Setiap akhir semester, suasana sekolah selalu berubah menjadi lebih ramai. Pagi hari yang biasanya lengang mendadak dipenuhi langkah kaki orang tua yang datang untuk mengambil rapor anak-anak mereka. Dalam tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun di banyak sekolah Indonesia, pemandangan ini hampir selalu serupa: mayoritas kursi di ruang kelas atau aula sekolah diisi oleh para ibu. Mereka duduk rapi, membawa tas kecil berisi buku catatan, mendengarkan penjelasan wali kelas tentang perkembangan akademik dan perilaku anak. Kehadiran ibu seolah menjadi representasi utuh dari peran orang tua dalam pendidikan, sementara sosok ayah lebih sering absen, tertinggal di balik kesibukan pekerjaan, tanggung jawab ekonomi, atau sekadar anggapan bahwa urusan sekolah adalah wilayah ibu. Tradisi ini begitu mengakar hingga jarang dipertanyakan, seolah sudah menjadi hukum tak tertulis bahwa pengambilan rapor memang “tugas ibu”.
Pada tahun ajaran 2025/2026 semester ganjil, muncul sebuah himbauan penting dari Mendikdasmen yang mengusik kebiasaan lama tersebut. Himbauan itu mendorong para ayah untuk turut hadir dalam proses pembelajaran anak, termasuk saat pengambilan rapor di sekolah. Pesan ini bukan sekadar ajakan simbolik, melainkan dorongan serius untuk menata ulang cara pandang masyarakat terhadap peran ayah dalam pendidikan. Negara melalui kebijakan moralnya ingin menegaskan bahwa pendidikan anak tidak boleh hanya bertumpu pada sekolah dan ibu, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama kedua orang tua. Kehadiran ayah di ruang-ruang pendidikan anak dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya membangun generasi yang utuh, kuat secara akademik, emosional, dan karakter.
Perubahan ini menuntut pergeseran mindset yang cukup mendasar. Kehadiran orang tua di sekolah selama ini kerap dipahami sebagai formalitas administratif semata, sekadar tanda tangan penerimaan rapor atau mendengarkan laporan nilai. Padahal, di balik momen singkat itu tersimpan makna psikologis dan emosional yang besar bagi anak. Ketika orang tua hadir dengan kesadaran penuh, menyimak, berdialog, dan menunjukkan perhatian, anak merasakan dukungan nyata yang jauh melampaui angka-angka di lembar rapor. Kehadiran tersebut menjadi pesan diam namun kuat bahwa pendidikan anak adalah hal penting, layak diperjuangkan, dan didukung sepenuh hati oleh keluarga.
Dalam konteks inilah Gerakan Ayah Mengambil Rapor atau GEMAR lahir sebagai sebuah inisiatif yang sarat makna. Tradisi pengambilan rapor sejatinya merupakan simbol keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Namun, simbol itu selama ini sering kehilangan rohnya. Kehadiran orang tua lebih bersifat administratif daripada emosional. Banyak orang tua datang terburu-buru, sekadar mengambil rapor, lalu pulang tanpa sempat berdialog mendalam dengan guru. GEMAR hadir untuk menggeser paradigma tersebut. Kehadiran ayah tidak lagi dipandang sebagai pelengkap atau pengecualian, melainkan sebagai bentuk dukungan moral, ekspresi kasih sayang, dan wujud kolaborasi nyata antara keluarga dan sekolah. Dengan GEMAR, ruang sekolah diharapkan menjadi tempat perjumpaan hangat antara ayah, anak, dan guru dalam satu tujuan bersama: tumbuh kembang anak yang optimal.
Tujuan GEMAR tidak berhenti pada simbol kehadiran fisik semata. Lebih jauh, gerakan ini ingin mempererat komunikasi antara ayah dan guru. Selama ini, banyak ayah yang merasa asing dengan dunia sekolah anaknya, tidak mengenal wali kelas, bahkan tidak mengetahui mata pelajaran atau minat khusus anak. Melalui GEMAR, ayah didorong untuk berdialog langsung dengan guru, mendengarkan penjelasan tentang perkembangan akademik maupun non-akademik anak, serta menyampaikan pandangan atau harapan sebagai orang tua. Dialog ini membuka ruang saling memahami, mengikis jarak, dan membangun kepercayaan antara keluarga dan sekolah.
Selain itu, GEMAR bertujuan meningkatkan perhatian ayah terhadap capaian anak. Tidak sedikit ayah yang baru mengetahui nilai atau prestasi anak secara sepintas melalui cerita ibu di rumah. Dengan hadir langsung, ayah dapat melihat sendiri hasil belajar anak, memahami kekuatan dan tantangannya, serta lebih peka terhadap kebutuhan pendampingan di rumah. Kesadaran ini penting agar ayah tidak hanya hadir sebagai figur pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping belajar dan pembentuk karakter. Pendidikan pun dipahami sebagai tanggung jawab bersama, sebuah sinergi antara keluarga dan sekolah, bukan beban sepihak yang diletakkan di pundak guru atau ibu semata.
Bagi anak, kehadiran ayah dalam momen pengambilan rapor memiliki dampak psikologis yang signifikan. Anak merasa diperhatikan, dihargai, dan diakui usahanya. Rasa bangga muncul ketika melihat ayah duduk berdampingan dengan guru, membicarakan dirinya. Kepercayaan diri anak tumbuh karena ia merasa tidak berjalan sendirian. Dukungan emosional ini sering kali menjadi bahan bakar penting bagi motivasi belajar anak di masa depan. Anak belajar bahwa prestasi bukan hanya soal nilai tinggi, tetapi juga tentang proses, usaha, dan dukungan orang-orang terdekat.
Dampak kehadiran ayah juga dirasakan oleh sekolah. Komunikasi yang selama ini lebih banyak terjalin antara guru dan ibu menjadi lebih seimbang. Guru dapat menyampaikan informasi dan harapan langsung kepada kedua orang tua, sehingga pesan pendidikan lebih konsisten diterapkan di rumah. Sekolah tidak lagi berhadapan dengan satu perwakilan keluarga, tetapi dengan tim orang tua yang utuh. Hal ini memperkuat kolaborasi dan mempermudah penanganan berbagai persoalan belajar maupun perilaku anak.
Di tingkat keluarga, GEMAR berkontribusi memperkuat peran ayah dalam pendidikan anak. Ayah tidak lagi diposisikan semata sebagai tulang punggung ekonomi, tetapi sebagai figur pendidik yang terlibat aktif. Kehadiran ayah di sekolah menjadi refleksi perubahan peran dalam keluarga modern, di mana pengasuhan dan pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Relasi ayah-anak pun menjadi lebih hangat, komunikatif, dan bermakna.
Namun, GEMAR juga menyimpan tantangan dan sensitivitas yang perlu disikapi dengan bijak. Tidak semua anak memiliki ayah yang dapat hadir. Ada anak yang ayahnya telah meninggal dunia, ada yang ayahnya bekerja jauh dan sulit mendapatkan izin, bahkan ada yang tidak mengetahui keberadaan ayahnya. Dalam situasi seperti ini, momen pengambilan rapor bisa menjadi pengalaman emosional yang berat. Anak dapat merasakan “sesak di dada” ketika melihat teman-temannya didampingi ayah, sementara ia datang bersama ibu, wali, atau bahkan sendiri. Risiko psikologis ini tidak boleh diabaikan.
Peran sekolah menjadi sangat penting dalam menjaga sensitivitas ini. Sekolah perlu memberikan perhatian khusus, semangat, dan apresiasi kepada anak-anak yang hadir tanpa ayah. Kehadiran figur pengganti, seperti ibu, kakek, nenek, atau wali, harus dihargai dengan penuh empati. Guru dapat menyampaikan pesan-pesan penguatan agar anak merasa tetap dicintai dan didukung, apa pun kondisi keluarganya. Dengan pendekatan yang inklusif dan manusiawi, GEMAR tidak berubah menjadi sumber luka, melainkan tetap menjadi ruang pembelajaran sosial yang hangat.
Dalam pelaksanaannya, GEMAR dirancang sederhana namun bermakna. Gerakan ini dilaksanakan pada hari pembagian rapor semesteran, memanfaatkan momen yang sudah ada tanpa menambah beban administratif baru. Sekolah dapat menyediakan ruang interaksi khusus antara ayah dan guru, baik di kelas maupun di aula, agar dialog berlangsung lebih nyaman dan fokus. GEMAR juga dapat dikaitkan dengan program lain, seperti digital literacy, parenting, atau workshop pengasuhan, sehingga kehadiran ayah di sekolah tidak berhenti pada satu momen, tetapi berlanjut dalam proses pembelajaran orang tua yang berkesinambungan.
Jika dilihat dari perspektif Tri Pusat Pendidikan, GEMAR sejatinya memperkuat salah satu pilar penting dalam pendidikan anak. Keluarga adalah fondasi utama tempat nilai, kasih sayang, dan dukungan emosional ditanamkan. Sekolah berperan sebagai penguat pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang mulai dibentuk di rumah. Sementara masyarakat menjadi laboratorium sosial tempat anak menguji dan mengaplikasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata. Ketika ketiga pusat ini bersinergi, anak tidak hanya tumbuh menjadi individu yang pintar secara akademik, tetapi juga berkarakter dan berdaya. Kehadiran ayah dalam pendidikan anak menjadi jembatan penting yang menghubungkan rumah dan sekolah secara lebih kokoh.
Secara filosofis, anak dapat dianalogikan sebagai sebuah kapal yang sedang bersiap berlayar. Keluarga adalah lambung kapal yang menentukan ketahanan dan keseimbangannya. Sekolah berperan sebagai kompas dan peta yang memberi arah dan tujuan. Sementara masyarakat adalah lautan luas tempat kapal itu berlayar, menghadapi gelombang, arus, dan tantangan nyata. Tanpa lambung yang kokoh, kapal tidak akan berani berlayar jauh. Tanpa lautan, kapal tidak memiliki ruang untuk bergerak dan menemukan makna perjalanannya. Dalam analogi ini, kehadiran ayah memperkuat lambung kapal, memastikan anak memiliki fondasi emosional yang cukup untuk menjelajah dunia dengan percaya diri.
Pada akhirnya, GEMAR bukan sekadar gerakan seremonial atau tren sesaat dalam dunia pendidikan. Ia adalah upaya membangun budaya baru yang menempatkan kehadiran ayah sebagai bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Kehadiran ayah saat pengambilan rapor menjadi simbol cinta, perhatian, dan tanggung jawab bersama dalam pendidikan. Lebih dari itu, GEMAR mengajarkan bahwa pendidikan adalah kerja kolektif yang membutuhkan keterlibatan hati, waktu, dan kesadaran semua pihak. Harapannya, GEMAR dapat tumbuh menjadi tradisi baru yang mengakar, memperkuat kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, demi lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga matang secara emosional, berkarakter kuat, dan siap menghadapi masa depan.
Penulis : Karmiati, S.Pd .SMP N 1 Purwojati Banyumas
