Pagi hari di sekolah seharusnya diawali dengan keceriaan. Anak-anak datang dengan seragam rapi, tawa ringan, dan langkah bersemangat menuju kelas. Namun di salah satu sudut Desa Kasegeran, suasana pagi kerap dibayangi kegelisahan yang tak kasatmata. Bukan karena kurangnya guru, bukan pula karena minimnya semangat belajar, melainkan karena sesuatu yang sangat mendasar: air bersih. Di sekolah ini, air bukan sekadar fasilitas penunjang, melainkan kebutuhan yang selalu dihitung, dijaga, dan sering kali terasa tidak pernah cukup. Setiap tetesnya menjadi begitu berharga karena harus dibagi oleh 216 siswa yang menggantungkan aktivitas harian mereka pada pasokan air yang terbatas.
Air memegang peranan penting dalam setiap denyut kehidupan sekolah. Dari hal paling sederhana seperti mencuci tangan sebelum masuk kelas, membersihkan diri setelah beraktivitas, hingga melaksanakan wudhu bagi siswa yang menjalankan ibadah, semuanya memerlukan ketersediaan air yang layak. Ketika air tidak mengalir dengan lancar, aktivitas-aktivitas tersebut menjadi terhambat, bahkan kadang terpaksa diabaikan. Kebersihan lingkungan sekolah pun ikut terancam. Lantai kamar mandi yang tidak terbilas sempurna, tempat cuci tangan yang kering, dan wajah-wajah kecil yang menahan diri untuk sekadar membasuh tangan, menjadi potret keseharian yang menyentuh sisi emosional siapa pun yang melihatnya. Bayangkan 216 siswa, dengan segala kebutuhan tumbuh kembangnya, harus berbagi air yang jumlahnya jauh dari ideal.
Kondisi ini tidak muncul tanpa sebab. Sekolah telah lama berupaya memanfaatkan sumber air yang tersedia di lingkungan sekitar. Salah satunya adalah program Pamsimas yang sejatinya menjadi harapan bersama warga desa. Namun karena sumber air tersebut digunakan secara bersama-sama oleh masyarakat, pasokan yang sampai ke sekolah sering kali tidak mencukupi. Pada jam-jam tertentu, terutama ketika kebutuhan warga meningkat, aliran air ke sekolah menjadi sangat kecil atau bahkan berhenti sama sekali. Di sisi lain, jaringan PDAM belum menjangkau Desa Kasegeran. Ketiadaan infrastruktur ini membuat sekolah tidak memiliki alternatif pasokan air yang lebih stabil dan terjamin kualitasnya.
Dampak dari keterbatasan air ini terasa nyata dalam kehidupan sekolah. Fasilitas sanitasi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Kesehatan siswa berpotensi terganggu karena kebiasaan hidup bersih dan sehat sulit diterapkan secara konsisten. Guru pun sering kali harus mengingatkan siswa untuk menghemat air, bahkan menunda kegiatan tertentu demi memastikan air cukup hingga akhir hari. Kenyamanan belajar ikut terpengaruh. Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan sehat bagi anak-anak, harus berjuang menghadapi keterbatasan yang sebenarnya berada di luar kendali mereka.
Situasi ini mendorong pihak sekolah untuk tidak tinggal diam. Kesadaran bahwa masalah air bersih tidak bisa diselesaikan secara sepihak menjadi pemicu lahirnya ruang diskusi yang melibatkan berbagai pihak. Pertemuan antara pihak sekolah, komite sekolah, dan kepala desa pun digelar. Dalam suasana sederhana namun penuh kesungguhan, setiap pihak menyampaikan pandangan dan kepeduliannya. Kepala desa memahami bahwa sekolah adalah jantung masa depan desa. Komite sekolah menyuarakan keresahan yang selama ini dirasakan bersama. Pihak sekolah menjelaskan kondisi riil yang dihadapi setiap hari, lengkap dengan dampaknya bagi siswa.
Yang mengharukan adalah keterlibatan paguyuban orang tua murid. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata kepedulian terhadap lingkungan belajar anak-anak mereka. Para orang tua mendengarkan dengan seksama, bertanya, dan menyampaikan masukan. Ada rasa empati yang kuat ketika mereka membayangkan anak-anak harus menahan haus atau tidak leluasa menjaga kebersihan diri di sekolah. Semangat musyawarah terasa begitu kental. Tidak ada nada menyalahkan, yang ada hanyalah keinginan bersama untuk menemukan solusi jangka panjang yang benar-benar menjawab kebutuhan sekolah.
Dari proses diskusi yang terbuka dan penuh rasa saling percaya itulah, lahir sebuah kesepakatan penting. Solusi yang dianggap paling memungkinkan dan berkelanjutan adalah pembuatan sumur bor. Dengan memiliki sumber air mandiri, sekolah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan bersama yang terbatas. Sumur bor dipandang sebagai investasi jangka panjang demi kesehatan, kenyamanan, dan keberlangsungan proses pendidikan. Keputusan ini bukan diambil secara tergesa-gesa, melainkan melalui pertimbangan matang tentang manfaat, risiko, dan tanggung jawab bersama yang menyertainya.
Dukungan penuh datang dari paguyuban orang tua murid. Dengan semangat kebersamaan, mereka menyatakan kesediaan untuk membantu pembiayaan pembuatan sumur bor. Bagi mereka, ini bukan sekadar urusan infrastruktur, melainkan bentuk cinta dan tanggung jawab terhadap masa depan anak-anak. Setiap rupiah yang disumbangkan menjadi simbol kepedulian dan harapan. Gotong royong yang selama ini menjadi nilai luhur masyarakat, menemukan wujud nyatanya dalam tindakan kolektif yang berdampak langsung.
Bagi kepala sekolah, momen ini menjadi refleksi yang mendalam. Ada rasa syukur yang tulus melihat kepedulian orang tua yang begitu besar terhadap sekolah. Dalam keterbatasan regulasi, di mana kebutuhan air bersih tidak dapat dianggarkan melalui dana BOS, kebersamaan menjadi jawaban yang paling realistis dan bermakna. Kepala sekolah menyadari bahwa sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan orang tua dan masyarakat adalah kekuatan yang tidak ternilai, yang mampu mengisi celah-celah yang tidak terjangkau oleh kebijakan formal.
Harapan pun tumbuh agar kepedulian ini tidak berhenti pada pembangunan sumur bor semata. Lebih dari itu, diharapkan terjalin hubungan yang semakin erat antara sekolah dan orang tua dalam memajukan pendidikan. Ketika orang tua merasa menjadi bagian dari sekolah, ketika sekolah membuka diri terhadap partisipasi masyarakat, maka berbagai tantangan akan lebih mudah dihadapi bersama. Air bersih menjadi pintu masuk bagi kesadaran yang lebih luas tentang pentingnya kolaborasi dalam dunia pendidikan.
Pada akhirnya, kisah tentang keterbatasan air di sekolah ini bukan sekadar cerita tentang infrastruktur. Ia adalah cerita tentang kepedulian, tentang kesadaran kolektif, dan tentang keberanian untuk mencari solusi bersama. Air bersih memang kebutuhan fisik yang sangat mendasar, tetapi di balik itu, ia juga menjadi simbol keberlanjutan pendidikan. Tanpa air, proses belajar terganggu; tanpa kepedulian, masa depan pun terancam.
Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat adalah kunci yang menjaga nyala pendidikan tetap hidup. Ketika semua pihak bergerak dengan semangat yang sama, keterbatasan tidak lagi menjadi penghalang, melainkan tantangan yang bisa diatasi. Semoga semangat gotong royong ini terus tumbuh dan menjadi budaya sekolah yang berkesinambungan, sehingga setiap anak dapat belajar, tumbuh, dan bermimpi dalam lingkungan yang sehat, layak, dan penuh harapan.
Penulis : Sri Purwati, Kepala SMP Negeri 3 Cilongok
