Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Best Practice atau Best Pencitraan? Panggung Baru Hipokrisi Pendidikan

Diterbitkan :

Istilah best practice kini menjadi mantra sakti di dunia pendidikan. Di setiap seminar, workshop, dan lomba inovasi pembelajaran, kata itu menggema bagai jimat modern. Semua berlomba-lomba punya best practice sendiri—lengkap dengan dokumentasi video, infografis, dan testimoni murid yang diset seperti adegan film pendek.

Secara teoretis, best practice berarti metode yang terbukti efektif dan efisien untuk mencapai hasil tertentu. Ia identik dengan efisiensi, bukti, dan keberhasilan yang dapat direplikasi. Dalam logika manajerial, itu masuk akal: sebuah praktik baik perlu disebarkan agar kualitas meningkat secara sistemik. Tapi dalam praktik pendidikan di negeri ini, istilah itu sering menjelma menjadi panggung “best pencitraan”.

Praktik Baik yang Terlalu Baik untuk Jadi Nyata

Kita semua tahu, di balik laporan gemerlap itu sering tersembunyi kenyataan getir: data direkayasa, hasil dimanipulasi, dan narasi dibuat untuk menggugah, bukan mencerminkan kenyataan.
Guru atau kepala sekolah yang semestinya menjadi reflektor nilai kejujuran kini terjebak dalam budaya pamer hasil.

Semuanya harus terlihat baik. Harus viral. Harus mengundang like dan tepuk tangan.
Sementara kelas yang sesungguhnya penuh tantangan—murid yang sulit fokus, fasilitas terbatas, lingkungan sosial yang keras—tak muncul dalam video yang dibawa ke lomba.

Ironis, ketika best practice justru kehilangan “practice”-nya. Yang tersisa hanyalah “best framing”: kemasan yang manis menutupi realitas pahit.
Fenomena ini menjelma menjadi ritual administratif yang menipu diri sendiri.

Seorang guru di Banyumas pernah berkata lirih setelah gagal dalam lomba inovasi pembelajaran:

 “Saya kalah bukan karena gagasan saya buruk, tapi karena video saya tidak sinematik.”
Betapa getir.

Pendidikan yang Bergeser ke Dunia Panggung

Dalam filosofi Jawa dan Islam, amal yang baik tidak perlu diumbar. “Urip iku urup,” kata orang Jawa—hidup itu menyala untuk memberi terang, bukan membakar diri supaya dilihat orang. Islam pun menegaskan, amal itu tergantung niatnya. Bila niatnya berubah dari memberi manfaat menjadi mencari pujian, maka nilai amalnya pun menguap.

Namun di dunia pendidikan modern, kita justru membangun sistem yang memaksa guru untuk unjuk gigi.
Semakin pandai seorang guru menulis laporan, semakin besar peluangnya mendapat penghargaan. Semakin canggih kepala sekolah mendesain video kegiatan, semakin tinggi peluangnya dipanggil ke tingkat provinsi.

Pertanyaannya: sejak kapan pendidikan menjadi ajang peragaan citra?
Apakah nilai keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan sudah tidak relevan di era digital yang serba “like” dan “view”?

Padahal Ki Hadjar Dewantara sudah memperingatkan jauh hari:

“Pendidikan bukan soal memamerkan kepandaian, melainkan menuntun tumbuhnya budi.”

Tapi di tangan kita yang tergoda oleh kamera dan lomba, best practice berubah jadi best show.
Guru yang semestinya menuntun, kini sibuk menata pencahayaan saat shooting video kelas. Kepala sekolah yang semestinya membina, malah mengatur caption Instagram.

Dilema Keikhlasan dan Logika Kompetisi

Tentu, tidak semua diseminasi best practice adalah pencitraan. Ada yang sungguh-sungguh berbagi demi kemajuan bersama. Tapi ketika penghargaan dan sertifikat menjadi imbalan utama, keikhlasan pelan-pelan kehilangan tempatnya.

Sistem birokrasi kita menuntut laporan, bukan laku. Ia menghargai dokumen, bukan dampak.
Maka wajar bila banyak best practice berakhir sebagai ritual formalitas yang mengisi folder USB, bukan mengubah wajah kelas.

Kita melahirkan generasi guru yang lihai mengisi template laporan, tapi gagap menghadapi realitas murid yang kehilangan semangat belajar.
Kita mendidik dengan lomba, tapi lupa mengajar dengan cinta.

Prof. Suyanto, mantan Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, pernah menulis:

“Pendidikan bukan urusan menampilkan hasil, tapi menumbuhkan proses. Bila yang dihargai hanya hasil yang tampak, maka kita sedang menciptakan generasi peniru, bukan pencipta.”

Sayangnya, justru di sinilah jebakan itu bekerja. Ketika penghargaan diberikan pada tampilan, bukan substansi, maka semua orang akan belajar tampil—bukan bekerja sungguh-sungguh.

Budaya Framing dan Krisis Kejujuran

Media sosial memperparah semuanya. Setiap sekolah kini punya akun Instagram, kanal YouTube, dan grup WhatsApp yang dipenuhi konten “hebat-hebat”.
Kegiatan kecil difoto dari tiga sudut, diberi tagar #InovasiPendidikan, #PraktikBaik, #GuruHebat.
Padahal di balik itu, mungkin ada anak yang tak bisa baca, ruang kelas bocor, atau guru yang kehilangan gairah.

Kita hidup di era di mana narasi lebih berharga dari realitas. Pendidikan pun ikut terjebak dalam logika branding. Sekolah harus punya storytelling yang menarik agar dianggap maju.
Inilah zaman di mana “yang tampak” lebih penting daripada “yang tumbuh”.

Padahal, seperti kata Aristoteles ;

“Akar pendidikan terasa pahit, tetapi buahnya terasa manis.”

Artinya akar yang pahit berupa kegiatan deritanya belajar itu tidak perlu ditampilkan, dan justru menghasilkan buah yang benar- benar manis bagi kehidupan.

Mendidik juga ibarat menyalakan api penerang dalam gelap.
Api itu tidak perlu besar dan menyala terang. Cukup hangat dan jujur. Tapi sayangnya, api kecil itu kini kalah oleh sorot lampu panggung dan bling-bling lomba inovasi.

Mengembalikan Ruh Keikhlasan dan Kedalaman Belajar

Apakah kita harus menolak best practice? Tidak. Tapi kita harus mengembalikannya pada ruh aslinya: praktik yang baik karena manfaatnya nyata, bukan karena tampilannya menarik.
Diseminasi bukan untuk pamer, melainkan untuk berbagi.
Panggung bukan untuk mengangkat ego, tapi untuk menyebarkan ilmu.

Jika semangat best practice ingin benar-benar hidup, maka yang harus didesiminasikan bukan hanya metode, tapi juga nilai kejujuran dan refleksi.
Kita perlu kembali ke deep learning — pembelajaran mendalam yang menumbuhkan kesadaran, bukan sekadar keterampilan.

Prof. John Hattie (University of Melbourne) pernah menegaskan:

“Deep learning happens when students and teachers engage in dialogue that challenges assumptions, not when they merely repeat successful routines.”

Pembelajaran mendalam menuntut keberanian berpikir, kejujuran intelektual, dan kesabaran dalam proses—bukan hasil yang cepat dan indah di layar.
Best practice sejati adalah yang menyalakan semangat belajar, bukan yang menghias laporan.

Epilog: Di Antara Kamera dan Nurani

Sekarang mari kita bertanya dengan jujur:
Apakah kita masih menulis laporan untuk menebar manfaat, atau hanya untuk menebar citra?
Apakah kita masih mendidik dengan hati, atau sudah beralih menjadi aktor dalam panggung pendidikan yang penuh dekorasi?

Best practice sejati bukanlah pertunjukan yang memukau juri, melainkan praktik kecil yang menumbuhkan kemanusiaan di ruang kelas.
Ia tidak butuh spotlight, cukup cahaya nurani.
Dan mungkin, bila kita mau jujur menatap diri sendiri, pendidikan Indonesia akan berhenti jadi panggung pencitraan — dan kembali menjadi ladang keikhlasan.
Mendidik adalah kerja senyap yang berbuah panjang — bukan tepuk tangan yang berumur pendek.

Yogyakarta, 30102025

Penulis  : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja, Guru IPA di SMP N 2 Ajibarang