Jumat, 28-08-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

EduMind Wellbeing & AI Camp Bekali Guru dan Siswa Keterampilan Membaca Potensi, Mencegah Bullying, dan Merancang Masa Depan

Diterbitkan : - Kategori : Berita

SEMARANG – Rangkaian EduMind Wellbeing & AI Camp hari kedua memasuki sesi yang semakin interaktif dengan menghadirkan pembelajaran berbasis teknologi, pengenalan potensi diri, psikoedukasi, hingga praktik penyusunan rencana aksi. Kegiatan ini menjadi ruang bagi guru dan siswa untuk memahami pentingnya pemanfaatan data dalam mengenali bakat, minat, karakter, serta berbagai risiko yang dapat memengaruhi perkembangan peserta didik.

Pada rangkaian kegiatan tersebut, peserta mengikuti sejumlah sesi yang dirancang tidak hanya untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif melalui praktik, diskusi kelompok, asesmen, dan refleksi. Pendekatan tersebut membuat peserta tidak sekadar menerima materi, melainkan langsung mencoba menggunakan perangkat dan metode yang diperkenalkan dalam kegiatan.

Sesi pertama diawali dengan EduMind Platform Introduction yang disampaikan oleh Rika Anggia. Pada sesi ini peserta diperkenalkan dengan berbagai fitur dan fungsi platform EduMind, mulai dari mood check-in, sistem pelaporan, hingga student dashboard. Pengenalan tersebut memberikan gambaran bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu sekolah memperoleh informasi yang lebih terstruktur mengenai kondisi dan perkembangan siswa.

Melalui fitur mood check-in, misalnya, peserta dikenalkan pada cara memantau kondisi emosional siswa sebagai salah satu informasi pendukung dalam proses pendampingan. Sementara sistem pelaporan dan student dashboard memberikan gambaran bagaimana data siswa dapat ditampilkan dan dimanfaatkan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat.

Pembahasan kemudian dilanjutkan melalui sesi Multiple Intelligent Career Path & Personal Growth Insight yang dibawakan Mutiara Hikma. Sesi ini mengajak peserta melihat perkembangan siswa secara lebih menyeluruh, terutama berkaitan dengan potensi diri, pilihan jalur karier, dan pertumbuhan personal.

Bagi siswa, pengenalan terhadap bakat dan minat sejak dini menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengembangan diri. Siswa tidak hanya diajak mengenali kemampuan yang dimiliki, tetapi juga memahami karakter dan kecenderungan dirinya sehingga dapat mengeksplorasi potensi secara lebih terarah.

Perspektif mengenai transformasi digital pendidikan turut diperkuat melalui pemaparan bersama Pijar Telkom yang disampaikan Rico Putra. Perkembangan teknologi digital dinilai membuka peluang semakin luas bagi satuan pendidikan untuk menghadirkan layanan pembelajaran dan pendampingan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa.

Transformasi digital dalam pendidikan bukan semata-mata penggunaan perangkat teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Lebih dari itu, teknologi dapat menjadi instrumen untuk membantu guru memahami peserta didik berdasarkan informasi yang tersedia sehingga proses pendampingan dapat dilakukan secara lebih personal dan kontekstual.

Setelah memperoleh pemahaman mengenai platform dan potensi pemanfaatan data, peserta memasuki sesi workshop. Dalam kegiatan yang dipandu Mutiara dan Alwan tersebut, guru melakukan praktik simulasi deteksi risiko berbasis data dengan menggunakan website EduMind.

Sesi praktik menjadi bagian penting karena guru tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi memperoleh pengalaman langsung dalam membaca dan memanfaatkan informasi yang tersedia. Melalui simulasi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana data dapat menjadi salah satu dasar untuk mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan perhatian dan tindak lanjut.

Keterampilan tersebut semakin relevan dalam pelaksanaan layanan pendidikan yang menempatkan siswa sebagai individu dengan karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Guru diharapkan mampu memadukan hasil asesmen dengan pengamatan, komunikasi, serta pengalaman interaksi sehari-hari bersama siswa.

Guru pendamping SMKN Jateng di Semarang, Rizki Umu Amalia, menilai materi yang diperoleh memberikan wawasan penting bagi guru dalam mengenali potensi peserta didik.

“Materi yang didapatkan hari ini memberikan wawasan dan strategi bagi guru untuk lebih peka dalam mengidentifikasi bakat dan minat murid, baik melalui pengamatan, komunikasi, maupun kegiatan pembelajaran,” ujar Umu.

Menurutnya, pemahaman terhadap potensi siswa sejak dini dapat membantu guru memberikan dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

“Dengan mengenali potensi murid sejak dini, guru dapat memberikan bimbingan dan dukungan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid,” lanjutnya.

Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut pada sesi psikoedukasi yang dipandu Heggy dan Aline. Materi tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk memahami aspek psikologis dan sosial yang berkaitan dengan kehidupan siswa di lingkungan sekolah.

Psikoedukasi menjadi semakin bermakna karena peserta tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga melihat persoalan yang mungkin muncul dalam interaksi sehari-hari. Salah satunya adalah pemahaman mengenai perbedaan antara candaan dan bullying.

Guru pendamping lainnya, Iga Fitriastika, melihat adanya perubahan pemahaman siswa setelah mengikuti kegiatan tersebut. “Dengan adanya kegiatan ini, siswa lebih memahami perbedaan antara ‘bercanda’ dengan ‘bullying’,” katanya.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena perilaku yang dianggap sebagai candaan oleh sebagian siswa belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh siswa lainnya. Dengan pemahaman yang lebih baik, siswa diharapkan mampu membangun interaksi yang sehat, menghargai batasan orang lain, serta lebih peka terhadap dampak perilaku terhadap teman sebaya.

Setelah sesi psikoedukasi, peserta mengikuti group work yang juga dipandu Heggy dan Aline. Dalam kegiatan ini, peserta berdiskusi dalam kelompok dan menyusun rencana aksi menggunakan poster psikoedukasi.

Aktivitas kelompok memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengolah kembali materi yang telah diterima dan menerjemahkannya menjadi gagasan yang lebih konkret. Diskusi juga mendorong peserta untuk saling bertukar pandangan, mengidentifikasi persoalan, serta memikirkan langkah yang dapat dilakukan setelah kegiatan berakhir.

Setiap kelompok kemudian memperoleh kesempatan untuk menunjukkan hasil kerja yang telah disusun. Penilaian dilakukan oleh juri dan tim melalui sesi penilaian kelompok. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi sekaligus memberikan pengalaman kepada peserta untuk mempertanggungjawabkan gagasan yang telah mereka hasilkan secara kolaboratif.

Tidak berhenti pada kegiatan praktik dan presentasi, peserta juga mengikuti post-test yang dipandu Rika dan Najwa. Evaluasi akhir tersebut digunakan untuk mengetahui pemahaman peserta setelah mengikuti rangkaian kegiatan sekaligus dilengkapi dengan pengisian kuesioner mengenai dampak kegiatan.

Melalui post-test dan kuesioner, penyelenggara dapat memperoleh gambaran mengenai pengalaman peserta serta sejauh mana materi yang diberikan memberikan manfaat bagi mereka. Evaluasi juga menjadi bahan penting untuk melihat aspek-aspek yang dapat dikembangkan dalam pelaksanaan program berikutnya.

Bagi siswa, kegiatan tersebut memberikan pengalaman berbeda dalam memahami dirinya sendiri. Asesmen yang dilakukan melalui EduMind membantu siswa memperoleh gambaran mengenai bakat, minat, karakter, dan kemampuan yang dapat dikembangkan.

Iga Fitriastika mengatakan, siswa mulai memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai dirinya setelah mengikuti proses asesmen.

“Siswa memiliki pandangan dan mulai mengerti bakat minatnya, mengerti tipikal dirinya dan bagaimana menyikapi serta mengeksplorasi kemampuannya melalui asesmen yang dilakukan oleh EduMind,” ungkapnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa teknologi dapat ditempatkan sebagai alat bantu dalam proses pengembangan potensi siswa. Namun, pemanfaatannya tetap membutuhkan peran guru untuk memberikan konteks, melakukan komunikasi, serta memberikan pendampingan berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi peserta didik.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang dan penutup yang dipandu oleh pembawa acara. Suasana kebersamaan semakin terasa dalam sesi foto bersama yang mempertemukan peserta, guru pendamping, narasumber, serta tim penyelenggara.

EduMind Wellbeing & AI Camp pada akhirnya tidak hanya memperkenalkan sebuah platform digital. Kegiatan ini mempertemukan teknologi, pendidikan, kesehatan psikososial, pengembangan potensi, dan kolaborasi dalam satu rangkaian pengalaman belajar.

Bagi guru, kegiatan tersebut memberikan bekal untuk semakin peka membaca kebutuhan dan potensi siswa. Bagi siswa, kegiatan menjadi kesempatan untuk mengenali diri, memahami bakat dan minat, serta belajar membangun relasi sosial yang lebih sehat.

Integrasi antara data dan sentuhan manusia menjadi pesan penting dari rangkaian kegiatan tersebut. Data dapat membantu memberikan gambaran, teknologi dapat mempercepat proses, tetapi guru tetap memiliki peran penting dalam menerjemahkan informasi menjadi pendampingan yang bermakna bagi setiap siswa

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan