Dalam beberapa waktu terakhir, jagat maya kerap diramaikan oleh video-video viral yang menampilkan guru sedang berjoget, menyanyi, atau membuat konten perpisahan dengan siswa. Satu sisi dari internet meresponsnya dengan senyuman, menganggapnya sebagai bentuk pendekatan yang menyenangkan dan kekinian. Namun sisi lain bereaksi dengan keras, melontarkan kritik bahwa perilaku seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seorang guru. Bahkan ada yang menyebut bahwa guru seperti itu kehilangan wibawa dan melenceng dari nilai-nilai pendidikan. Reaksi yang tajam dan kontras ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kita sudah bersikap adil terhadap guru?
Dalam dinamika dunia pendidikan, guru kerap berada dalam posisi yang serba salah. Ketika seorang siswa mengalami kegagalan, maka guru adalah nama pertama yang disebut sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Namun ketika seorang siswa mencapai prestasi gemilang, maka pujian lebih banyak diarahkan pada siswa itu sendiri atau bahkan orang tuanya, sementara peran guru kerap terlupakan. Publik seperti menuntut guru untuk menjadi sosok yang sempurna: pendidik yang cerdas, sabar tanpa batas, tidak boleh terlihat lelah, apalagi salah langkah. Padahal, guru juga manusia yang memiliki perasaan, tantangan hidup, serta ruang untuk tumbuh dan belajar.
Ketimpangan ini semakin terasa ketika citra guru di ruang publik terbentuk melalui potongan-potongan kecil yang viral di media sosial. Media, baik konvensional maupun digital, memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi publik. Teori Agenda Setting yang dikemukakan McCombs dan Shaw menyebutkan bahwa media tidak hanya menyajikan fakta, tetapi juga membentuk isu yang dianggap penting oleh publik. Dalam konteks ini, ketika media lebih banyak menyoroti sisi hiburan atau kontroversial dari aktivitas guru, maka terbentuklah persepsi bahwa hal-hal itu mewakili keseluruhan profesi guru. Padahal, realitas di balik video berdurasi tiga puluh detik itu mungkin menyimpan kerja keras, dedikasi, dan tekanan yang tak terlihat kamera.
Guru yang tersenyum dan berjoget di TikTok mungkin adalah guru yang seminggu sebelumnya lembur menyiapkan bahan ajar, mendampingi siswa lomba, atau mengajar di kelas dengan berbagai keterbatasan fasilitas. Namun konteks itu sering kali hilang ketika publik hanya melihat permukaan tanpa memahami isi. Ini adalah risiko dari budaya digital yang serba cepat, serba singkat, dan sering kali tidak memberi ruang bagi pemahaman yang utuh.
Di tengah gempuran persepsi ini, penting untuk mengingat kembali gagasan Paulo Freire bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi relasi yang manusiawi antara guru dan siswa. Dalam ruang kelas yang sehat, senyum dan tawa bukanlah gangguan, melainkan jembatan emosional yang mempererat proses belajar. Guru yang dekat dengan siswa secara emosional justru lebih mampu menanamkan nilai dan pengetahuan secara efektif. Maka ketika seorang guru menari, bisa jadi itu bukan sekadar ekspresi pribadi, melainkan strategi untuk menjangkau siswa dengan pendekatan yang sesuai dengan zaman mereka.
Kita hidup di era masyarakat digital, di mana guru pun tak luput dari arus budaya yang mengalir deras. TikTok, Instagram, YouTube, dan berbagai platform lain bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga sarana untuk membangun komunikasi, membagikan pengetahuan, atau bahkan memperluas pengaruh positif. Jika seorang guru menggunakan media sosial sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada siswa, selama substansi pendidikan tetap terjaga, maka pendekatan seperti ini patut diapresiasi. Tantangannya justru ada pada literasi digital publik—kemampuan untuk membedakan antara konten yang sekadar viral dengan konteks sebenarnya yang melatarbelakangi pembuatan konten tersebut.
Lebih jauh, kita perlu memahami bahwa dunia pendidikan adalah sistem yang kompleks. Guru bukan satu-satunya aktor dalam proses belajar. Ada pengaruh keluarga, kondisi sosial, lingkungan sekitar, serta aspek psikologis siswa yang turut memengaruhi hasil belajar. Menempatkan seluruh beban keberhasilan atau kegagalan pendidikan di pundak guru saja adalah bentuk penyederhanaan yang tidak adil. Dalam kenyataannya, guru berjuang dalam sistem yang penuh tekanan: tuntutan administrasi yang menumpuk, perubahan kurikulum yang cepat, ekspektasi masyarakat yang tinggi, serta keterbatasan fasilitas dan dukungan.
Maka, sebelum kita cepat-cepat menghakimi seorang guru hanya dari potongan video atau satu momen yang tampak di media sosial, mari kita bertanya pada diri sendiri: kalau saya berada di posisi mereka, akankah saya mampu bertahan? Apakah saya bisa mengajar dengan hati, sambil terus tersenyum di tengah beban pekerjaan dan tekanan publik? Pertanyaan ini penting bukan untuk mencari pembenaran, tetapi untuk membangun empati dan pemahaman yang lebih dalam.
Pada akhirnya, guru juga manusia. Mereka pun belajar, mencoba pendekatan baru, beradaptasi dengan budaya digital, dan terkadang melakukan kekeliruan. Namun dari proses itulah lahir pembelajaran yang lebih kaya. Dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat, kita membutuhkan literasi publik yang matang—kemampuan untuk melihat secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan kesan sesaat. Kita juga membutuhkan empati sebagai pondasi untuk membangun saling percaya antara masyarakat dan pendidik.
Sebuah ekosistem pendidikan yang sehat tidak lahir dari sikap menghakimi, tetapi dari keinginan bersama untuk saling memahami dan memperbaiki. Guru tidak perlu menjadi malaikat yang sempurna, cukup menjadi manusia yang terus berproses dan mencintai pekerjaannya. Dan jika dalam proses itu mereka menari, tersenyum, atau menangis bersama muridnya—itu adalah bagian dari perjalanan yang sangat manusiawi. Sebuah perjalanan yang layak untuk kita hormati, bukan kita hujat.
Penulis : Ibnu Rofik, S.Pd – Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Belik, Pemalang
