Senin, 05-10-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

SMKN Jateng di Semarang Ikuti Sosialisasi Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2026

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – SMKN Jateng di Semarang mengikuti sosialisasi pengisian kuesioner Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) beserta bukti dukungnya yang diselenggarakan oleh Tim Bidang Pengembangan Perpustakaan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Senin, 5 Oktober 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting sebagai bagian dari persiapan satuan pendidikan dalam memenuhi instrumen penilaian IPLM Tahun 2026.

Sosialisasi tersebut memberikan pemahaman kepada sekolah mengenai mekanisme pengisian kuesioner, indikator penilaian, dokumen pendukung yang harus disiapkan, serta berbagai aspek yang menjadi dasar pengukuran kinerja perpustakaan sekolah. Bagi SMKN Jateng di Semarang, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memastikan pengelolaan perpustakaan tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi penguatan budaya literasi warga sekolah.

Kegiatan yang diikuti oleh SMKN Jateng di Semarang tersebut disampaikan oleh Tim Bidang Pengembangan Perpustakaan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Materi sosialisasi secara khusus membahas pedoman penilaian kinerja perpustakaan sekolah atau madrasah, termasuk definisi operasional setiap indikator, bukti dukung yang diperlukan, upaya perbaikan, serta batas maksimal nilai pada masing-masing komponen.

Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat Menjadi Tolok Ukur Ekosistem Literasi

Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat atau IPLM merupakan indikator utama yang digunakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur kinerja pembangunan, penyelenggaraan, serta ketersediaan fasilitas perpustakaan sebagai wadah belajar sepanjang hayat di suatu wilayah.

IPLM menjadi salah satu tolok ukur penting atau Indikator Kinerja Kunci (IKK) bagi pemerintah daerah dalam mengevaluasi kualitas ekosistem literasi yang tersedia bagi masyarakat. Dalam konteks satuan pendidikan, indikator tersebut juga memberikan gambaran mengenai sejauh mana perpustakaan sekolah dikelola, dimanfaatkan, dan dikembangkan untuk mendukung proses pembelajaran serta budaya membaca.

Kepala SMKN Jateng di Semarang, Ardan Sirodjuddin, S.Pd., M.Pd., yang mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut mengatakan bahwa pemahaman mengenai IPLM penting bagi sekolah karena literasi tidak cukup dipandang sebagai aktivitas membaca semata. Menurutnya, keberadaan perpustakaan harus didukung dengan tata kelola, koleksi, layanan, sumber daya manusia, serta aktivitas yang benar-benar dimanfaatkan oleh warga sekolah.

“Pengetahuan mengenai Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) ini menjadi salah satu tolok ukur penting atau Indikator Kinerja Kunci (IKK) bagi sekolah untuk mengevaluasi seberapa baik ekosistem literasi yang kami sediakan bagi warga sekolah,” ujar Ardan.

Ia menambahkan, pemahaman terhadap indikator IPLM diharapkan dapat mendorong sekolah melakukan evaluasi secara lebih menyeluruh terhadap pengelolaan perpustakaan. Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan buku, tetapi berkembang menjadi pusat sumber belajar yang aktif, relevan, dan mampu mendukung kebutuhan peserta didik serta pendidik.

Formulasi Baru IPLM 2026 Tekankan Kinerja Perpustakaan

Dalam sosialisasi dijelaskan bahwa pengukuran IPLM Tahun 2026 mengalami sejumlah perubahan kebijakan dan formulasi. Perubahan tersebut diarahkan untuk menghasilkan data yang lebih akurat sekaligus mencerminkan asas kebermanfaatan nyata dari keberadaan perpustakaan.

Formulasi penilaian IPLM Tahun 2026 terbagi dalam dua dimensi utama, yaitu Dimensi Kinerja dengan bobot 70 persen dan Dimensi Kepatuhan dengan bobot 30 persen. Dimensi Kinerja menjadi fokus utama karena menilai kualitas pelayanan, pengelolaan, aktivitas pemanfaatan perpustakaan, serta dampak nyata layanan yang diberikan kepada masyarakat atau warga sekolah.

Sementara itu, Dimensi Kepatuhan menilai pemenuhan standar dasar perpustakaan, antara lain kecukupan koleksi, ketersediaan tenaga atau sumber daya manusia perpustakaan, serta sarana dan prasarana pendukung.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan gedung perpustakaan dan banyaknya koleksi buku saja tidak cukup untuk menggambarkan kualitas ekosistem literasi. Perpustakaan dituntut aktif memberikan layanan, dimanfaatkan oleh pemustaka, menyelenggarakan kegiatan literasi, serta memberikan dampak yang dapat dibuktikan melalui data dan dokumentasi.

Selain perubahan formulasi, teknik pengambilan data juga mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya pengumpulan data lebih banyak berbasis wilayah geografis, pada pengukuran tahun 2026 pendekatan dilakukan berdasarkan kewenangan. Hal ini bertujuan agar pembagian tanggung jawab pengelolaan dan pelaporan data perpustakaan antara pemerintah pusat, provinsi, serta kabupaten/kota dapat berlangsung lebih tertata dan objektif.

Integrasi Data Nasional melalui PADI

Sosialisasi juga membahas penguatan integrasi data melalui PADI atau Perpustakaan Terbuka Data Terintegrasi. Sistem tersebut dikembangkan untuk mengatasi persoalan data yang terfragmentasi, bias, maupun duplikasi yang dapat terjadi dalam proses pendataan.

Melalui integrasi antara Portal Pendataan Perpustakaan dengan aplikasi otomasi perpustakaan daerah seperti INLISLite maupun SLiMS, data yang digunakan dalam penghitungan IPLM diharapkan menjadi lebih bersih, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi sekolah, perkembangan tersebut semakin menegaskan pentingnya tertib administrasi dan dokumentasi pengelolaan perpustakaan. Setiap kegiatan, layanan, koleksi, pemanfaatan fasilitas, hingga penggunaan anggaran perlu memiliki bukti dukung yang jelas dan dapat diverifikasi.

IPLM Berbeda dengan Tingkat Kegemaran Membaca

Dalam sosialisasi juga dijelaskan perbedaan antara IPLM dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM). Kedua indikator tersebut saling berkaitan dalam menggambarkan kemajuan literasi, tetapi memiliki objek pengukuran yang berbeda.

IPLM mengukur aspek dari sisi hulu, yaitu kesiapan infrastruktur, fasilitas, kelembagaan, serta kinerja pelayanan perpustakaan. Sementara itu, TKM mengukur sisi hilir berupa perilaku, kebiasaan, dan frekuensi membaca masyarakat, mulai dari tahap sebelum membaca, saat membaca, hingga setelah membaca.

Dengan demikian, kualitas ekosistem literasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya perpustakaan dan koleksi, tetapi juga oleh seberapa jauh fasilitas tersebut digunakan dan mampu mendorong tumbuhnya budaya membaca.

Lima Aspek Utama Penilaian Perpustakaan Sekolah

Tim Bidang Pengembangan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah memaparkan sejumlah aspek yang harus dipersiapkan sekolah dalam penilaian kinerja perpustakaan. Periode penilaian utama untuk indikator “1 Tahun Terakhir” adalah 1 Oktober 2025 sampai dengan 30 September 2026.

Aspek pertama adalah pengembangan koleksi, baik tercetak maupun digital. Koleksi tercetak mencakup buku paket, buku fiksi dan nonfiksi, referensi, serta karya guru dan siswa. Sementara koleksi digital meliputi PDF, e-book, audio, video, dan berbagai bentuk sumber digital lainnya. Bukti dukung dapat berupa daftar koleksi, buku induk atau inventaris, serta tangkapan layar aplikasi otomasi perpustakaan seperti SLiMS atau INLISLite.

Aspek kedua berkaitan dengan anggaran pengembangan koleksi. Sumber pendanaan dapat berasal dari BOS maupun non-BOS, seperti APBD, hibah, yayasan, dan sumbangan masyarakat. Bukti dukung berupa daftar judul dan eksemplar koleksi beserta nominal anggaran yang telah ditandatangani kepala sekolah dan dibubuhi stempel.

Aspek ketiga adalah sumber daya manusia perpustakaan. Penilaian mencakup jumlah dan kualifikasi tenaga perpustakaan, baik kepala perpustakaan, pustakawan, maupun pengelola. Pengembangan keprofesian berkelanjutan juga menjadi bagian penilaian melalui kegiatan pelatihan, seminar, maupun workshop. Bukti dukung yang diperlukan antara lain SK tenaga perpustakaan, ijazah, sertifikat kegiatan pengembangan keprofesian, serta dokumen penggunaan anggaran.

Aspek keempat mencakup pemanfaatan, layanan, dan kegiatan literasi. Sekolah perlu mendokumentasikan jumlah peserta kegiatan penguatan budaya baca, pemustaka yang memanfaatkan layanan perpustakaan secara luring maupun daring, pemanfaatan fasilitas TIK, penggunaan koleksi, kegiatan literasi, serta kolaborasi dengan pihak eksternal.

Aspek kelima berkaitan dengan tata kelola dan anggaran layanan. Penilaian mencakup variasi layanan perpustakaan, ketersediaan kebijakan dan prosedur tertulis seperti tata tertib dan SOP, serta anggaran pelayanan dan pengelolaan perpustakaan. Bukti dukung berupa daftar layanan, dokumen kebijakan atau SOP, dan rekap penggunaan anggaran yang ditandatangani kepala sekolah.

SMKN Jateng Siapkan Bukti Dukung IPLM

Selain memahami indikator penilaian, peserta sosialisasi juga mendapatkan penjelasan mengenai persiapan yang harus dilakukan menjelang sesi pendampingan. Seluruh bukti dukung harus sudah diunggah ke Google Drive sekolah. Sekolah juga perlu membawa kuesioner cetak yang telah diisi dan ditandatangani oleh PIC IPLM, laptop, kabel roll, serta kebutuhan pendukung lainnya.

Bagi SMKN Jateng di Semarang, sosialisasi tersebut menjadi dasar untuk melakukan inventarisasi dan penataan dokumen perpustakaan. Seluruh data dan bukti dukung akan dipersiapkan secara sistematis agar dapat menggambarkan kondisi nyata pengelolaan serta pemanfaatan perpustakaan di lingkungan sekolah.

Melalui pemahaman yang lebih baik terhadap Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM), SMKN Jateng di Semarang berkomitmen terus memperkuat perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan budaya literasi. Pengelolaan berbasis data, peningkatan kualitas layanan, pengembangan koleksi, kompetensi tenaga perpustakaan, serta peningkatan partisipasi warga sekolah menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Kegiatan sosialisasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan literasi membutuhkan kerja bersama. Perpustakaan yang dikelola secara aktif, memiliki layanan yang relevan, didukung sumber daya yang memadai, dan benar-benar dimanfaatkan oleh warga sekolah diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran dan budaya literasi di SMKN Jateng di Semarang.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan