Pagi itu suasana kelas berbeda dari biasanya. Meja-meja disusun melingkar dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok memiliki papan presentasi sederhana, lembaran kertas warna-warni yang dipenuhi tulisan tangan, dan aneka gambar yang mereka cetak sendiri dari ponsel mereka. Tidak ada suara guru mengajar di depan, tidak ada juga siswa yang sibuk mencatat dari papan tulis. Yang terdengar hanya suara riuh rendah siswa yang berdiskusi dengan penuh semangat. Hari itu adalah hari pelaksanaan kegiatan anjang sana.
Sejak dua minggu sebelumnya, sang guru Pendidikan Agama Islam telah membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing diberi tanggung jawab untuk mengkaji satu tema dalam pelajaran agama, mulai dari fiqih, akidah, akhlak, hingga sejarah kebudayaan Islam. Namun tidak berhenti di situ. Mereka juga diminta untuk menyiapkan cara penyampaian materi yang menarik dan interaktif, seolah-olah mereka adalah guru bagi teman-teman mereka.
Sang guru hanya memberi arahan umum: buatlah materi semenarik mungkin, susun presentasi, siapkan alat bantu, lalu bersiaplah menerima tamu dari kelompok lain. Ia menyebutnya metode anjang sana, sebuah model pembelajaran yang menekankan pada pertukaran pengetahuan melalui kunjungan dari satu kelompok ke kelompok lain. Metode ini tidak hanya bertujuan memperdalam pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga untuk menumbuhkan sikap saling menghargai, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan memberi serta menerima umpan balik.
Setiap kelompok telah bekerja keras. Mereka menghabiskan waktu di luar jam pelajaran untuk mencari referensi, berdiskusi di grup chat, bahkan beberapa kelompok menyempatkan diri berkumpul di rumah salah satu anggota untuk menyusun media presentasi. Ada yang membuat video singkat berisi simulasi wudhu, ada yang menampilkan drama mini tentang kisah sahabat Nabi, ada pula yang membuat kuis interaktif tentang rukun iman dan Islam.
Hari pelaksanaan menjadi puncak dari semua persiapan itu. Dengan antusias, kelompok pertama membuka ruang diskusi mereka. Satu per satu kelompok lain datang berkunjung, duduk, menyimak, lalu memberikan umpan balik. Di sisi lain ruangan, kelompok lain sedang menerima tamu, menjelaskan materi, lalu mendengarkan saran dari pengunjung. Semua berlangsung dengan hangat, kadang diselingi tawa, kadang dengan wajah serius saat membahas kekeliruan dalam pemahaman.
Sang guru berjalan pelan dari satu kelompok ke kelompok lain. Ia tidak memberikan intervensi. Ia hanya mengamati, mencatat, dan sesekali tersenyum melihat bagaimana siswa-siswanya berbagi peran sebagai guru dan murid. Beberapa siswa yang biasanya pendiam, kini tampak percaya diri menjelaskan isi materi. Mereka tidak hanya hafal, tapi benar-benar memahami karena telah melewati proses pencarian sendiri.
Kelompok yang bertugas sebagai tuan rumah berusaha menyambut tamu mereka dengan sopan. Mereka memperkenalkan materi, menunjukkan media, lalu mengajak diskusi. Setelah sesi selesai, tamu dari kelompok lain memberikan catatan apresiasi dan kritik membangun. Di akhir sesi, mereka saling memberikan stiker kecil sebagai simbol persahabatan dan penghargaan. Salah satu siswa bahkan berkata bahwa ini adalah pelajaran agama paling menyenangkan yang pernah ia alami.
Metode anjang sana ini mengajarkan banyak hal. Pertama, bahwa pengetahuan bukan hanya untuk disimpan, tapi dibagikan. Kedua, bahwa belajar bisa terjadi di mana saja dan dari siapa saja. Ketiga, bahwa setiap anak punya gaya belajar berbeda, dan guru hanya perlu memberi ruang agar mereka bisa menemukan cara terbaiknya sendiri.
Di balik keberhasilan pelaksanaan anjang sana itu, ada perjuangan panjang sang guru. Ia tidak serta-merta mengubah metode pembelajaran tanpa dasar. Ia membaca berbagai jurnal pendidikan, mengikuti pelatihan daring tentang pembelajaran kolaboratif, dan berdiskusi dengan rekan sejawat. Ia juga mencoba memahami karakter siswanya, melihat bagaimana mereka lebih mudah menyerap materi ketika terlibat langsung dalam proses penciptaan pembelajaran.
Bukan hal mudah memulai sesuatu yang baru. Ketika ia pertama kali menyampaikan ide ini dalam rapat guru, beberapa rekan mengangkat alis, ragu apakah siswa mampu mengelola pembelajaran seperti itu. Tapi ia yakin, bahwa siswa akan mengejutkan kita jika diberi kepercayaan.
Hari kedua anjang sana berlangsung lebih cair. Para siswa telah lebih siap dan tidak canggung lagi. Mereka bahkan mulai menambahkan improvisasi, seperti membuat kartu tanya-jawab, menyajikan materi dengan musik latar, dan menggunakan proyektor mini dari ponsel untuk menampilkan video. Kreativitas itu tumbuh bukan karena paksaan, tapi karena rasa tanggung jawab dan kebanggaan.
Ketika sesi evaluasi dilakukan di akhir pekan, sang guru mengajak siswa duduk bersama dalam lingkaran. Ia tidak memberi nilai langsung, tapi mempersilakan setiap siswa menceritakan apa yang mereka pelajari. Ada yang mengaku kini lebih paham karena harus menjelaskan kepada orang lain. Ada yang merasa senang bisa memberi saran kepada teman, dan ada yang merasa lebih percaya diri setelah tampil.
Dari catatan refleksi siswa, hampir semuanya menyebut bahwa metode anjang sana membuat mereka merasa dihargai. Mereka merasa tidak hanya sebagai objek pembelajaran, tapi juga sebagai subjek yang aktif dan berarti. Sang guru merasa haru. Ia tahu, bahwa keberhasilan metode ini bukan hanya pada pencapaian kognitif, tapi pada tumbuhnya nilai-nilai kolaborasi, empati, dan saling menghargai.
Beberapa minggu kemudian, salah satu kelompok yang sangat antusias dalam kegiatan anjang sana diminta untuk mempresentasikan materi mereka dalam acara keagamaan tingkat kecamatan. Mereka menampilkan drama singkat yang pernah mereka mainkan dalam kelas. Orang tua siswa yang hadir merasa bangga. Mereka melihat anak-anak mereka tidak hanya tampil, tapi juga mampu berbicara dengan percaya diri, menjelaskan nilai-nilai agama dengan cara yang menyentuh.
Dari pengalaman ini, sang guru terus mengembangkan variasi kegiatan anjang sana. Ia memperluas cakupan tema, bahkan mulai mengintegrasikan proyek lintas mata pelajaran. Ia bekerja sama dengan guru IPS untuk membahas sejarah Islam dari sudut pandang geografi dan budaya. Ia berkolaborasi dengan guru Bahasa Indonesia agar siswa bisa menulis narasi reflektif tentang pengalaman mereka.
Kini, setiap semester, anjang sana menjadi kegiatan rutin dalam pembelajaran PAI. Setiap siswa menanti-nantikan, bukan karena ingin dapat nilai tinggi, tapi karena mereka merasa belajar dengan cara itu membuat mereka hidup, merasa dekat dengan teman dan guru, dan yang paling penting: merasa bahwa pelajaran agama bukan hanya hafalan, tapi pengalaman yang menyentuh hati dan membentuk karakter.
Sang guru tidak mencari popularitas. Ia hanya ingin menjadi jembatan. Jembatan bagi siswa untuk bertemu dengan pemahaman yang lebih luas, untuk menyeberang dari keraguan ke keyakinan, dari pasif ke aktif, dari diam menjadi bersuara. Dan di setiap langkah kecil yang ia tempuh, ia selalu percaya bahwa pendidikan agama bisa menjadi lentera yang menyala lembut, menerangi jalan anak-anak menuju kebaikan hidup yang nyata.
Karena sejatinya, ajaran agama bukan hanya soal kitab dan dalil. Tapi juga soal kebiasaan menghargai sesama, kemampuan mendengarkan, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun. Dan dalam kelas itu, lewat metode anjang sana yang sederhana namun bermakna, semua itu sedang tumbuh—pelan tapi pasti—di hati para siswa yang belajar bukan hanya dengan kepala, tapi juga dengan jiwa mereka.
Penulis : Ajeng Virga Sawitri Maro.S.Pd., Guru SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang
