Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Dari Srowot Berkarya Untuk Indonesia

Diterbitkan :

Terletak di tengah hamparan sawah dan perkampungan yang asri, SMP Negeri 4 Kalibagor berdiri sederhana di Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas. Sekolah ini dikelilingi hijaunya persawahan dan keramahan masyarakat desa, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan lokal. Namun, dalam lanskap pendidikan Kabupaten Banyumas yang begitu kompetitif, keberadaan SMPN 4 Kalibagor kerap luput dari perhatian. Nama sekolah ini jarang terdengar dalam perbincangan pendidikan, bahkan tak sedikit masyarakat yang belum mengetahui letak atau keberadaan sekolah ini. Bagi sebagian warga, SMPN 4 Kalibagor hanyalah satu dari sekian sekolah yang ada, bukan pilihan utama ketika mendaftarkan anak ke jenjang pendidikan menengah pertama.

Fakta ini menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah. Kurangnya eksposur membuat minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di SMPN 4 Kalibagor rendah. Padahal, pengenalan sekolah kepada publik bukan sekadar untuk kepentingan pencitraan, melainkan menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan masyarakat, meningkatkan partisipasi orang tua, serta memotivasi guru dan siswa untuk terus berkembang. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga representasi dari semangat, potensi, dan harapan sebuah komunitas. Oleh karena itu, membumikan potensi sekolah ke tengah masyarakat adalah langkah krusial dalam mengubah stigma dan membangun masa depan.

Srowot bukan sekadar desa yang tenang dan agraris. Di balik kesederhanaannya, desa ini menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Seni tradisional hidup dan tumbuh di setiap sudutnya. Anak-anak tumbuh dalam irama kendang dan suara gamelan, dalam lantunan sholawat hadroh, dan dalam pertunjukan ebeg yang digelar saat hajatan warga. Budaya bukan sekadar pelengkap hidup masyarakat, tapi sudah menjadi nafas yang menyatu dalam keseharian. Tradisi seni ini ternyata meresap juga ke dalam jiwa para siswa SMPN 4 Kalibagor. Mereka terbiasa mendengar, melihat, bahkan mencoba memainkan alat musik tradisional sejak kecil.

Salah satu kekayaan budaya yang paling menonjol adalah karawitan. Dalam gamelan, setiap nada memiliki makna dan kekuatan yang membangkitkan rasa memiliki terhadap budaya Jawa. Karawitan bukan hanya hiburan, tetapi jati diri masyarakat Srowot. Melalui pendekatan yang lebih peka terhadap lingkungan, pihak sekolah menyadari bahwa karawitan bisa menjadi kekuatan utama yang membedakan SMPN 4 Kalibagor dari sekolah lain. Ketika budaya lokal diintegrasikan dalam pendidikan, lahirlah pembelajaran yang lebih bermakna dan kontekstual. Seni bukan lagi kegiatan pinggiran, tapi menjadi bagian dari identitas sekolah.

Namun jalan untuk menjadikan seni sebagai kekuatan sekolah bukan tanpa hambatan. Tantangan pertama adalah fasilitas. Sekolah belum memiliki perangkat gamelan sendiri, sehingga latihan sering harus bergantung pada ketersediaan alat dari pihak luar atau pemerintah desa. Ruang latihan pun masih sangat terbatas dan harus berbagi fungsi dengan ruang kelas atau perpustakaan. Selain itu, prestasi akademik dan non-akademik sekolah selama ini belum begitu menonjol. Akibatnya, saat PPDB, SMPN 4 Kalibagor sering kali menjadi pilihan terakhir bagi orang tua yang tidak memiliki alternatif lain. Kurangnya kepercayaan ini tentu menurunkan motivasi siswa dan guru dalam berkarya.

Ketika kepercayaan masyarakat rendah, tantangan menjadi dua kali lipat. Sekolah harus membuktikan diri tidak hanya di atas kertas, tapi lewat aksi nyata. Maka lahirlah strategi baru yang berani namun membumi. Sekolah mulai merintis pengembangan ekstrakurikuler seni, terutama karawitan dan tari tradisional. Guru-guru bekerja ekstra, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pelatih, mentor, dan motivator. Mereka menggandeng pegiat seni lokal, seperti kelompok karawitan desa dan sanggar tari milik warga. Pemerintah desa pun membuka ruang dan meminjamkan alat gamelan untuk mendukung latihan siswa.

Latihan rutin diadakan di balai desa atau  milik warga yang bersedia. Suasana latihan yang bersahaja justru menjadi ruang yang hangat bagi siswa untuk belajar tanpa tekanan. Dalam proses ini, tidak hanya keterampilan seni yang berkembang, tetapi juga rasa percaya diri dan kedekatan emosional antara siswa dan guru. Beberapa guru bahkan berinovasi dengan menggabungkan seni tari dan karawitan dalam satu paket pertunjukan, menciptakan pentas seni mini yang digelar saat momen penting sekolah. Evaluasi terhadap program dilakukan secara berkala dengan pendekatan TIRTA: Tinjauan, Refleksi, Tindak Lanjut, dan Apresiasi. Pendekatan ini membuat kegiatan tidak berjalan statis, tetapi terus disempurnakan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan siswa.

Tak hanya kegiatan fisik, dukungan emosional kepada siswa juga menjadi perhatian utama. Banyak dari mereka yang sebelumnya minder karena sekolahnya dianggap “kelas dua”. Melalui pembinaan yang intensif, siswa diajak untuk menyadari bahwa mereka memiliki potensi yang tidak kalah hebat. Bahwa seni bukan hanya hobi, tetapi bisa menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih cerah.

Perubahan perlahan mulai terasa. Pemerintah desa melihat keseriusan sekolah dan memberikan dukungan penuh, baik dalam bentuk fasilitas, dana, maupun promosi kegiatan seni. Ketika SMPN 4 Kalibagor mengikuti ajang SIRAMA (Siswa Rame-rame Menampilkan Aksi), publik tercengang melihat penampilan gamelan dan tari kolaboratif siswa. Suara gamelan yang mengalun harmonis dan suara sinden yang menyentuh membuat juri dan penonton terpukau. Tak hanya itu, sekolah juga berhasil meraih prestasi dalam Pekan Seni Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas. Momen paling menyentuh adalah ketika siswa-siswi menampilkan karya seni kolaboratif saat acara pelepasan siswa kelas IX. Penampilan tersebut mengundang air mata haru dari para orang tua, guru, dan tamu undangan.

Rasa percaya diri siswa pun meningkat drastis. Mereka yang dulunya enggan tampil di depan umum kini dengan bangga memainkan bonang atau menari di panggung. Guru-guru pun merasa terinspirasi dan semakin bersemangat mendampingi siswa dalam kegiatan seni. Lebih dari itu, karya seni yang dihasilkan, baik berupa pertunjukan maupun dokumentasi video, mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan dan para pemerhati budaya. Nama SMPN 4 Kalibagor perlahan naik daun, tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai pusat seni budaya lokal.

Hasil nyata dari perubahan ini terlihat dalam peningkatan jumlah peserta didik baru. Dalam dua tahun terakhir, tren pendaftar ke SMPN 4 Kalibagor meningkat signifikan. Masyarakat mulai memandang sekolah ini bukan lagi sebagai “pilihan terakhir,” tetapi sebagai tempat yang memberi ruang tumbuh bagi potensi anak. Keberhasilan ini bukan hasil dari promosi besar-besaran, tetapi dari proses panjang, dedikasi, dan kepercayaan terhadap kekuatan budaya lokal.

Transformasi SMPN 4 Kalibagor adalah bukti bahwa sekolah yang dulunya kurang dikenal bisa menjadi pusat seni yang membanggakan. Dengan keberanian untuk melihat potensi tersembunyi dan tekad untuk berubah, sekolah ini berhasil menyalakan api semangat baru di tengah keterbatasan. Dari desa kecil bernama Srowot, gema budaya dan semangat pendidikan kini menggema hingga ke pelosok kabupaten.

Ke depan, harapan besar tumbuh. SMPN 4 Kalibagor bertekad menjadi sekolah unggulan berbasis seni budaya lokal. Tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjadikannya sebagai bagian dari strategi pendidikan yang membangun karakter, kreativitas, dan kebanggaan siswa. Dunia boleh terus berubah, tetapi akar budaya harus tetap dijaga dan dijadikan pondasi untuk melangkah maju.

Karena dari Srowot, kita telah membuktikan, kita bisa bergema.

Penulis : Yuni Ekawati, Kepala SMP Negeri 4 Kalibagor Banyumas