Di tengah kehidupan remaja urban yang serba cepat dan terhubung oleh teknologi, pola penggunaan bahasa mengalami perubahan yang signifikan. Bahasa Indonesia dan bahasa global seperti English semakin mendominasi ruang komunikasi, baik di sekolah, media sosial, maupun pergaulan sehari-hari. Dalam arus perubahan ini, bahasa daerah kerap tersisih dan dianggap tidak lagi memiliki fungsi praktis. Di kalangan sebagian remaja, khususnya yang tinggal di perkotaan, muncul anggapan bahwa bahasa Jawa hanyalah peninggalan masa lalu yang kurang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Anggapan tersebut semakin menguat ketika bahasa Jawa tidak lagi digunakan secara aktif di lingkungan keluarga atau pertemanan. Bagi siswa yang sejak kecil tidak terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa, mata pelajaran ini terasa asing dan jauh dari kehidupan mereka. Bahasa Jawa dipersepsikan sekadar sebagai tuntutan kurikulum, bukan sebagai bekal yang benar-benar dibutuhkan. Dari sini muncul pertanyaan penting yang patut direnungkan bersama: benarkah bahasa Jawa tidak lagi memiliki nilai bagi generasi muda, ataukah cara kita memahaminya yang perlu diubah?
Situasi ini juga tercermin dalam pembelajaran bahasa Jawa di sekolah modern seperti SMA Daniel Creative Semarang. Sekolah dengan latar belakang siswa yang beragam ini menjadi gambaran nyata dinamika masyarakat perkotaan. Sebagian besar siswa tidak menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian, baik di rumah maupun di lingkungan sosial mereka. Bahasa yang terdengar akrab bagi generasi sebelumnya kini terasa canggung dan kaku di telinga remaja masa kini.
Dampaknya cukup nyata dalam proses pembelajaran. Motivasi siswa cenderung rendah, keterlibatan di kelas minim, dan pembelajaran bahasa Jawa sering dianggap sekadar formalitas untuk memenuhi kewajiban akademik. Ketika bahasa dipelajari tanpa keterhubungan emosional dan sosial, ia kehilangan makna. Risiko yang lebih besar dari situasi ini bukan hanya rendahnya capaian pembelajaran, tetapi juga perlahan hilangnya pemahaman terhadap budaya dan nilai-nilai lokal yang terkandung di dalam bahasa tersebut.
Di sinilah peran guru menjadi sangat krusial. Guru bahasa Jawa tidak hanya bertugas mengajarkan kosakata, struktur kalimat, atau aturan tata bahasa, tetapi juga membangun jembatan relevansi antara materi pelajaran dan kehidupan siswa. Tantangan utamanya adalah bagaimana membuat siswa merasa bahwa bahasa Jawa memiliki manfaat nyata, meskipun mereka tidak menggunakannya sebagai bahasa sehari-hari. Pembelajaran yang hanya berfokus pada teori dan hafalan justru memperkuat jarak antara siswa dan bahasa yang dipelajari.
Pendekatan yang lebih kontekstual menjadi kebutuhan mendesak. Bahasa harus dihadirkan sebagai bagian dari pengalaman hidup, bukan sekadar teks dalam buku. Ketika siswa mampu melihat keterkaitan antara bahasa Jawa dengan nilai sopan santun, etika sosial, dan identitas budaya, pembelajaran akan terasa lebih bermakna. Guru dituntut untuk memahami dunia siswa, cara berpikir mereka, serta tantangan sosial yang mereka hadapi, lalu mengaitkannya dengan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Jawa.
Salah satu langkah penting adalah menggeser fokus pembelajaran dari sekadar tata bahasa menuju pemahaman budaya dan unggah-ungguh. Bahasa Jawa tidak hanya hidup dalam struktur kalimat, tetapi juga dalam cara bersikap dan berinteraksi. Pembelajaran yang hidup dan aplikatif tidak menuntut siswa menguasai seluruh ragam bahasa Jawa secara fasih, melainkan memahami kapan dan bagaimana bersikap santun. Praktik sederhana seperti cara menyapa orang yang lebih tua, cara meminta tolong dengan sopan, dan cara menunjukkan rasa hormat menjadi pintu masuk yang efektif untuk mengenalkan nilai unggah-ungguh Jawa.
Budaya Jawa juga dapat dihadirkan secara konkret melalui aktivitas kelas yang dekat dengan realitas siswa. Simulasi situasi sosial, seperti bertamu ke rumah kerabat, berbicara dengan guru, atau berinteraksi dengan teman sebaya, membantu siswa merasakan langsung konteks penggunaan bahasa dan sikap yang tepat. Cerita rakyat, filosofi hidup Jawa, serta contoh nyata dalam kehidupan modern dapat digunakan untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai lokal tidak bertentangan dengan zaman, justru dapat menjadi penyeimbang di tengah perubahan sosial yang cepat. Ketika nilai-nilai Jawa dikaitkan dengan isu remaja masa kini, seperti etika berkomunikasi di media sosial atau sikap menghargai perbedaan, siswa mulai melihat relevansinya.
Pembelajaran berbasis pengalaman semakin memperkuat proses ini. Siswa diajak mengamati perilaku sopan santun di lingkungan sekitar, baik di rumah, sekolah, maupun ruang publik. Dari hasil pengamatan tersebut, mereka berdiskusi secara reflektif tentang apa yang masih relevan, apa yang mulai berubah, dan mengapa perubahan itu terjadi. Proses ini mendorong siswa untuk berpikir kritis sekaligus menghargai dinamika budaya. Penugasan kreatif seperti membuat dialog, video pendek, atau proyek budaya memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan pemahaman mereka dengan cara yang lebih bebas dan sesuai dengan minat generasi muda.
Hasil dari pendekatan ini menunjukkan perubahan yang berarti. Siswa mulai memahami bahwa bahasa Jawa bukan sekadar alat komunikasi yang harus dikuasai secara teknis, melainkan cerminan identitas dan nilai budaya. Apresiasi terhadap unggah-ungguh meningkat, tidak sebagai aturan kaku, tetapi sebagai pedoman etika sosial yang relevan. Meski tidak menggunakan bahasa Jawa setiap hari, siswa mampu menerapkan hasil pembelajaran dalam kehidupan nyata, seperti menghormati orang tua, menggunakan bahasa yang lebih halus dalam situasi tertentu, dan memahami konteks budaya dalam berbagai interaksi sosial.
Pada akhirnya, bahasa Jawa menemukan kembali maknanya bukan sebagai mata pelajaran yang membebani, melainkan sebagai jembatan nilai. Pembelajaran bahasa daerah akan tetap relevan jika dikemas secara kontekstual dan humanis. Guru memiliki peran strategis untuk terus berinovasi agar bahasa dan budaya lokal tidak hanya diajarkan, tetapi benar-benar dihidupkan dalam keseharian siswa. Harapannya, generasi muda dapat tumbuh sebagai penjaga nilai-nilai luhur Jawa, meskipun mereka tidak menjadi penutur aktif. Dalam kesadaran dan sikap merekalah, bahasa Jawa menemukan ruang hidupnya di tengah perubahan zaman.
Penulis : Afrianto Nur Fadhol, Guru Basa Jawa SMA Daniel Creative Semarang
