Laboratorium IPA seharusnya menjadi ruang paling rasional di lingkungan sekolah. Di sanalah sains diuji, diamati, dan dipelajari melalui bukti nyata. Namun ironisnya, di beberapa sekolah justru terjadi peristiwa sebaliknya: alat peraga biologi berupa rangka manusia asli disingkirkan, bahkan dikubur, karena dianggap membawa gangguan mistis. Padahal alat tersebut dibeli dengan harga mahal, diinventarisasi secara resmi, dan sejatinya disiapkan untuk memperkaya pembelajaran IPA. Fenomena ini perlu dibicarakan secara jernih, ilmiah, dan edukatif—bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk meluruskan.
Rangka Manusia dalam Pendidikan: Bukan Benda Gaib
Rangka manusia asli yang digunakan di laboratorium bukanlah benda sembarangan. Dalam praktik pendidikan dan penelitian, rangka tersebut berasal dari mekanisme yang sah: donor sukarela, lembaga pendidikan tinggi, atau institusi riset yang mematuhi etika dan hukum. Tidak ada unsur magis dalam tulang belulang yang telah melalui proses pembersihan, pengawetan, dan perakitan secara ilmiah.
Dalam konteks pembelajaran IPA SMP, rangka manusia—baik asli maupun replika—memiliki fungsi pedagogis yang sangat penting. Ia membantu peserta didik memahami sistem gerak manusia secara konkret, menghubungkan teori dengan realitas biologis, serta menumbuhkan sikap ilmiah berbasis observasi.
Mengubur alat peraga tersebut karena cerita mistis justru mencerminkan kegagalan kita memosisikan laboratorium sebagai ruang ilmu pengetahuan.
Mahal Dibeli, Tak Pernah Dipelajari
Tidak sedikit alat peraga biologi yang dibeli melalui dana negara dengan biaya yang tidak murah. Namun kenyataannya, alat itu sering hanya menjadi pajangan lemari laboratorium—atau lebih parah, disingkirkan karena dianggap “tidak nyaman secara batin”.
Ini bukan sekadar pemborosan anggaran, melainkan pemborosan kesempatan belajar. Siswa kehilangan sumber belajar autentik, guru kehilangan media ajar yang kuat, dan sekolah kehilangan fungsi laboratoriumnya.
Padahal, dengan pendampingan guru yang tepat, rangka manusia justru dapat menjadi sarana pendidikan karakter: menghormati tubuh manusia, memahami sains dengan etika, serta membedakan antara kepercayaan personal dan fakta ilmiah.
Antara Budaya, Etika, dan Ilmu Pengetahuan
Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia memiliki latar budaya dan kepercayaan yang beragam. Sekolah perlu peka terhadap konteks ini. Namun kepekaan budaya tidak boleh berujung pada penyingkiran ilmu pengetahuan.
Jika muncul keresahan atau ketakutan, langkah yang tepat bukan mengubur alat peraga secara diam-diam, melainkan:
melakukan edukasi dan sosialisasi kepada warga sekolah,
berkonsultasi dengan ahli biologi atau instansi terkait,
serta memastikan penggunaan alat peraga dilakukan secara profesional dan terbuka.
Ilmu pengetahuan tumbuh bukan dengan menertawakan kepercayaan, tetapi dengan memberi penjelasan yang masuk akal.
Aspek Hukum dan Tanggung Jawab Sekolah
Perlu ditegaskan bahwa alat peraga laboratorium adalah barang inventaris negara. Penghapusan atau pemusnahannya tidak bisa dilakukan secara sepihak. Ada prosedur administrasi, verifikasi, dan keputusan resmi yang harus ditempuh.
Mengubur alat peraga tanpa prosedur bukan hanya keliru secara edukatif, tetapi juga berpotensi bermasalah secara hukum dan akuntabilitas.
Laboratorium Harus Menjadi Ruang Keberanian Ilmiah
Sekolah adalah benteng terakhir rasionalitas di tengah derasnya mitos dan disinformasi. Jika laboratorium IPA saja tunduk pada cerita mistis, maka yang terancam bukan hanya alat peraga, tetapi masa depan nalar ilmiah peserta didik.
Rangka manusia di laboratorium bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dipelajari. Bukan untuk disingkirkan, tetapi untuk dimaknai sebagai jembatan memahami ciptaan Tuhan melalui ilmu pengetahuan.
Sudah saatnya sekolah berani menegakkan fungsi edukatif laboratorium. Alat peraga biologi yang mahal, sah, dan ilmiah tidak boleh berakhir di liang tanah karena kalah oleh cerita. Ilmu pengetahuan harus tetap berdiri di ruangnya sendiri: terang, rasional, dan mendidik.
Ajibarang, 30 Desember 2025
Penulis : Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja
