Senin, 14-09-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru SMKN Jateng di Semarang Ikuti Training Safe & Smart 2026, Perkuat Perlindungan Anak di Ruang Digital

Diterbitkan : - Kategori : Berita

YOGYAKARTA – Komitmen meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi digital terus dilakukan oleh SMKN Jateng di Semarang. Salah satunya melalui keikutsertaan Muhammad Sabil Abdul Aziz, guru SMKN Jateng di Semarang, dalam kegiatan Offline Training Safe & Smart 2026 yang diselenggarakan oleh BerdayaBareng bersama British Embassy Jakarta.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Jumat–Sabtu, 11–12 September 2026, bertempat di BBGTK DIY, Jalan Kaliurang Km 6, Sleman, Yogyakarta. Keikutsertaan Muhammad Sabil Abdul Aziz berdasarkan surat undangan dari BerdayaBareng Nomor 319/BB/SU/IX/2026 perihal Undangan dan Permohonan Izin Mengikuti Offline Training Safe & Smart 2026.

Training Safe & Smart 2026 merupakan program penguatan kapasitas guru yang berfokus pada literasi digital, keamanan online, serta perlindungan anak di ruang digital. Program ini dirancang untuk membekali pendidik agar mampu memahami berbagai peluang sekaligus tantangan yang muncul seiring semakin intensifnya penggunaan teknologi dan media sosial dalam kehidupan peserta didik.

Bagi dunia pendidikan, kemampuan memahami keamanan digital menjadi semakin penting. Peserta didik saat ini tidak hanya berinteraksi dan belajar di lingkungan sekolah, tetapi juga beraktivitas di ruang digital yang menghadirkan beragam risiko, mulai dari penyebaran informasi yang tidak benar, perundungan siber, paparan konten berbahaya, hingga ancaman terhadap privasi dan keamanan data pribadi.

Muhammad Sabil Abdul Aziz mengatakan, keikutsertaannya dalam pelatihan tersebut menjadi kesempatan penting untuk memperluas wawasan sekaligus memperoleh pengalaman yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah.

“Kegiatan Safe & Smart 2026 memberikan banyak wawasan baru bagi kami sebagai guru, terutama bagaimana mendampingi anak agar dapat menggunakan ruang digital secara aman, kritis, bijak, dan bertanggung jawab,” ujar Muhammad Sabil Abdul Aziz.

Menurutnya, pendidikan literasi digital tidak cukup hanya dengan mengajarkan cara menggunakan perangkat dan aplikasi digital. Lebih jauh, peserta didik perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, memahami risiko, menjaga privasi, serta memiliki kesadaran untuk melindungi diri dan orang lain ketika beraktivitas di internet.

Kegiatan offline di Yogyakarta tersebut merupakan kelanjutan dari proses pembelajaran daring yang sebelumnya telah diikuti peserta selama 18 hari. Pertemuan tatap muka dirancang untuk memperdalam materi melalui diskusi, praktik, studi kasus, refleksi, serta berbagi pengalaman berdasarkan kondisi dan konteks sekolah masing-masing peserta.

Dalam pelaksanaannya, para peserta mendapatkan pendalaman sejumlah materi strategis. Di antaranya dasar-dasar literasi digital dan keamanan online, pemahaman mengenai risiko online dan perlindungan anak, berpikir kritis dan bijak dalam bermedia sosial, hingga membangun ruang digital yang inklusif dan responsif gender.

Materi lainnya yang menjadi perhatian adalah pembelajaran dan implementasi Child Online Protection (COP) di sekolah. Materi ini menjadi salah satu bagian penting karena perlindungan anak di ruang digital membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik.

Selain itu, peserta juga diajak memahami aspek pengasuhan dan ketahanan anak di era digital. Pemahaman tersebut diperlukan agar guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga mampu menjadi pendamping bagi peserta didik ketika menghadapi berbagai persoalan yang muncul akibat penggunaan teknologi.

“Yang paling penting adalah bagaimana pengetahuan yang kami dapatkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Ada tanggung jawab untuk meneruskan dan menerapkannya di lingkungan sekolah, baik kepada peserta didik maupun kepada orang tua atau wali murid,” kata Sabil.

Sebagai tindak lanjut pelatihan, terdapat tiga agenda yang perlu dilakukan peserta. Pertama, menyampaikan sosialisasi mengenai Child Online Protection kepada orang tua atau wali murid secara daring melalui grup wali kelas. Langkah ini dinilai penting karena perlindungan anak di dunia digital tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah.

Orang tua memiliki peran strategis dalam membangun kebiasaan digital yang sehat di lingkungan keluarga. Komunikasi antara sekolah dan orang tua diharapkan dapat menciptakan pemahaman bersama mengenai bagaimana mendampingi anak menggunakan internet, media sosial, dan berbagai perangkat digital secara aman.

Tindak lanjut kedua adalah melakukan modifikasi terhadap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan memasukkan nilai-nilai perubahan karakter yang berkaitan dengan Child Online Protection. Integrasi tersebut diharapkan dapat membuat nilai-nilai keamanan, tanggung jawab, etika, dan perlindungan diri di ruang digital menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Sementara itu, tindak lanjut ketiga berupa kegiatan diseminasi secara berkelompok yang akan dilaksanakan di SMPN 1 Lendah, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Kamis, 8 Oktober 2026. Melalui kegiatan tersebut, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti Safe & Smart 2026 diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pendidik.

Bagi Muhammad Sabil Abdul Aziz, proses berbagi pengetahuan menjadi bagian penting dari keberlanjutan program. Menurutnya, tantangan dunia digital berkembang sangat cepat sehingga guru perlu terus memperbarui pengetahuan dan kemampuan agar pendampingan kepada peserta didik tetap relevan.

“Guru harus terus belajar karena perkembangan teknologi sangat cepat. Apa yang aman dan relevan hari ini bisa menghadapi tantangan baru di kemudian hari. Karena itu, literasi digital dan perlindungan anak harus menjadi proses yang berkelanjutan,” tuturnya.

Keikutsertaan guru SMKN Jateng di Semarang dalam Offline Training Safe & Smart 2026 juga menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman di era digital. Kerja sama antara lembaga pendidikan, guru, orang tua, komunitas, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap perlindungan anak menjadi modal penting untuk menghadirkan ruang digital yang sehat.

Melalui kegiatan tersebut, diharapkan guru tidak hanya semakin memahami teknologi, tetapi juga mampu menempatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang aman, inklusif, dan berorientasi pada perkembangan karakter peserta didik.

Pada akhirnya, perlindungan anak di ruang digital bukan sekadar persoalan kemampuan menggunakan perangkat teknologi. Lebih dari itu, diperlukan kesadaran, kecakapan berpikir kritis, etika, serta kolaborasi antara sekolah dan keluarga. Semangat inilah yang menjadi salah satu pesan utama dari Safe & Smart 2026 dan diharapkan dapat terus diterapkan dalam praktik pendidikan, termasuk di lingkungan SMKN Jateng di Semarang.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan