Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Guru yang Tak Pernah Usai Belajar: Menjadi Cahaya di Tengah Pinggiran

Diterbitkan :

Di suatu sudut kota kecil yang nyaris luput dari radar kemajuan, berdiri sebuah sekolah sederhana di tengah deretan pabrik dan rumah-rumah pekerja. Bangunannya tak megah, fasilitasnya tak lengkap, dan suara mesin pabrik kerap menjadi latar belakang bagi kegiatan belajar-mengajar. Namun di dalam ruang-ruang kelas yang catnya mulai memudar, ada cahaya yang menyala—bukan dari lampu neon, melainkan dari sosok seorang guru yang tak pernah berhenti belajar. Ia bukan guru luar biasa karena gelar atau penghargaan. Ia bukan selebritas pendidikan yang viral di media sosial. Tapi ia luar biasa karena satu hal: semangat belajarnya tak pernah padam. Di tengah segala keterbatasan, ia terus mencari ilmu, menggali pengetahuan, dan menyelami dunia anak-anak yang ia didik, agar ia bisa hadir dengan lebih tepat, lebih utuh, dan lebih manusiawi.

Banyak orang memandang guru sebagai sumber ilmu. Tapi bagi guru ini, dirinya justru adalah pembelajar abadi. Ia sadar bahwa dunia berubah cepat, dan anak-anak yang ia hadapi bukan produk masa lalu. Mereka hidup dalam konteks baru, dengan tantangan, budaya, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang telah ia ketahui. Setiap pagi ia datang ke sekolah membawa semangat baru. Sepulang mengajar, ia membuka buku-buku tentang psikologi perkembangan anak, mencatat, dan merenung. Ia ingin benar-benar memahami: apa yang sedang dialami anak usia 7 tahun ketika mereka gelisah? Apa yang dibutuhkan remaja 15 tahun yang mulai memberontak? Bagaimana cara menyentuh hati siswa yang kehilangan motivasi karena tekanan ekonomi? Ia tidak ingin sekadar menduga-duga. Ia tahu, satu kesalahan pendekatan bisa meninggalkan luka panjang. Maka ia belajar, membaca literatur dari Piaget hingga Erikson, dari Vygotsky hingga Daniel Goleman. Ia mendalami konsep perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Bagi dia, memahami anak bukan sekadar tuntutan profesional, tapi wujud cinta.

Buku adalah teman setia. Rak di rumahnya dipenuhi bacaan psikologi, pendidikan, bahkan filsafat. Ia tidak hanya membaca, tapi juga merefleksikan dan mencoba mengaitkan dengan kenyataan di sekolahnya. Setiap paragraf yang ia pahami menjadi jendela untuk melihat siswa-siswinya dengan kacamata yang lebih bijaksana. Namun ia tahu bahwa belajar tidak cukup dari buku. Maka ia aktif mengikuti pelatihan—baik daring maupun luring. Webinar pendidikan, workshop metode pembelajaran, pelatihan literasi numerasi, pelatihan kelas ramah anak, semua ia ikuti dengan penuh antusias. Kadang harus naik sepeda motor puluhan kilometer ke kota kecamatan. Kadang harus mencuri waktu di sela akhir pekan. Tapi ia menjalaninya dengan sukacita. Dari pelatihan, ia menemukan model-model pembelajaran aktif yang sebelumnya tak ia kenal. Ia belajar tentang pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, hingga metode Montessori untuk anak-anak awal. Ia juga mulai akrab dengan platform digital—bukan untuk tampil keren, tapi agar bisa lebih efektif menjangkau siswa yang kesulitan belajar. Namun yang paling mengesankan adalah bagaimana ia belajar dari kehidupan. Ia memperhatikan anak-anak di lingkungan rumah, mendengar cerita orang tua, dan mengamati bagaimana lingkungan industri memengaruhi pola pikir dan perilaku siswa. Ia tahu bahwa di daerahnya, banyak anak yang harus membantu orang tua bekerja, atau dititipkan ke nenek karena kedua orang tua sibuk di pabrik. Maka ia tak bisa menyamakan perlakuan mereka dengan anak-anak di kota besar.

Di tengah semua proses belajarnya, satu hal yang tidak pernah berubah: ia ingin melayani. Bukan menggurui, bukan merasa lebih tahu, apalagi memaksa. Ia menyadari bahwa setiap anak adalah dunia yang unik, dengan cara berpikir, merasa, dan bertindak yang berbeda. Maka tugasnya bukan menjejalkan ilmu, tapi membuka pintu agar anak-anak bisa tumbuh sesuai iramanya sendiri. Pemahamannya tentang psikologi perkembangan membantunya untuk tidak cepat menghakimi. Ketika ada anak yang tidak bisa diam di kelas, ia tidak langsung menyalahkan. Ia mencari tahu: apakah ini bagian dari fase perkembangan motorik? Apakah anak ini kurang stimulasi di rumah? Apakah ia hanya butuh ruang untuk mengekspresikan diri? Ketika ada anak yang murung dan menarik diri, ia tidak buru-buru memarahi karena dianggap tidak aktif. Ia menyelidiki: adakah masalah keluarga? Apakah anak ini sedang merasa tidak aman? Apakah ia pernah mengalami trauma? Dengan pendekatan yang penuh empati dan ilmu, ia melayani siswa-siswinya bukan dengan metode seragam, tetapi dengan perhatian yang spesifik. Ia percaya, hanya dengan pelayanan yang sesuai kebutuhan, pendidikan bisa benar-benar menyentuh dan mengubah hidup anak-anak.

Banyak yang menganggap sekolah pinggiran sebagai tempat tanpa harapan. Fasilitas terbatas, akses informasi minim, lingkungan tidak mendukung. Tapi bagi guru ini, sekolah pinggiran adalah ladang yang luas untuk menyemai kebaikan. Justru karena keterbatasan, ia merasa terpanggil untuk hadir lebih kuat. Ia tahu bahwa sebagian besar siswanya berasal dari keluarga buruh pabrik, pedagang kecil, atau pekerja serabutan. Pendidikan bukan prioritas utama, bahkan kadang dianggap beban. Tapi justru itu ia merasa harus menjadi figur yang menunjukkan bahwa belajar bisa menyenangkan, bermakna, dan berdampak nyata. Ia menggunakan metode pembelajaran yang kontekstual. Membahas matematika lewat hitungan dalam toko kelontong. Mengajarkan IPA lewat pengamatan lingkungan pabrik. Menyisipkan nilai karakter lewat cerita keseharian siswa. Ia tidak memaksakan standar tinggi tanpa kompromi, tapi juga tidak menurunkan kualitas. Ia menyesuaikan cara, bukan tujuannya.

Apa yang ia pelajari, tidak ia simpan dalam catatan atau seminar saja. Ia aplikasikan, uji, dan evaluasi. Setiap metode baru ia coba dengan penuh kesadaran, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ia tahu bahwa tidak semua teori cocok diterapkan mentah-mentah, maka ia kreatif mengadaptasi. Misalnya, setelah belajar tentang pembelajaran berdiferensiasi, ia mulai membuat variasi tugas: ada yang berbasis visual, ada yang kinestetik, ada yang verbal. Ia biarkan siswa memilih sesuai gaya belajarnya. Hasilnya, siswa lebih terlibat, dan suasana kelas menjadi hidup. Setelah memahami konsep self-regulated learning, ia mulai mendorong siswa menetapkan target belajarnya sendiri. Ia latih mereka merefleksi, mengevaluasi, dan menyusun strategi belajar. Hasilnya tidak instan, tapi ia percaya bahwa anak-anak akan tumbuh lebih mandiri. Ia pun mulai menerapkan pendekatan coaching: tidak memberi jawaban, tapi bertanya balik, menggiring siswa untuk berpikir, merasa, dan menemukan sendiri. Bukan karena ia tidak tahu jawabannya, tapi karena ia ingin anak-anak menjadi pembelajar sejati.

Guru ini percaya bahwa ia tidak sedang bekerja untuk hari ini. Ia sedang menanam untuk masa depan yang belum tampak. Ia sadar bahwa mungkin anak-anak yang ia didik tidak langsung menjadi bintang, tidak langsung berhasil, bahkan mungkin ada yang menyerah di tengah jalan. Tapi ia tidak patah semangat. Karena setiap anak yang merasa dimengerti, dilayani, dan dihargai, akan menyimpan kenangan itu dalam-dalam. Dan ketika saatnya tiba, kenangan itulah yang akan menjadi cahaya dalam hidup mereka. Cahaya yang mungkin tak mereka sadari berasal dari guru sederhana yang tak pernah lelah belajar.

Yang menarik, semangat belajarnya tidak berhenti pada dirinya. Ia mulai menulari rekan-rekan sejawat. Ia ajak diskusi, ia berbagi bahan bacaan, bahkan kadang mengadakan pelatihan kecil di sekolah. Ia tidak menggurui, tapi menginspirasi dengan teladan.Sedikit demi sedikit, sekolah mulai berubah. Suasana jadi lebih terbuka, lebih kolaboratif. Guru-guru mulai lebih reflektif. Mereka belajar bersama, saling memberi umpan balik, dan membangun komunitas pembelajar. Sekolah yang dulu terpinggirkan, mulai tumbuh menjadi pusat perubahan.

Di akhir hari, ia menyadari bahwa pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang ia ajarkan, tapi seberapa dalam ia hadir. Seberapa tulus ia menemani anak-anak dalam proses tumbuhnya. Ia ingin menjadi guru yang manusiawi: yang mengajar dengan hati, belajar dengan rendah hati, dan melayani dengan sepenuh hati. Ia tidak mencari panggung, tidak menuntut tepuk tangan. Tapi jika suatu hari, ada anak yang berkata: “Aku jadi percaya diri karena Ibu Guru dulu mendengarkan aku,” atau “Aku jadi suka belajar karena Bapak Guru dulu tidak marah saat aku salah,” maka ia tahu bahwa perjuangannya tidak sia-sia. Karena bagi dia, itulah arti menjadi guru sejati.

Guru sejati bukan hanya yang mengajar, tetapi yang terus belajar. Ia tidak berhenti pada pengetahuan, tapi terus menyelami makna. Ia hadir bukan untuk memerintah, tetapi melayani. Ia tidak ingin mengubah anak-anak menjadi dirinya, tetapi menuntun mereka menemukan jati diri mereka sendiri.Di sekolah pinggiran yang dikelilingi bising industri, guru seperti ini adalah cahaya. Ia tak pernah usai belajar, karena cinta dan harapan yang ia tanamkan selalu bertumbuh. Dan selama masih ada guru seperti ini, pendidikan Indonesia tidak akan pernah kehilangan arah.

Penulis : Ajeng Virga Sawitri Maro.S.Pd.,M.Pd, Guru SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang