Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Belajar dari Air, Bukan Sekadar Mengalirkannya (Catatan Mantan Kepala Sekolah dari Sekolah Adiwiyata Mandiri)  

Diterbitkan :

Selama 19 bulan menjadi Pelaksana Tugas Kepala Sekolah di SMP Negeri 2 Cilongok, saya belajar satu hal penting: lingkungan tidak pernah bisa diajarkan hanya lewat slogan, lomba, atau spanduk bertuliskan “Adiwiyata”. Lingkungan hanya bisa diajarkan jika ia benar-benar hadir dalam keseharian sekolah—mengalir, dirawat, diperdebatkan, bahkan dipersoalkan.

Air adalah contohnya.

Di banyak sekolah, air diperlakukan seperti listrik: ada atau tidak ada, hidup atau mati. Ketika mengalir, dipakai tanpa pikir panjang. Ketika tidak ada, baru dipersoalkan. Di situlah letak kegagalan pendidikan lingkungan kita: air tidak pernah diajarkan sebagai nilai, hanya sebagai fasilitas.

Sekolah dan Krisis Air: Masalah yang Terlalu Nyata untuk Diabaikan

Kita hidup di tengah ancaman krisis air. Namun ironisnya, sekolah—institusi yang seharusnya paling sadar masa depan—sering justru abai. Pengelolaan air jarang masuk dalam diskursus pendidikan, kecuali sebagai lampiran dokumen Adiwiyata.

Padahal, sekolah adalah ruang strategis untuk membangun kesadaran ekologis. Apa yang dibiasakan di sekolah akan dibawa pulang oleh murid ke rumah, ke desa, ke masyarakat. Jika sekolah gagal mengajarkan etika air, jangan heran jika generasi kita tumbuh sebagai pengguna sumber daya yang rakus dan tak peduli.

Belajar dari Cilongok: Ketika Air Menjadi Guru

Di SMP Negeri 2 Cilongok, kami tidak memiliki kemewahan sumber air bersih melimpah. Sekolah memanfaatkan air dari saluran irigasi desa bagian atas, yang dialirkan melalui pipa paralon sepanjang kurang lebih 2 kilometer menuju lingkungan sekolah. Air ini bukan air minum. Bukan pula air untuk kamar mandi siswa.

Air irigasi tersebut kami gunakan secara sadar dan terukur untuk pemeliharaan kolam ikan edukatif, perawatan taman sekolah, dan laboratorium alam terbuka R. Ng. Singadipa—ruang belajar hidup yang menyatukan ekologi, sains, dan karakter.

Bagi saya, inilah inti pendidikan lingkungan: mengajarkan batas. Murid belajar bahwa tidak semua air boleh diperlakukan sama. Ada air yang harus dihemat, ada yang bisa dimanfaatkan, ada yang harus dijaga agar tidak merusak hak orang lain.

Ini bukan sekadar urusan teknis. Ini urusan nilai.

Adiwiyata: Antara Administrasi dan Kesadaran

Sebagai mantan kepala sekolah, saya jujur mengatakan: program Adiwiyata sering terjebak pada administratif. Dokumen lengkap, taman rapi, nilai tinggi—tetapi kesadaran warga sekolah rapuh. Begitu lomba usai, semangat pun mati.

Pengelolaan air di sekolah semestinya tidak diarahkan untuk mengejar predikat, tetapi membentuk cara berpikir ekologis. Ketika siswa ikut merawat kolam ikan, mengamati kualitas air, menanam pohon penyangga, dan memahami alur irigasi desa, mereka sedang belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar definisi di buku teks: tanggung jawab ekologis.

Sekolah sebagai Ruang Etika Lingkungan

Penggunaan air irigasi desa juga mengajarkan dimensi sosial lingkungan. Sekolah tidak berdiri sendiri. Ia berada dalam ekosistem desa. Maka, pengelolaan air harus memperhitungkan kepentingan masyarakat sekitar. Di sinilah murid belajar bahwa menjaga lingkungan bukan soal “hak”, melainkan etik dan empati.

Air tidak boleh diperebutkan. Air harus dikelola bersama. Dan sekolah harus memberi contoh.

Pendidikan Lingkungan Bukan Tambahan, Tapi Inti

Saya percaya, pendidikan lingkungan bukan mata pelajaran tambahan, bukan proyek musiman, dan bukan sekadar program unggulan. Ia adalah inti dari pendidikan masa depan. Krisis iklim, krisis air, dan krisis pangan akan menjadi realitas yang dihadapi murid-murid kita, bukan kita.

Jika sekolah hari ini gagal mengajarkan cara mengelola air secara bijak, maka kita sedang menyiapkan generasi yang gagap menghadapi masa depan.

Penutup: Dari Air, Kita Belajar Menjadi Manusia

Selama 19 bulan memimpin sekolah, saya semakin yakin: air bisa menjadi guru terbaik, jika sekolah mau belajar darinya. Ia mengajarkan batas, kesabaran, keberlanjutan, dan tanggung jawab.

Sekolah Adiwiyata Mandiri seharusnya berani melampaui simbol hijau dan sertifikat. Ia harus menjadi ruang di mana air tidak hanya mengalir, tetapi dimaknai.

Karena pada akhirnya, pendidikan lingkungan bukan tentang menjaga alam semata.

Ia tentang menjaga kemanusiaan kita sendiri.

Ajibarang, 6 Januari 2026

Penulis : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja