Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Dari Surah ke Sorotan: Membawa Agama ke Dunia Anak Zaman Sekarang

Diterbitkan :

Langit pagi di atas kota keci itu belum benar-benar biru ketika seorang guru muda berjalan melintasi halaman sekolah. Namanya belum tercetak di baliho prestasi, tidak juga terpampang dalam struktur sekolah sebagai guru senior. Tapi hampir semua siswa mengenalnya, bukan karena ia galak atau keras, melainkan karena ia berbeda. Di antara jajaran guru Pendidikan Agama Islam yang biasanya dikenal kaku, bersorban, atau bersikap sangat formal, ia muncul dengan gaya yang tidak biasa. Bukan karena penampilannya yang modis, tetapi karena cara ia hadir—utuh, hangat, dan jujur. Ia datang ke sekolah tidak hanya membawa modul pembelajaran dan rencana pelajaran. Di dalam tasnya ada tripod kecil, kamera saku, dan kadang-kadang ring light. Ia bukan vlogger atau selebgram, tapi pembina divisi media sosial sekolah. Anehnya, dia juga guru PAI. Kombinasi yang tidak lazim. Tapi bagi dirinya, tidak ada yang salah dengan menjadi guru agama yang juga paham algoritma Instagram dan ritme viral di TikTok. Baginya, berdakwah dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan bisa lewat banyak jalan, termasuk melalui media sosial yang akrab bagi siswanya.

Saat rekan-rekan sejawatnya memandang sinis ke arah workshop editing video yang ia buat untuk siswa, ia justru semakin semangat. “Kalau kamu bisa membuat video tentang kisah sahabat Nabi dengan gaya cinematic, itu juga dakwah,” katanya suatu hari kepada sekelompok siswa yang sedang berlatih membuat konten edukatif. Ia tidak menuntut siswanya hafal nama-nama ulama besar atau ayat-ayat panjang tanpa makna. Ia ingin mereka mencintai agama dengan cara yang mereka pahami, dengan medium yang mereka akrabi. Tapi tugasnya tidak berhenti sampai di media sosial. Di sisi lain, ia juga ditunjuk menjadi pembina paskibra. Bukan karena ia punya latar belakang militer, bukan pula karena ia ahli dalam baris-berbaris, melainkan karena satu hal: siswa-siswa paskibra menyukainya. Mereka percaya padanya. Mereka merasa aman bercerita padanya, dan merasa diperhatikan. Maka kepala sekolah, dengan naluri khas pemimpin pendidikan yang peka, menunjuknya sebagai pembina.

Dua dunia itu, paskibra dan media sosial, bukanlah ranah yang lazim bagi guru agama. Tapi ia justru menjadikannya lahan subur untuk menanam nilai-nilai keislaman yang tidak dipaksakan. Dalam setiap latihan baris-berbaris, ia menyelipkan pesan tentang ketekunan, keikhlasan, dan pentingnya menjaga niat. Dalam setiap unggahan konten sekolah, ia mendorong agar anak-anak tidak hanya mengejar jumlah like, tapi juga memastikan bahwa pesan yang dibawa membawa nilai kebaikan. Ia tidak pernah menggurui. Dalam kesehariannya, ia lebih sering mendengarkan daripada berbicara. Di ruang guru, ia bukan sosok yang mendominasi rapat atau sibuk dengan pembahasan kurikulum. Ia lebih sering duduk di pojok, mencatat ide-ide kecil yang muncul dari pengamatan terhadap siswa. Ia tahu, bahwa pendidikan yang sejati tumbuh dari kedekatan dan kepercayaan.

Suatu hari, seorang siswa yang jarang bicara mendekatinya selepas latihan paskibra. Anak itu gelisah. Ayahnya baru saja kehilangan pekerjaan, dan ia berpikir untuk putus sekolah dan bekerja. Guru itu tidak langsung memberikan ceramah panjang. Ia tidak berkata bahwa sabar adalah bagian dari iman, atau bahwa ujian adalah takdir. Ia hanya duduk, mendengar, dan kemudian berkata, “Kamu tidak sendirian. Kalau kamu mau, kita cari jalan sama-sama.”

Kedekatan personal seperti itulah yang membuat siswa merasa dihargai. Ia tidak hanya hadir sebagai pengajar, tapi juga sebagai manusia yang bersedia menanggalkan jubah formalitas demi benar-benar menjadi bagian dari hidup siswa. Ketika ia mengajar, ia tidak berdiri di depan dengan suara lantang dan penuh wibawa. Ia lebih sering duduk melingkar bersama siswa, membuka ruang diskusi, dan mengajak mereka berpikir. Ia tahu, dunia anak muda hari ini berbeda. Mereka tidak lagi hanya belajar dari buku, tapi dari layar. Maka ia memanfaatkan semua medium yang tersedia. Ia membuat konten video pendek tentang akhlak mulia, mengunggah kutipan hadits yang relevan dengan isu sosial, dan kadang membuat polling untuk memancing diskusi. Semua itu bukan demi popularitas, tapi untuk mendekatkan nilai agama ke realitas siswa.

Ada masa ketika guru-guru lain mempertanyakan pilihannya. “Apa pantas guru PAI mengurus TikTok dan Instagram? Bukankah itu dunia yang penuh kelalaian?” Tapi ia tetap melangkah. Ia tidak tersinggung, tidak pula marah. Ia hanya percaya bahwa setiap zaman punya caranya sendiri untuk menyampaikan cahaya. Dan media sosial, bagi siswa-siswanya, adalah jendela dunia. Dalam setiap upacara bendera, ia berdiri tegak bersama barisan paskibra. Tidak ada jubah kebesaran, hanya semangat kebersamaan. Ia tidak pernah merasa bahwa menjadi guru agama berarti harus menjaga jarak. Baginya, nilai-nilai spiritual tidak harus dibungkus dalam kesan agung dan jauh. Ia ingin menjadikan agama sebagai sesuatu yang bisa dirasakan, dijalani, dan dicintai.

Ketika lomba paskibra tingkat kabupaten digelar, dan pasukan dari sekolahnya keluar sebagai juara harapan, ia tidak merayakan kemenangan itu sebagai prestasi pribadinya. Ia justru memeluk satu per satu anggota paskibra, mengucapkan terima kasih karena mereka telah menunjukkan disiplin, semangat, dan kerja keras. Ia berkata, “Menang bukan soal piala, tapi soal perjalanan yang kita jalani bersama.” Ia juga memulai gerakan kecil di sekolah: gerakan literasi digital Islami. Siswa diminta membuat konten kreatif tentang nilai-nilai Islam yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ada yang membuat video tentang berbagi makanan ke tetangga, ada pula yang membuat podcast tentang pengalaman puasa di tengah kegiatan sekolah. Ia membimbing mereka tanpa memaksa, memberi ruang tanpa mengontrol secara berlebihan.

Hari-harinya padat. Kadang ia tidak sempat makan siang karena harus membimbing dua tim sekaligus. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Ia menikmati setiap peluh yang menetes, karena ia tahu, semua itu bukan hanya tentang mengajar, tetapi tentang membangun ikatan. Ikatan yang akan membekas di hati siswa jauh setelah mereka lulus. Ada yang bilang, ia terlalu lentur. Tidak cukup tegas untuk menjadi guru agama. Tapi mereka tidak tahu, bahwa kelenturannya justru menjadi jembatan. Ia tidak menggurui, tapi memandu. Ia tidak menyalahkan, tapi memahami. Ia tidak menakut-nakuti tentang dosa, tapi mengajak siswa mencintai kebaikan. Siswa-siswa yang dulu merasa PAI adalah mata pelajaran yang membosankan, kini menanti-nantikan jam pelajaran dengannya. Karena di sana, mereka tidak hanya belajar hukum-hukum fiqih, tapi juga belajar mencintai diri sendiri, berdamai dengan kegagalan, dan menemukan makna dari peristiwa sehari-hari. Ia mengubah wajah pembelajaran agama menjadi sesuatu yang hidup, penuh warna, dan relevan.

Suatu sore, setelah sesi latihan paskibra yang melelahkan, seorang siswa menyapanya dan berkata, “Bu, saya nggak nyangka guru agama bisa seru kayak Ibu.” Ia tertawa pelan. Bukan karena dipuji, tapi karena merasa misinya sedikit demi sedikit mulai berhasil. Bahwa menjadi guru agama bukan berarti harus menjaga jarak, tetapi justru mendekat—dengan cara yang jujur dan manusiawi. Ia bukan sosok sempurna. Kadang ia lupa jadwal, kadang tugas administrasi terlambat. Tapi dalam urusan mendampingi siswa, ia tak pernah setengah hati. Ia tahu, sistem pendidikan kadang terlalu birokratis, terlalu kaku. Tapi ia memilih untuk fokus pada ruang yang bisa ia ubah: hati siswa.

Di tengah tuntutan kurikulum dan tekanan target capaian, ia tetap setia menjadi dirinya sendiri. Ia tidak berpura-pura menjadi guru yang serba tahu. Ia tidak membungkus dirinya dalam dogma. Ia adalah guru agama yang memahami bahwa keimanan anak muda tumbuh dari rasa percaya dan kenyamanan. Dan ia ingin menjadi alasan mengapa siswa-siswanya mulai percaya pada nilai-nilai yang ia ajarkan. Waktu berjalan. Ia belum menjadi kepala jurusan, belum juga mendapat penghargaan dari dinas pendidikan. Tapi ia sudah memiliki sesuatu yang lebih berarti: kepercayaan dari ratusan siswa yang melihatnya bukan sekadar sebagai guru, tetapi sebagai sahabat, mentor, dan tempat pulang ketika dunia terasa berat.

Di dinding akun media sosial sekolah, banyak video yang diunggahnya viral. Bukan karena sensasi, tapi karena kejujuran isi dan ketulusan pesan. Dan di lapangan upacara, siswa-siswa paskibra melangkah tegap, membawa semangat yang ia tanamkan dengan sabar. Ia tidak ingin dikenang sebagai guru yang hebat. Ia hanya ingin menjadi guru yang hadir, benar-benar hadir, dalam setiap perjalanan siswanya. Karena ia percaya, bahwa dalam dunia yang semakin bising, kadang yang paling dibutuhkan adalah seseorang yang mau mendengar, membimbing tanpa menghakimi, dan mencintai tanpa syarat. Dan jika suatu hari murid-muridnya tumbuh menjadi orang-orang yang kuat, beriman, dan punya empati, ia tahu, ia telah menjalankan tugasnya. Bukan dengan tepuk tangan atau pujian, tetapi dengan keyakinan bahwa menjadi guru bukan soal jabatan atau gelar, tapi tentang bagaimana hadir dan membekas di hati. Di antara tumpukan file, jam pelajaran, dan agenda ekstrakurikuler, ia tetap tersenyum. Karena bagi guru muda itu, inilah jalannya. Jalan menjadi guru PAI yang tidak biasa—yang tetap setia menjadi dirinya sendiri, dan membiarkan cahayanya menyebar dari ruang kelas, ke media sosial, hingga barisan paskibra yang berjalan penuh bangga di bawah matahari pagi.

Penulis : Oleh Ajeng Virga Sawitri Maro.S.Pd.,M.Pd, Guru SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang