Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Anak SD Joget Feminin di Panggung, Cermin Kegagalan atau Alarm Sosial?

Diterbitkan :

Sebuah video viral tentang anak-anak SD yang berjoget dengan gaya feminin di acara perpisahan sekolah telah mengguncang ruang publik digital. Rekaman berdurasi singkat itu menampilkan sekelompok anak laki-laki mengenakan pakaian panggung dan menari dengan gerakan lembut yang identik dengan ekspresi feminin. Seperti biasa, dunia maya pun bereaksi cepat. Sebagian warganet menganggap hal itu sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang harus dihargai, sementara sebagian lain mengecamnya sebagai bentuk penyimpangan nilai dan kegagalan pendidikan. Perdebatan menggelinding bak bola salju—ada yang menyebut ini gejala dari krisis identitas, ada pula yang menuduh guru dan sekolah abai terhadap norma budaya. Lantas, pertanyaannya: apakah ini sekadar insiden biasa di era digital, atau sinyal bahwa ada yang perlu dibenahi secara mendasar dalam sistem sosial dan pendidikan kita?

Untuk memahami gejala ini secara jernih, kita perlu menengok ke ranah psikologi perkembangan. Anak usia SD berada dalam fase perkembangan sosial-emosional yang oleh Erik Erikson disebut sebagai tahap “industry vs inferiority.” Pada tahap ini, anak mulai membentuk konsep diri, mencoba berbagai peran, dan sangat sensitif terhadap pengakuan sosial. Salah satu mekanisme utama dalam proses pembentukan jati diri mereka adalah imitasi. Anak-anak belajar dan meniru dari lingkungan terdekat maupun media yang mereka konsumsi. Ketika media digital kini mendominasi ruang belajar anak—dari YouTube hingga TikTok—tak heran jika gaya dan perilaku selebriti internet menjadi panutan baru mereka. Sayangnya, tidak semua konten digital bersifat edukatif. Sebaliknya, banyak yang justru menampilkan gaya hidup hedonistik, ekspresi hiper-feminin atau maskulin yang kabur batasnya, serta pertunjukan yang mengaburkan antara hiburan dan nilai.

Fenomena ini juga dapat ditinjau dari perspektif sosiolog Emile Durkheim yang menyatakan bahwa pendidikan adalah instrumen moral masyarakat. Tugas pendidikan bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran kolektif. Ketika ekspresi anak menyimpang dari norma yang berlaku, kita perlu bertanya: apakah nilai-nilai sosial telah gagal ditanamkan ataukah norma yang berlaku sudah tidak relevan dengan zaman? Dalam kerangka ini, perlu dibedakan antara ekspresi diri yang sehat dan ekspresi yang perlu diarahkan. Kebebasan berekspresi memang penting, namun harus tetap kontekstual dengan usia, budaya, dan ruang publik tempat ekspresi itu ditampilkan.

Sekolah memegang peran sentral sebagai tempat anak-anak belajar mengekspresikan diri secara sehat. Di satu sisi, sekolah harus menjadi ruang aman untuk kreativitas, tetapi di sisi lain, juga berkewajiban untuk menanamkan nilai-nilai dasar seperti kesopanan, etika, dan kesadaran sosial. Guru sebagai fasilitator pembelajaran memiliki tanggung jawab besar dalam menyaring bentuk-bentuk kreativitas yang muncul di kelas maupun dalam acara sekolah. Mendidik anak bukan berarti mematikan potensi mereka, tetapi mengarahkan energi kreatif itu agar tetap dalam koridor nilai yang pantas. Konsep etika panggung perlu diperkenalkan sejak dini—bahwa tidak semua hal layak ditampilkan di ruang publik, apalagi jika bisa menimbulkan interpretasi yang menyimpang.

Orang tua pun tidak boleh lepas tangan. Di era digital ini, peran mereka sebagai filter utama konsumsi media anak menjadi semakin krusial. Mengetahui apa yang ditonton anak, dengan siapa mereka berdiskusi, dan bagaimana mereka menafsirkan konten adalah bagian dari tanggung jawab mendidik. Komunikasi terbuka di rumah sangat penting agar anak tidak merasa asing dengan nilai yang dianut keluarganya. Ketika nilai-nilai rumah selaras dengan yang diajarkan di sekolah, anak akan memiliki fondasi karakter yang lebih kuat. Maka, kolaborasi antara sekolah dan rumah menjadi kunci dalam membentuk ekspresi yang sehat.

Sayangnya, dalam polemik ini, justru anak yang menjadi korban. Video yang awalnya hanya dokumentasi acara sekolah berubah menjadi bahan hujatan publik. Anak-anak itu dipermalukan di ruang digital, identitas mereka tersebar tanpa perlindungan, dan mereka menjadi sasaran kemarahan sosial yang semestinya ditujukan ke sistem. Padahal, mempermalukan anak di ruang publik bisa meninggalkan luka psikologis jangka panjang—mulai dari rasa malu, kehilangan kepercayaan diri, hingga trauma yang berlarut. Kita harus sadar bahwa ruang digital seharusnya menjadi tempat edukasi, bukan ajang penghakiman. Kritik boleh, tapi harus diarahkan kepada orang dewasa yang seharusnya menjadi pembimbing, bukan kepada anak-anak yang masih mencari bentuk jati diri mereka.

Solusi yang dapat ditawarkan adalah membangun sinergi literasi nilai di semua lini. Literasi bukan hanya soal baca-tulis, tetapi juga literasi etika, budaya, dan sosial. Anak perlu belajar tentang batasan ekspresi diri, pentingnya sopan santun, dan kepekaan terhadap konteks sosial. Sekolah perlu merancang acara yang bukan hanya seru dan menghibur, tetapi juga edukatif dan membangun karakter. Konten seni panggung bisa menjadi media pembelajaran nilai jika dirancang dengan kesadaran dan panduan yang tepat. Dalam hal ini, sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan. Ketika ketiganya bersatu dalam semangat mendidik dan membimbing, ekspresi anak tidak akan kehilangan arah.

Peristiwa viral ini bukan sekadar soal joget feminin di atas panggung SD. Ia adalah cermin yang memperlihatkan kepada kita betapa rapuhnya sistem nilai yang kita wariskan kepada generasi muda. Ia menyadarkan kita bahwa pendidikan karakter tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah atau keluarga saja, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Maka, alih-alih saling menyalahkan, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai titik balik untuk memperkuat kembali nilai-nilai luhur dalam pendidikan anak. Mari kita bimbing anak-anak kita agar tetap bisa menari dengan ceria, namun dengan pijakan yang kuat pada nilai-nilai sosial dan budaya yang sehat.

Penulis : Ibnu Rofik, S.Pd – Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Belik, Pemalang