Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Di Balik Kenakalan Murid, Ada Hati yang Menunggu Dipahami

Diterbitkan :

Di lingkungan pendidikan, tidak sedikit guru yang harus berhadapan dengan murid-murid yang menunjukkan perilaku sulit. Pelanggaran aturan, kata-kata kasar, sikap agresif, hingga kecenderungan mengganggu teman sering kali menjadi alasan mengapa seorang siswa dengan cepat diberi label “anak nakal”. Label ini, tanpa disadari, kerap menjadi tembok yang memisahkan guru dari murid, sekaligus menutup ruang untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik perilaku tersebut. Padahal, di balik sikap yang tampak bermasalah, sering tersembunyi cerita kehidupan yang jauh dari sederhana. Kisah Abi, seorang siswa SMP di sebuah sekolah yang berada di kawasan padat pendidikan, menjadi cermin penting bagi dunia pendidikan tentang makna empati, kesabaran, dan peran guru sebagai pendidik sekaligus pendamping kehidupan.

Sejak awal masuk SMP, Abi sudah dikenal sebagai murid yang “bermasalah”. Ia sering berbicara dengan nada kasar, jarang mengerjakan tugas, dan kehadirannya di sekolah tidak teratur. Di kelas, ia kerap memancing keributan dan beberapa kali terlibat perundungan terhadap teman-temannya. Hampir setiap minggu, namanya tercatat di buku pelanggaran. Bagi sebagian guru, Abi adalah contoh siswa yang sulit dibina. Teguran demi teguran tidak membuahkan hasil, hukuman terasa tidak memberi efek jera, dan perlahan muncul rasa lelah. Tidak sedikit yang mulai menyerah dan menganggap Abi sebagai anak yang memang “sudah begitu”, sulit diubah dan hanya akan terus menimbulkan masalah.

Puncak dari rangkaian perilaku itu terjadi ketika Abi terlibat konflik dengan seorang teman sekelasnya, Hanif. Berawal dari ejekan fisik yang dilontarkan Abi, suasana kelas berubah tegang. Hanif menangis, beberapa siswa panik, dan pelajaran terhenti. Peristiwa tersebut kembali menyeret Abi ke ruang perhatian wali kelas. Bagi Abi, ini bukan pengalaman baru. Ia sudah terbiasa dipanggil, dimarahi, dan diminta menandatangani surat pernyataan. Namun kali ini, yang ia temui bukanlah kemarahan seperti biasanya, melainkan sikap yang sama sekali berbeda.

Bu Mih, wali kelas Abi, memilih jalan yang lebih tenang. Ia tidak langsung menghakimi atau melontarkan kata-kata keras. Dengan suara lembut, ia mengajak Abi duduk dan berbicara dari hati ke hati. Pertanyaan yang ia ajukan sederhana, namun jarang didengar Abi sebelumnya: mengapa ia bersikap seperti itu dan apa yang sebenarnya ia rasakan. Untuk pertama kalinya, Abi terdiam cukup lama. Ia menunduk, tangannya gelisah, dan matanya berkaca-kaca. Tidak ada bantahan, tidak ada sikap menantang. Hanya keheningan yang menyimpan begitu banyak emosi. Percakapan singkat itu menjadi titik awal perubahan, bukan karena Bu Mih memberikan hukuman, tetapi karena ia memberikan ruang untuk didengar.

Sejak saat itu, Bu Mih secara konsisten mendekati Abi dengan cara-cara yang sederhana namun bermakna. Ia menyapanya setiap pagi, menanyakan kabarnya, dan sesekali mengajaknya berbincang ringan di luar jam pelajaran. Abi diberi tanggung jawab kecil di kelas, seperti membantu merapikan alat belajar atau mengumpulkan tugas teman-temannya. Setiap perubahan positif, sekecil apa pun, tidak luput dari apresiasi. Ketika Abi mulai hadir lebih teratur atau menahan diri untuk tidak berkata kasar, Bu Mih memberikan pujian yang tulus. Perlahan, sikap Abi mulai berubah. Ia menjadi lebih tenang, kehadirannya membaik, dan teman-temannya mulai kembali menerima keberadaannya.

Namun, rasa penasaran Bu Mih terhadap akar permasalahan Abi belum terjawab sepenuhnya. Ia merasa bahwa perilaku tersebut pasti berakar dari sesuatu yang lebih dalam. Dorongan itulah yang membawanya menelusuri latar belakang keluarga Abi. Melalui kunjungan rumah dan percakapan dengan keluarga, terungkap kenyataan yang menyentuh hati. Orang tua Abi hidup terpisah. Ayahnya jarang pulang dan nyaris tidak terlibat dalam kehidupan sehari-hari Abi. Ibunya bekerja sebagai tenaga kerja di luar negeri, berjuang demi ekonomi keluarga, namun harus menukar kebersamaan dengan jarak yang panjang. Abi diasuh oleh neneknya yang sudah lanjut usia, dengan segala keterbatasan fisik dan emosional. Di rumah, Abi tumbuh dengan minim perhatian orang tua. Rindu, marah, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu, mengendap dalam dirinya tanpa tahu harus disalurkan ke mana.

Emosi yang terpendam itulah yang akhirnya meledak dalam bentuk perilaku negatif di sekolah. Sekolah menjadi satu-satunya tempat Abi bisa meluapkan perasaannya, meski dengan cara yang keliru. Fakta ini semakin diperkuat ketika suatu hari sang ibu menghubungi Bu Mih dari luar negeri. Dengan suara bergetar, ia memohon agar Abi dibimbing dengan lebih intensif. Ia menyadari keterbatasannya sebagai orang tua yang tidak bisa hadir secara fisik, dan menitipkan harapan besar pada sekolah untuk menjadi tempat yang aman bagi anaknya.

Sejak mengetahui kondisi tersebut, pendekatan Bu Mih terhadap Abi semakin berlandaskan empati. Ia tidak lagi sekadar menegakkan aturan, tetapi berusaha menjadi pendengar yang aman. Bersama guru BK dan keluarga, Bu Mih mendampingi Abi secara berkelanjutan. Setiap masalah dibicarakan bersama, setiap kemajuan dirayakan, dan setiap kemunduran dihadapi dengan kesabaran. Hasilnya mulai terlihat di akhir semester. Abi memang belum menjadi murid yang sempurna, namun perubahan dalam dirinya nyata. Ia belajar mengendalikan emosi, bersikap lebih sopan, dan mulai bertanggung jawab atas tindakannya. Yang terpenting, ia tidak lagi merasa sendirian.

Kisah Abi mengajarkan satu pelajaran penting bagi dunia pendidikan. Perilaku bermasalah pada murid sering kali bukan tanda keburukan karakter, melainkan sinyal dari kebutuhan emosional yang belum terpenuhi. Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang disiplin dan prestasi akademik, tetapi juga tentang kepekaan, kesabaran, dan keberanian untuk memahami. Satu guru yang peduli, yang memilih mendengar daripada menghakimi, dapat menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Semoga kisah ini menginspirasi para pendidik untuk selalu melihat murid dengan mata hati, karena di balik setiap kenakalan, ada jiwa yang sedang meminta untuk diperhatikan dan dipahami.

Penulis: Mikhrojah, S.Pd., Guru IPA SMP Negeri 2 Ajibarang