Senin, 14-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menghidupkan Nilai ASN BerAKHLAK di Ruang Praktik Vokasi

Diterbitkan : Senin, 14 September 2026

Dunia pendidikan kejuruan sedang bergerak dalam perubahan yang sangat cepat. Perkembangan teknologi, tuntutan dunia industri, pembaruan regulasi, hingga perubahan kebutuhan kompetensi tenaga kerja membuat ruang praktik tidak lagi cukup menjadi tempat siswa belajar. Ruang praktik juga menjadi tempat guru memperbarui pengetahuan, menguji keterampilan, dan memastikan bahwa apa yang diajarkan masih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Dalam situasi tersebut, guru kejuruan pada hakikatnya perlu kembali menjadi murid: terus belajar, berlatih, bertanya, mencoba, dan memperbaiki diri.

Perubahan itu terasa semakin nyata pada bidang Teknik Konstruksi dan Perumahan (TKP). Teknologi konstruksi berkembang, standar keselamatan semakin diperhatikan, material bangunan mengalami inovasi, dan proses perencanaan maupun pelaksanaan pekerjaan mulai memanfaatkan teknologi digital. Guru tidak mungkin hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh bertahun-tahun sebelumnya. Pengetahuan harus diperbarui, keterampilan harus diasah, dan wawasan tentang perkembangan industri harus terus diperluas.

Kondisi tersebut selaras dengan tuntutan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk menginternalisasikan nilai dasar atau core values BerAKHLAK dalam pelaksanaan tugas. Salah satu nilai penting yang menjadi fondasi profesionalisme ASN adalah Kompeten. Nilai ini menegaskan komitmen bahwa aparatur harus terus meningkatkan kompetensi diri dengan belajar secara berkelanjutan. Bagi guru kejuruan, nilai Kompeten memiliki makna yang sangat strategis karena kualitas guru akan berpengaruh langsung terhadap kualitas pembelajaran dan kompetensi lulusan.

Karena itu, penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) berbasis peningkatan kompetensi guru menjadi langkah penting setelah mengikuti pelatihan MOOC Sinau Bareng yang diselenggarakan oleh BPSDMD Provinsi Jawa Tengah. RTL bukan sekadar dokumen yang disusun untuk memenuhi kewajiban administrasi setelah pelatihan. RTL seharusnya menjadi peta jalan perubahan yang menjelaskan apa yang akan dilakukan, siapa yang terlibat, kapan dilaksanakan, serta bagaimana keberhasilannya diukur. Melalui RTL yang konkret, pengetahuan hasil pelatihan dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Nilai Kompeten sesungguhnya memiliki filosofi yang sederhana tetapi sangat dalam. Komitmen “Kami meningkatkan kompetensi diri dengan terus belajar” mengandung pesan bahwa proses pengembangan diri tidak pernah berhenti. Seorang guru tidak boleh merasa telah selesai belajar hanya karena telah memiliki pengalaman mengajar bertahun-tahun. Justru pengalaman tersebut harus menjadi modal untuk terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan.

Di lingkungan sekolah, perilaku kompeten dapat diwujudkan melalui tiga kebiasaan utama. Pertama, meningkatkan kapasitas dan kompetensi diri secara terus-menerus agar mampu menjawab tantangan zaman. Guru perlu aktif mencari sumber belajar, mengikuti pelatihan, membaca perkembangan teknologi, berdiskusi dengan praktisi, serta mempelajari praktik kerja terbaru yang relevan dengan bidang keahliannya.

Kedua, membantu orang lain belajar. Kompetensi seorang guru tidak seharusnya berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan yang diperoleh akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada rekan sejawat. Diskusi, dialog terbuka, berbagi pengalaman, dan memberikan kesempatan kepada rekan untuk menyampaikan pendapat dapat membangun budaya belajar bersama di sekolah. Dengan demikian, peningkatan kompetensi tidak menjadi perjalanan individual, tetapi berkembang menjadi gerakan kolektif.

Ketiga, melaksanakan setiap tugas dan rencana kerja instruksional dengan standar kualitas terbaik. Guru yang kompeten tidak hanya rajin mengikuti pelatihan, tetapi mampu menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam praktik. Perencanaan pembelajaran disusun dengan baik, kegiatan praktik dirancang sesuai kebutuhan kompetensi, keselamatan kerja diperhatikan, dan hasil belajar dievaluasi secara objektif. Kompetensi akhirnya harus terlihat dari kualitas pekerjaan dan dampak yang dihasilkan.

Bagi guru TKP, kebutuhan untuk terus belajar memiliki alasan yang sangat kuat. Dunia konstruksi memiliki standar, prosedur, dan teknologi yang terus berkembang. Penguasaan Standar Nasional Indonesia (SNI) bidang konstruksi menjadi bagian penting agar pembelajaran tidak terlepas dari ketentuan yang berlaku. Demikian pula pemahaman mengenai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) harus menjadi perhatian utama karena aktivitas konstruksi memiliki berbagai risiko yang perlu dikelola secara tepat.

Perkembangan teknologi juga menghadirkan kebutuhan baru. Salah satunya adalah Building Information Modeling (BIM), yaitu pendekatan digital dalam pengelolaan informasi bangunan yang dapat digunakan dalam proses perencanaan dan pengelolaan proyek konstruksi. Guru TKP perlu mengenal perkembangan tersebut agar pembelajaran tidak berhenti pada keterampilan konvensional. Peserta didik perlu diperkenalkan dengan teknologi yang semakin banyak digunakan di dunia kerja.

Selain teknologi digital, perkembangan material ramah lingkungan juga perlu menjadi perhatian. Dunia konstruksi menghadapi tuntutan untuk menghasilkan bangunan yang semakin efisien dan memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Guru perlu memiliki wawasan tentang perkembangan material dan teknologi tersebut agar mampu menghubungkan pembelajaran di sekolah dengan perubahan yang terjadi di lapangan.

Peningkatan kompetensi juga dapat diperkuat melalui sertifikasi profesional. Keikutsertaan guru dalam uji kompetensi dan pembaruan sertifikat keahlian melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) menjadi salah satu bentuk upaya memastikan bahwa kemampuan yang dimiliki sesuai dengan standar kompetensi yang dipersyaratkan. Sertifikasi bukan sekadar dokumen pengakuan, tetapi dapat menjadi sarana bagi guru untuk mengukur kemampuan profesional sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu ditingkatkan.

Hubungan dengan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA) juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Sekolah tidak dapat mengembangkan kompetensi vokasi hanya berdasarkan perspektif internal. Guru perlu berinteraksi dengan industri untuk mengetahui teknologi, standar kerja, budaya kerja, serta kompetensi yang benar-benar dibutuhkan. Program magang guru atau upskilling/reskilling dapat menjadi sarana untuk memperbarui pengalaman praktis sekaligus memperkuat keselarasan kurikulum melalui prinsip link and match.

Atas dasar kebutuhan tersebut, RTL peningkatan kompetensi guru TKP perlu dirancang secara sistematis. Kerangka 5W+1H dapat digunakan agar setiap program memiliki arah yang jelas: what, apa yang dilakukan; why, mengapa perlu dilakukan; who, siapa yang terlibat; when, kapan dilaksanakan; where, di mana kegiatan berlangsung; dan how, bagaimana kegiatan dilaksanakan. Kolaborasi guru TKP dengan kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, serta siswa menjadi penting agar program tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dalam satu semester, program pertama dapat diarahkan pada pelatihan dan webinar yang membahas perkembangan teknologi konstruksi, K3, dan SNI. Kegiatan ini dapat menjadi ruang pembaruan pengetahuan bagi guru. Materi yang diperoleh kemudian tidak berhenti sebagai catatan pribadi, tetapi dapat diolah menjadi bahan pembelajaran, lembar kerja, demonstrasi praktik, atau referensi untuk memperbaiki proses pembelajaran di bengkel.

Program kedua adalah penguatan sertifikasi keahlian melalui uji kompetensi di LSP. Guru dapat memetakan terlebih dahulu kompetensi yang telah dimiliki dan kompetensi yang perlu diperkuat. Dengan demikian, proses sertifikasi sekaligus menjadi bagian dari evaluasi profesional. Targetnya bukan sekadar memiliki sertifikat, tetapi memastikan kompetensi guru terus berkembang dan relevan dengan kebutuhan bidang konstruksi.

Program ketiga berupa magang atau studi industri. Kegiatan dapat dilaksanakan pada masa libur semester sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran. Guru memperoleh kesempatan melihat secara langsung bagaimana pekerjaan konstruksi dilaksanakan di lapangan, teknologi apa yang digunakan, bagaimana standar keselamatan diterapkan, dan kompetensi apa yang dibutuhkan tenaga kerja. Pengalaman tersebut kemudian dapat diolah menjadi bahan ajar berbasis industri yang lebih kontekstual.

Program keempat adalah menghidupkan forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat kota. Forum ini dapat menjadi ruang berbagi praktik baik atau sharing good practices antarpendidik. Guru dapat mendiskusikan metode pembelajaran, perkembangan teknologi, kendala praktik, penyusunan perangkat pembelajaran, hingga strategi meningkatkan kompetensi siswa. Kolaborasi semacam ini akan memperluas sumber belajar guru sekaligus mengurangi kecenderungan bekerja secara individual.

Program kelima adalah memperkuat pembelajaran berbasis proyek melalui Teaching Factory. Siswa tidak hanya mempelajari teori atau melakukan latihan yang terpisah dari dunia nyata, tetapi dilibatkan dalam proses menghasilkan produk konstruksi yang konkret di bengkel praktik. Guru berperan sebagai fasilitator sekaligus pembimbing yang memastikan proses kerja berjalan sesuai standar. Melalui pengalaman tersebut, siswa dapat mengembangkan keterampilan teknis sekaligus belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, kualitas, dan budaya kerja.

Program keenam adalah evaluasi mandiri melalui penyusunan portofolio kinerja secara berkala. Portofolio dapat memuat bukti pelatihan, sertifikasi, bahan ajar yang dikembangkan, dokumentasi kegiatan praktik, hasil proyek siswa, pengalaman industri, kontribusi dalam MGMP, serta refleksi terhadap proses pembelajaran. Pada akhir semester, portofolio tersebut menjadi bahan untuk melihat sejauh mana kompetensi guru berkembang dan perubahan apa yang telah dihasilkan.

Agar RTL tidak berhenti sebagai rencana, diperlukan roadmap yang realistis. Bulan pertama dapat digunakan untuk sosialisasi dan pemetaan kebutuhan kompetensi. Guru bersama pihak sekolah mengidentifikasi kesenjangan kompetensi berdasarkan tuntutan pembelajaran dan kebutuhan industri. Bulan kedua diarahkan pada pelatihan atau webinar. Bulan ketiga dapat difokuskan pada persiapan dan pelaksanaan sertifikasi. Bulan keempat menjadi momentum pelaksanaan studi atau magang industri. Bulan kelima digunakan untuk penguatan MGMP dan implementasi pembelajaran berbasis proyek. Bulan keenam ditutup dengan evaluasi, penyusunan portofolio, dan laporan hasil pelaksanaan.

Keberhasilan program perlu diukur melalui indikator yang jelas. Salah satu tolok ukurnya adalah minimal 80 persen guru TKP memiliki sertifikat kompetensi keahlian yang aktif. Indikator berikutnya adalah terlaksananya minimal enam kegiatan pengembangan diri guru dalam satu semester. Dari sisi peserta didik, diharapkan keterlibatan mencapai 100 persen dalam pembelajaran berbasis proyek nyata. Selain itu, sekolah menargetkan terjalinnya minimal satu kemitraan baru dengan DUDIKA konstruksi sebagai bagian dari penguatan hubungan antara sekolah dan dunia kerja.

Angka-angka tersebut bukan sekadar target administratif. Di balik setiap indikator terdapat tujuan yang lebih besar, yaitu memastikan bahwa peningkatan kompetensi guru memberikan dampak terhadap pembelajaran. Jika guru semakin terampil menggunakan teknologi, siswa harus mendapatkan pengalaman belajar yang lebih relevan. Jika guru memahami perkembangan industri, bahan ajar harus semakin kontekstual. Jika kerja sama dengan DUDIKA semakin kuat, siswa harus memperoleh akses pengalaman kerja yang semakin baik.

Di sinilah akuntabilitas menjadi bagian penting dari nilai Kompeten. Setiap program yang direncanakan harus dilaksanakan dengan tanggung jawab dan dilaporkan secara transparan kepada kepala sekolah. Keberhasilan maupun kendala perlu dicatat sebagai bahan evaluasi. Guru tidak perlu takut mengakui bahwa sebuah program belum berjalan sesuai harapan. Justru dari kejujuran dalam mengevaluasi itulah perbaikan dapat dilakukan.

Nilai Kompeten dengan demikian tidak boleh berhenti sebagai slogan di dinding sekolah. Kompeten harus hadir dalam kebiasaan guru membaca, belajar, berdiskusi, mengikuti pelatihan, mengembangkan keterampilan, bekerja sama dengan industri, dan mengevaluasi praktik pembelajaran. Guru yang kompeten adalah guru yang menyadari bahwa dirinya masih memiliki ruang untuk berkembang dan tidak pernah berhenti mencari cara untuk memberikan pembelajaran terbaik bagi peserta didik.

Ruang praktik vokasi menjadi tempat yang sangat tepat untuk membuktikan semangat tersebut. Di sana, guru dan siswa belajar dalam suasana yang dinamis. Kesalahan diperbaiki, keterampilan diasah, alat digunakan dengan penuh tanggung jawab, dan hasil pekerjaan diuji berdasarkan standar. Ruang praktik bukan hanya tempat menghasilkan produk, tetapi juga tempat membentuk karakter kerja.

Ketika guru terus belajar, siswa akan melihat bahwa belajar bukan kewajiban yang hanya berlaku bagi mereka. Ketika guru berani mempelajari teknologi baru, siswa mendapatkan teladan tentang pentingnya adaptasi. Ketika guru terbuka terhadap kritik dan masukan, siswa belajar bahwa profesionalisme membutuhkan kerendahan hati. Ketika guru bekerja dengan standar terbaik, siswa belajar bahwa kualitas merupakan bagian dari tanggung jawab.

Pada akhirnya, menghidupkan nilai ASN BerAKHLAK di ruang praktik vokasi berarti menjadikan nilai tersebut sebagai perilaku nyata. Kompeten bukan hanya tentang seberapa banyak pelatihan yang telah diikuti, tetapi seberapa jauh pengetahuan dan keterampilan baru mampu mengubah kualitas pekerjaan. RTL menjadi jembatan yang menghubungkan pembelajaran guru dengan perubahan nyata di sekolah.

Melalui guru-guru yang kompeten, berdedikasi, dan mau terus belajar, sekolah kejuruan memiliki peluang besar untuk menjadi ujung tombak dalam menyiapkan generasi muda yang siap menghadapi dunia kerja. Lulusan tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan beradaptasi, bekerja sama, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat.

Sebab, guru yang berhenti belajar akan kesulitan menyiapkan siswa menghadapi masa depan yang terus berubah. Sebaliknya, guru yang menjadikan belajar sebagai budaya akan mampu membawa pembelajaran semakin dekat dengan kebutuhan zaman. Dari ruang praktik yang sederhana, perubahan besar dapat dimulai: guru belajar, siswa berkembang, sekolah bertransformasi, dan dunia kerja mendapatkan lulusan yang lebih siap.

Itulah hakikat nilai Kompeten. Bukan sekadar slogan, bukan pula sekadar tuntutan administratif, melainkan komitmen untuk terus bertumbuh demi memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Ketika kompetensi dibangun dengan ketekunan, integritas dijaga dalam setiap tindakan, dan hasilnya diarahkan untuk kepentingan peserta didik, maka nilai BerAKHLAK benar-benar hidup—bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di setiap ruang praktik tempat masa depan generasi bangsa sedang ditempa.

Penulis : Adam Firnanda, Guru Plumbing SMKN Jateng di Semarang

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan