Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kirab Prajurit Patang Puluhan Tradisi Budaya Demak yang Sarat Makna

Diterbitkan :

Di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, setiap bulan Dzulhijah tidak hanya menjadi momentum spiritual bagi umat Islam yang menunaikan ibadah haji, tetapi juga menjadi panggung bagi peristiwa budaya yang meneguhkan identitas sejarah masyarakatnya, Kirab Prajurit Patang Puluhan. Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan atau pawai budaya, melainkan sebuah napak tilas sejarah peradaban Islam di tanah Jawa, khususnya yang berakar dari Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Nusantara.

Kirab Prajurit Patang Puluhan adalah tradisi budaya yang menjadi bagian dari perayaan Grebeg Besar di Kabupaten Demak. Tradisi ini berupa iring-iringan 40 prajurit yang mengawal prosesi penjamasan (pembersihan) pusaka Sunan Kalijaga, yaitu Kotang Antokusumo dan Kyai Carubuk. Kirab ini biasanya dimulai dari Pendopo Kabupaten Demak melewati jalan-jalan utama kota, dan berakhir menuju Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, tempat yang menjadi saksi sejarah penyebaran Islam oleh para Wali Songo.

Kirab ini menampilkan barisan para prajurit berkostum tradisional lengkap dengan tombak, keris, dan atribut kerajaan. Mereka disebut “Prajurit Patang Puluhan” karena jumlah barisannya dahulu terdiri dari 40 orang prajurit pilihan yang menjadi pengawal utama raja-raja Demak. Awal mula kirab ini terkait erat dengan warisan Kerajaan Demak, yang berdiri sekitar tahun 1475 M oleh Raden Patah, dan menjadikan Masjid Agung Demak sebagai pusat kekuasaan sekaligus dakwah Islam.

Dalam konteks sejarah, para prajurit ini tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga menjadi simbol kewibawaan kerajaan dan penjaga nilai-nilai Islam. Kini, prosesi kirab yang digelar setiap tanggal 10 Dzulhijah setelah sholat Idul Adha bukan hanya sebagai penghormatan atas peristiwa keagamaan, tetapi juga bentuk pelestarian budaya dan penghargaan atas jasa para leluhur. Para peserta kirab terdiri dari tokoh masyarakat, siswa sekolah, pegawai pemerintah, serta kelompok seni budaya lokal. Setiap tahun, siswa SMA Negeri 3 Demak selalu menjadi salah satu pesertanya.

Busana prajurit yang dikenakan menggambarkan corak khas prajurit Majapahit dan Demak. Dalam barisan tersebut, sering pula disertakan unsur simbolik seperti gunungan (simbol kemakmuran), kuda tunggangan, dan alat musik tradisional seperti terompet dan drum, yang menciptakan atmosfer sakral dan agung. Beberapa prajurit membawa tombak dan pusaka simbolik, sementara pemuka barisan membawa bendera lambang Kerajaan Demak. Semuanya menggambarkan kesinambungan antara spiritualitas Islam dan tradisi Jawa.

Salah satu inti dari prosesi kirab ini adalah penjamasan pusaka peninggalan Sunan Kalijaga, tokoh sentral Wali Songo yang dikenal sebagai penyebar Islam melalui pendekatan budaya. Pusaka yang dijamas (dimandikan secara ritual) berupa benda-benda bersejarah seperti keris (Kyai Carubuk) dan jubah kebesaran (Kutang Antokusumo), yang diyakini dahulu digunakan oleh Sunan Kalijaga dalam misi dakwah dan perlindungan masyarakat.

Penjamasan dilakukan oleh ahli waris Sunan Kalijaga yang ditunjuk secara khusus, yang tergabung dalam Tim 7, serta dibantu oleh juru kunci dan sesepuh Kadilangu, di kompleks Makam Kadilangu Demak. Pusaka dibersihkan dengan minyak jamas. Minyak ini merupakan minyak suci yang dibuat khusus dan diracik dari berbagai bahan alami, termasuk minyak kelapa, bunga melati, kenanga, cendana, dan beberapa rempah rahasia. Minyak jamas ini dipercaya memiliki kekuatan untuk menyucikan dan merawat pusaka-pusaka tersebut. Proses ini disaksikan oleh para tokoh agama, pemimpin daerah, dan masyarakat umum dalam suasana yang khusyuk.

Proses pembuatan minyak jamas juga terbilang sakral dan melibatkan ahli waris keturunan Sunan Kalijaga. Minyak inti yang disebut “lisah sepuh” menjadi dasar pembuatan minyak jamas, yang kemudian dicampur dengan berbagai wewangian. Selain itu, ada juga tradisi penyerahan abon-abon (minyak jamas) dari Keraton Surakarta untuk digunakan dalam prosesi penjamasan. Prosesi penjamasan pusaka Sunan Kalijaga sendiri merupakan tradisi penting yang dilakukan secara turun temurun dan melibatkan ritual khusus, termasuk penggunaan minyak jamas ini.

Penjamasan pusaka bukan hanya ritual simbolik. Ia menjadi pengingat bahwa pusaka sejati dari para wali bukan hanya senjata, tetapi warisan nilai, kesederhanaan, perjuangan, dan ilmu. Dalam narasi masyarakat Demak, pusaka-pusaka tersebut bukan sekadar benda warisan, melainkan jembatan spiritual yang menghubungkan masa kini dengan ajaran dan jejak Wali Songo.

Kirab ini tidak hanya berdimensi ritual, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan sosial. Bagi generasi muda, kirab menjadi media pembelajaran sejarah lokal yang hidup dan menyentuh. Mereka tidak sekadar membaca buku sejarah, tetapi melihat dan bahkan ikut serta dalam rekonstruksi budaya nenek moyang mereka. Dari perspektif sosial, kirab ini memperkuat rasa kebersamaan antarwarga, membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga warisan leluhur, dan menjadi bagian dari agenda pariwisata budaya yang menarik minat wisatawan.

Di era modern ini, menjaga tradisi seperti Kirab Prajurit Patang Puluhan dan penjamasan pusaka adalah bentuk perlawanan halus terhadap pelupaan kolektif. Di tengah derasnya arus informasi dan budaya global, Demak menunjukkan bahwa melestarikan warisan bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menanamkan akar agar tidak hanyut oleh zaman.

Kirab ini tidak hanya ditujukan untuk internal masyarakat Demak, tetapi juga menjadi bagian dari agenda wisata budaya daerah. Pemerintah daerah terus berupaya menjadikan kirab dan penjamasan pusaka sebagai bagian dari narasi besar Islam yang menghargai tradisi lokal tanpa meninggalkan nilai-nilai universal Islam.

Di tengah gempuran budaya modern dan globalisasi, tradisi seperti Kirab Prajurit Patang Puluhan adalah jangkar identitas. Ia mengajarkan masyarakat untuk tetap berpijak pada akar sejarah dan budaya sambil bergerak maju. Pemerintah Kabupaten Demak, bersama para tokoh budaya dan ulama, terus menghidupkan tradisi ini sebagai bagian dari kebudayaan Islam yang inklusif dan toleran. Kirab ini sekaligus menjadi contoh bagaimana Islam dan budaya lokal tidak harus berhadap-hadapan, melainkan bisa berpadu dalam harmoni. Demak menjadi contoh riil bagaimana warisan Islam dapat dibumikan melalui ekspresi budaya yang membumi.

Kirab Prajurit Patang Puluhan bukan hanya kirab. Ia adalah perjalanan sejarah, perayaan iman, dan panggilan kebudayaan. Di antara derap langkah para prajurit yang melintasi jalanan kota Demak, terdengar gema masa lalu yang mengajarkan kita bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan, tetapi memastikan bahwa saat kita melangkah ke depan, kita tidak kehilangan siapa diri kita.

Kirab Prajurit Patang Puluhan dan penjamasan pusaka Sunan Kalijaga bukanlah dua peristiwa terpisah, melainkan satu tarikan napas dari budaya yang hidup dan bernyawa. Ia adalah pelajaran sejarah yang tidak membosankan, peristiwa spiritual yang menyentuh dan pertunjukan budaya yang membanggakan. Sebuah upaya merawat ingatan kolektif bahwa Islam datang ke Jawa tidak dengan pedang, melainkan dengan kearifan, budaya, dan cinta.

Penulis : Khilyatul Khoiriyah, Guru Fisika SMA Negeri 3 Demak.