nyata untuk menghadapi keadaan yang ada,” tutur Nur Khamim dalam khutbahnya.

Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang Bahas Dampak Kemarau Panjang

Dalam khutbah tersebut, Nur Khamim mengawali pembahasan dengan menggambarkan kondisi musim kemarau panjang yang sedang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan dalam materi khutbah, pada pertengahan September hingga Oktober 2026 sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.

Kondisi tersebut berpengaruh terhadap ketersediaan air di sejumlah wilayah. Air yang menjadi kebutuhan dasar manusia memiliki peran penting dalam berbagai aktivitas kehidupan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga pemeliharaan lingkungan.

Situasi itu, menurut Nur Khamim, perlu menjadi bahan renungan bersama. Manusia sering kali baru menyadari betapa pentingnya air ketika ketersediaannya mulai berkurang. Karena itu, kemarau panjang semestinya mendorong umat untuk melakukan muhasabah sekaligus mengambil langkah nyata agar sumber daya air dapat digunakan secara bijaksana.

“Muhasabah mengingatkan kita bahwa kita tidak berdaya tanpa pertolongan Allah. Tetapi setelah menyadari ketidakberdayaan itu, kita harus bergerak mencari solusi. Jangan hanya duduk dan menunggu keadaan berubah dengan sendirinya,” jelasnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu poin utama dalam Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang. Jamaah diajak memahami bahwa sikap berserah diri kepada Allah bukan berarti meninggalkan usaha. Sebaliknya, tawakal harus berjalan bersama ikhtiar yang dilakukan secara sungguh-sungguh.

Kisah Nabi Hud AS dan Pentingnya Istighfar serta Tobat

Untuk memperkuat pesan khutbah, Nur Khamim menyampaikan landasan dari Al-Qur’an, salah satunya QS. Hud ayat 52. Ayat tersebut memuat seruan Nabi Hud AS kepada kaumnya agar memohon ampun kepada Allah dan bertobat sehingga Allah menurunkan hujan yang lebat serta menambahkan kekuatan kepada mereka.

Menurut penjelasan yang disampaikan dalam khutbah, istighfar dan tobat tidak semestinya dipahami sebatas ucapan di lisan. Mengutip pemahaman Syekh Wahbah al-Zuhaili, istighfar dan tobat juga berkaitan dengan kesediaan seseorang untuk memperbaiki diri dan perilakunya.

Dengan demikian, muhasabah dalam menghadapi kemarau tidak berhenti pada kesadaran bahwa manusia membutuhkan air dan pertolongan Allah. Muhasabah juga harus mendorong perubahan perilaku, termasuk memperbaiki cara manusia memperlakukan lingkungan dan menggunakan sumber daya alam.

“Kalau kita beristighfar dan bertobat, maka harus ada kesediaan untuk memperbaiki diri. Jangan sampai kita meminta perubahan keadaan, tetapi perilaku kita sendiri tidak berubah,” kata Nur Khamim.

Teladan Umar bin Khattab: Menghindari Musibah Juga Bagian dari Ikhtiar

Dalam khutbahnya, Nur Khamim juga mengangkat sikap Umar bin Khattab ketika menghadapi wilayah yang sedang dilanda wabah. Umar memilih untuk tidak memasuki wilayah tersebut. Ketika ditanya mengenai keputusannya, ia menyampaikan ungkapan, “Kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

Ungkapan tersebut menjadi gambaran bahwa usaha manusia untuk mencegah atau mengurangi dampak suatu musibah bukan berarti menentang takdir Allah. Justru, tindakan preventif merupakan bagian dari ikhtiar yang juga berada dalam ketetapan Allah.

Dalam konteks kemarau panjang, sikap tersebut dapat diterapkan melalui berbagai langkah sederhana dan nyata. Menghemat penggunaan air, memperbaiki saluran air yang bocor, menjaga sumber air, serta mencari alternatif pemenuhan kebutuhan air merupakan bentuk usaha yang dapat dilakukan sesuai kemampuan masing-masing.

Pesan tersebut relevan diterapkan di lingkungan sekolah. Warga sekolah dapat mengambil bagian dalam menjaga penggunaan air agar tetap efisien. Kebiasaan sederhana seperti tidak membiarkan keran terbuka, menggunakan air sesuai kebutuhan, serta menjaga kebersihan lingkungan dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.

Shalat Istisqa Menjadi Teladan Ikhtiar Ibadah

Selain mengingatkan pentingnya usaha secara praktis, Nur Khamim menjelaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW juga memberikan teladan dalam menghadapi kondisi kekeringan. Salah satunya melalui pelaksanaan Shalat Istisqa, yaitu shalat yang dilakukan sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar diturunkan hujan.

Pelaksanaan Shalat Istisqa menunjukkan bahwa doa merupakan bagian penting dalam menghadapi kondisi sulit. Namun, doa tersebut hadir bersama kesadaran dan tindakan manusia untuk memohon pertolongan Allah.

Nur Khamim juga menjelaskan hikmah dari tindakan Rasulullah SAW yang membalikkan arah saat berkhutbah dalam pelaksanaan Shalat Istisqa. Perubahan arah tersebut dapat dimaknai sebagai simbol harapan agar keadaan yang sebelumnya mengalami paceklik dapat berubah menjadi kondisi yang subur dan membawa kemaslahatan.

“Dari Rasulullah kita belajar bahwa ketika menghadapi kekeringan, kita berdoa kepada Allah melalui Shalat Istisqa. Ada harapan agar keadaan berubah. Tetapi perubahan itu juga harus diikuti dengan usaha manusia untuk menjaga apa yang telah Allah berikan,” ungkapnya.

Kemarau Bukan Alasan Menuduh dan Menyalahkan Orang Lain

Lebih lanjut, khutbah Jumat juga mengingatkan jamaah agar tidak mudah mengaitkan fenomena kemarau dengan tuduhan kepada orang atau kelompok tertentu. Kemarau merupakan fenomena alam yang memiliki sebab-sebab klimatologis dan perlu dipahami secara bijak.

Dalam perspektif keagamaan, kondisi tersebut dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi tanpa menjadikan orang lain sebagai sasaran tuduhan. Sikap yang diperlukan adalah memperbaiki hubungan dengan Allah, memperbaiki perilaku manusia, serta melakukan berbagai upaya yang dapat membantu mengurangi dampak kemarau.

Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa pemahaman agama dan pengetahuan tentang fenomena alam dapat berjalan beriringan. Kesadaran spiritual mendorong manusia untuk berdoa dan bermuhasabah, sementara pengetahuan mendorong manusia memahami penyebab fenomena serta mencari langkah penanganan yang tepat.

Doa dan Ikhtiar untuk Kemaslahatan Bersama

Di akhir khutbah, Nur Khamim mengajak jamaah menjadikan kemarau panjang sebagai momentum untuk membangun kepedulian bersama. Menurutnya, menjaga lingkungan dan menghemat air bukan sekadar tindakan teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.

Menghadapi kemarau panjang tidak cukup hanya dengan berharap hujan segera turun. Harapan kepada Allah perlu diwujudkan melalui doa, sedangkan tanggung jawab manusia diwujudkan melalui ikhtiar yang konkret.

“Wajah Islam yang sesungguhnya adalah kita berdoa karena menyadari keterbatasan diri, tetapi pada saat yang sama kita tidak meninggalkan usaha. Kita bergerak untuk mengubah keadaan menuju kemaslahatan bersama,” pungkas Nur Khamim.

Pelaksanaan Sholat Jumat di Masjid Baitul Ilmi SMKN Jateng di Semarang pada Jumat, 2 Oktober 2026, pun menjadi momentum penguatan nilai spiritual sekaligus kepedulian sosial dan lingkungan bagi seluruh jamaah. Pesan tentang keseimbangan antara doa dan ikhtiar diharapkan tidak berhenti di dalam masjid, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kebiasaan menghemat air, menjaga lingkungan, dan bersama-sama mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak memahami bahwa doa dan ikhtiar bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya merupakan bagian yang saling melengkapi dalam menjalani kehidupan. Dengan bermuhasabah, manusia menyadari keterbatasannya; dengan berdoa, manusia memohon pertolongan Allah; dan melalui ikhtiar, manusia menjalankan tanggung jawabnya untuk menjaga kehidupan serta mewujudkan kemaslahatan bersama.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan