Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Canggih di Kata, Lemah di Nyata: Saat Sekolah Terjebak Dunia Maya

Diterbitkan :

Di tengah gegap gempita era digital, banyak sekolah berlomba-lomba mencitrakan diri sebagai lembaga yang modern, canggih, dan siap menghadapi gelombang Revolusi Industri 5.0. Spanduk bertuliskan “Sekolah Berbasis Teknologi” dipasang di depan gerbang, media sosial sekolah ramai dengan konten bertema digitalisasi, dan pidato-pidato formal dipenuhi jargon seperti “digital native”, “literasi teknologi”, hingga “kecerdasan buatan”. Sekilas semua tampak menjanjikan. Sekolah tampak melesat maju ke masa depan. Namun, saat langkah kita berhenti sejenak dan mengamati lebih dalam, muncul kenyataan yang berbeda: banyak di antara kita lebih sibuk membangun citra digital daripada membangun kompetensi digital yang sesungguhnya.

Masalah ini bukan soal kurangnya semangat atau niat baik. Justru, semangat para guru dan siswa sangat besar untuk mengikuti perkembangan zaman. Tapi semangat itu belum selalu diiringi pemahaman dan keterampilan yang memadai. Banyak guru dengan bangga menyampaikan materi tentang pentingnya teknologi kepada siswa, tetapi saat diminta mengatur file di cloud drive atau membuat video pembelajaran, mereka kebingungan. Siswa pun tidak jauh berbeda. Mereka cekatan bermain gim atau menggulir layar media sosial, tapi kesulitan saat membuat presentasi yang interaktif atau mengedit video sederhana. Kita, baik guru maupun murid, tampaknya lebih kuat dalam menyuarakan pentingnya teknologi daripada menerapkannya dalam aktivitas nyata.

Media sosial menjadi cermin paling mencolok dari ilusi ini. Akun resmi sekolah diwarnai unggahan foto kegiatan yang tampak mewah dan keren: workshop digital, pelatihan coding, hingga seminar daring bertema teknologi masa depan. Namun, ketika ditelusuri lebih jauh, tak jarang kegiatan tersebut hanya berhenti di dokumentasi visual tanpa proses pembelajaran yang mendalam. Dunia maya kita jadikan simbol kemajuan, padahal mestinya ia adalah alat untuk berkembang. Semua tampak bagus hanya untuk dipamerkan, bukan untuk dikembangkan.

Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini menciptakan lapisan ketidaktahuan yang terselubung. Banyak di antara kita merasa sudah “melek teknologi” hanya karena mampu mengoperasikan perangkat dan aplikasi dasar. Tapi saat tantangan datang—seperti menyusun data sederhana dengan spreadsheet, membuat infografis, atau menyusun strategi pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran—kebingungan mulai muncul. Kita menjadi gaptek dalam diam. Penuh jargon canggih, tapi minim keahlian nyata. Di ruang kelas dan ruang guru, kata-kata bijak tentang pentingnya belajar mandiri dan inovatif bertebaran di dinding. Namun budaya belajar itu sendiri belum betul-betul tumbuh. Kita terlalu sibuk terlihat pintar di layar, sampai lupa menjadi bijak di kenyataan.

Untuk keluar dari jebakan citra ini, sekolah harus berani melakukan lompatan dari simbol menuju substansi, dari pameran ke pembelajaran. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memetakan kemampuan digital secara jujur. Kita tidak bisa membangun program pelatihan yang efektif tanpa tahu peta kondisi sebenarnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan survei atau asesmen sederhana untuk mengukur kemampuan dasar guru dan siswa dalam hal teknologi. Dari situ, pelatihan yang dilakukan bisa bersifat praktis, bukan sekadar teoritis. Fokus pada hal-hal yang aplikatif seperti membuat video pembelajaran, menyusun portofolio digital, atau mengelola kelas daring secara efektif.

Langkah kedua adalah menerapkan pembelajaran berbasis proyek nyata. Teknologi akan menjadi relevan jika digunakan untuk menyelesaikan persoalan konkret. Ajak siswa membuat video kampanye kebersihan lingkungan, menciptakan produk digital yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar, atau menyusun laporan digital berbasis data lapangan. Proyek-proyek seperti ini bukan hanya mengasah keterampilan teknologi, tetapi juga menghidupkan semangat kolaborasi dan kreativitas. Guru pun tak boleh sekadar menjadi fasilitator pasif. Mereka perlu terlibat aktif sebagai pembimbing dan sekaligus pembelajar, tumbuh bersama siswa dalam menghadapi tantangan zaman.

Selanjutnya, penting bagi sekolah untuk membedakan antara “memakai teknologi” dan “memanfaatkan teknologi”. Banyak sekolah merasa telah berhasil mendigitalisasi pembelajaran hanya karena menggunakan Zoom, Google Classroom, atau aplikasi sejenis. Padahal, pemanfaatan sejati teknologi terletak pada kemampuannya untuk mengubah cara kita berpikir, berkreasi, dan berkolaborasi. Jika teknologi hanya dipakai sebagai media penyampaian informasi, maka pembelajaran digital hanya akan menjadi salinan dari metode konvensional—hanya kali ini dengan layar. Kita harus mengubah cara pandang, dari melihat teknologi sebagai alat bantu teknis menjadi alat transformasi cara belajar.

Tidak kalah penting, sekolah perlu membangun budaya jujur dan reflektif. Budaya ini akan menciptakan ruang aman bagi siswa dan guru untuk berkata, “Saya belum bisa,” atau “Saya ingin belajar.” Ketika kita menciptakan ruang untuk ketidaktahuan, kita sekaligus membuka pintu bagi pembelajaran. Diskusi reflektif, baik secara kelompok maupun individu, menjadi sarana untuk mengevaluasi sejauh mana teknologi sudah dimanfaatkan secara bermakna. Sekolah yang sehat adalah sekolah yang terbuka terhadap kritik dan perubahan, bukan sekolah yang sibuk mempertahankan citra.

Jika langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, maka perubahan nyata akan terlihat. Guru dan siswa akan lebih rendah hati, tidak lagi sibuk dengan pencitraan, tetapi sibuk dengan pembelajaran. Mereka akan mulai menghasilkan karya nyata yang bisa dibanggakan, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Media sosial sekolah akan berubah wajah, bukan lagi menjadi etalase glamor, melainkan jendela menuju proses belajar yang sesungguhnya. Sekolah akan kembali pada jati dirinya sebagai tempat tumbuh, bukan tempat tampil. Sebagai laboratorium kehidupan, bukan panggung sandiwara.

Akhirnya, kita perlu merenungkan kembali posisi teknologi dalam pendidikan. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan jembatan menuju pembelajaran yang lebih baik. Ia adalah alat bantu, bukan pengganti usaha. Kita boleh mengagumi kecanggihan dunia digital, tetapi jangan lupa bahwa dunia nyata tetap memerlukan tangan yang siap bekerja, hati yang mau belajar, dan pikiran yang terbuka untuk berubah. Dalam era yang serba cepat ini, kita tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menggeser slide presentasi, tetapi juga yang mampu menyusun strategi pembelajaran dari nol. Kita tidak hanya butuh mereka yang jago desain, tetapi juga yang sabar membimbing dan terbuka terhadap kritik.

“Kalau semua ingin bekerja dengan jari, siapa yang mau membangun dengan tangan?” Pertanyaan sederhana ini mestinya menyadarkan kita bahwa transformasi digital tidak boleh membuat kita malas berpikir dan enggan bertindak. Kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan kebijaksanaan manusia. Boleh jago presentasi, tapi harus bisa praktik. Boleh pintar ngedit, tapi jangan takut kotor. Karena pada akhirnya, pendidikan sejati tidak hanya diukur dari seberapa hebat tampilan kita di layar, tetapi dari seberapa dalam jejak perubahan yang kita tinggalkan dalam kehidupan nyata.

Penulis : Sofian Deddy Sarjana S.Kep., Ns., M.Pd, Kepala SMP IT Nusantara Kembaran Banyumas