Malam itu, aku sudah lebih dari sepuluh kali bolak-balik ke kamar mandi. Bukan karena diare, hanya sekadar buang air kecil yang terasa begitu sering. Mungkin efek samping pascaoperasi yang masih tertinggal di tubuhku. Sudah hampir dua minggu ini, aku merasakan betapa nikmat dan menyiksanya pegal di bagian tubuh tertentu yang hanya aku sendiri tahu letaknya. Rasa sakit itu memang belum hilang sepenuhnya, tapi tugas sudah menanti. Pagi itu adalah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru. Tidak mungkin aku absen di hari sepenting itu. Dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih, aku tetap harus melangkah.
Udara pagi masih dingin. Aku bersiap dengan pakaian yang rapi, aroma minyak angin mengiringi langkahku. Motor menjadi pilihan transportasi pagi itu. Takut terlambat, aku mengendarainya sendiri seperti biasa, membonceng si bontot yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama, di mana aku bekerja sebagai kepala sekolah. Perjalanan dari Gumelar ke Ajibarang biasanya kutempuh dalam waktu 22 menit. Tapi hari itu, semuanya berubah. Jalanan padat merayap, seolah semua orang ingin tiba lebih awal di tempat kerja. Aku dan anakku hanya bisa saling pandang, berharap kami tak terlambat di hari yang begitu penting.
Sesampainya di sekolah, gerbang sudah terbuka lebar. Anak-anak berdatangan dengan semangat yang khas hari pertama. Ada yang diantar orang tuanya, ada juga yang datang sendiri berjalan kaki. Jalanan depan sekolah penuh sesak oleh lalu lalang kendaraan dan orang tua yang belum mau beranjak dari pagar. Mereka masih menunggu, mungkin ingin memastikan anaknya sudah masuk kelas, merasa nyaman, atau sekadar ingin melihat wajah anaknya untuk terakhir kali sebelum melepas ke jenjang yang lebih tinggi. Pemandangan yang sama selalu terjadi setiap tahun ajaran baru dimulai. Dan anehnya, momen ini selalu membuat hatiku hangat.
Setelah merapikan diri dan menata ruang kerja seadanya, aku segera bergabung dengan guru-guru di pintu gerbang sekolah. Kami berdiri menyambut para siswa, menjabat tangan mereka satu per satu. Senyum yang kami lemparkan, dibalas dengan senyum yang tak kalah tulus dari para siswa. Momen ini selalu menjadi bagian yang paling aku sukai: interaksi pertama di tahun ajaran yang baru. Tepat pukul tujuh pagi, pintu gerbang ditutup. Semua siswa diarahkan menuju lapangan untuk mengikuti upacara bendera dan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Bagi Murid Baru (MPLSMB).
Dalam kesibukan itu, aku mulai membuka buku catatan harian kepala sekolahku. Aku tulis pukul 06.30 hingga 07.00: menyambut siswa, upacara bendera, pembukaan MPLSMB. Aku lanjutkan dengan catatan-catatan lain yang berlangsung sepanjang hari. Catatan ini bukan sekadar dokumentasi biasa. Di usia yang sudah memasuki kepala lima, aku merasa ingatan tak sekuat dulu. Sering lupa hampir jadi kebiasaan. Maka, buku catatan harian itu menjadi penyelamatku. Menjadi pengingat apa saja yang sudah dan belum aku kerjakan.
Catatan harian seorang kepala sekolah, bagiku, lebih dari sekadar rekam jejak kegiatan. Ia adalah cermin dari proses panjang pengelolaan sekolah. Dalam setiap halaman, kutuliskan kegiatan harian yang kulalui: rapat bersama guru, menerima tamu dari dinas, berdiskusi dengan orang tua siswa, hingga dialog kecil dengan murid yang menangis karena sepatu barunya diinjak teman. Semua hal, besar maupun kecil, patut dicatat. Karena dalam pengelolaan sekolah, setiap detail bisa menjadi kunci perbaikan.
Catatan ini juga berisi peristiwa penting yang terjadi di sekolah. Misalnya, saat ada siswa yang menjuarai lomba tingkat kabupaten, kegiatan bazar karya siswa, atau ketika sekolah harus mendadak diliburkan karena bencana alam. Semua kucatat sebagai bagian dari narasi sekolah yang hidup. Tak kalah penting adalah ruang refleksi dan evaluasi. Di akhir hari, aku menuliskan renungan tentang apa yang sudah berjalan baik, mana yang masih perlu ditingkatkan, dan rencana perbaikan untuk ke depan.
Tak jarang aku juga menulis catatan khusus tentang siswa tertentu. Seorang anak yang seminggu ini murung karena ibunya sakit, atau seorang siswa yang prestasinya menurun padahal biasanya cemerlang. Dari catatan itu, aku dan tim bisa lebih cepat merespon dan mencari solusi. Hal yang sama kulakukan terhadap guru dan staf. Aku dokumentasikan capaian, kendala, hingga potensi pengembangan profesional mereka. Karena bagi seorang kepala sekolah, setiap guru adalah investasi penting dalam kualitas pendidikan.
Semua ini bukan semata-mata untuk administrasi. Catatan harian ini adalah alat refleksi, sarana perbaikan, dan juga dokumentasi historis. Saat aku membuka kembali catatan dua atau tiga bulan lalu, aku bisa melihat perkembangan yang terjadi. Bahkan saat harus membuat keputusan penting, catatan ini sering menjadi sumber informasi yang valid dan terpercaya. Catatan ini juga membantuku berkomunikasi lebih baik dengan guru, staf, dan orang tua. Karena aku tidak hanya bicara berdasarkan ingatan atau kesan, tetapi berdasarkan data dan fakta yang tercatat rapi.
Di tengah padatnya aktivitas hari ini, aku merasa bersyukur masih sempat menuliskan semuanya. Banyak kegiatan yang kulakukan, baik yang berhubungan langsung dengan tugas sebagai kepala sekolah maupun urusan pribadi. Dengan mencatat, aku bisa memilah dan memahami peran yang sedang kujalani. Mana tanggung jawab sebagai pemimpin sekolah, mana sebagai orang tua, dan mana sebagai individu yang sedang dalam proses pemulihan.
Lebih dari itu, dengan catatan harian, aku lebih mudah mengevaluasi dan menindaklanjuti setiap masalah. Misalnya, jika hari ini ada laporan bahwa toilet siswa rusak, aku bisa mencatat dan memantau tindak lanjutnya. Jika minggu lalu ada siswa yang belum kembali sekolah karena sakit, aku bisa cek apakah sudah ada kunjungan dari wali kelas. Semua berangkat dari catatan. Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak sepele. Tapi bagiku, inilah cara sederhana untuk menjaga keberlanjutan mutu di tengah kompleksitas pengelolaan sekolah.
Hari pun berlalu, matahari mulai condong ke barat. Rasa pegal di tubuh belum sepenuhnya hilang. Tapi kepuasan batin terasa mengalir pelan. Hari pertama sudah terlewati. Banyak hal yang terjadi, banyak pelajaran yang kudapatkan. Dan semua itu kini sudah tertulis dalam catatan harian kepala sekolah. Sebuah kebiasaan sederhana yang membuat langkahku lebih terarah. Karena dalam setiap baris tulisan, ada semangat untuk terus belajar, bertumbuh, dan memperbaiki diri demi masa depan pendidikan yang lebih baik.
Terima kasih, catatan harian. Kau adalah saksi bisu perjalanan seorang kepala sekolah. Kau bukan hanya lembaran kertas, tapi juga lentera di tengah jalan yang kadang gelap. Dan aku akan terus menulis, sejauh langkah ini masih bisa kuayunkan.
Penulis : Sairan, S.Pd. Kepala SMP Negeri 2 Ajibarang, Banyumas.
