Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Kisah Dwi Jayanto dan Sekolah yang Memilih Harapan

Diterbitkan :

Dalam dunia pendidikan, pencapaian akademik kerap menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Sekolah berlomba mencetak siswa-siswa berprestasi dalam ujian nasional, lomba mata pelajaran, dan berbagai indikator kognitif lainnya. Namun, di balik angka-angka itu, ada sisi lain yang sering luput dari perhatian: perjuangan siswa dalam mengembangkan potensi di luar akademik, serta tantangan pribadi yang mereka hadapi dalam menyeimbangkan kehidupan belajar dengan impian dan kondisi mereka. Inilah dilema abadi yang dihadapi banyak sekolah: bagaimana menyeimbangkan antara pencapaian akademik dan pengembangan potensi non-akademik secara manusiawi dan bermakna.

Di tengah tantangan tersebut, muncul kisah seorang siswa yang mencerminkan betapa pentingnya pendekatan pendidikan yang menyeluruh dan penuh empati. Namanya Dwi Jayanto. Seorang siswa dari jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik di sebuah SMK negeri. Ia bukan siswa dengan nilai rapor terbaik, bukan pula siswa yang selalu hadir tepat waktu. Namun, di balik catatan kehadiran yang bolong dan nilai akademik yang pas-pasan, tersembunyi semangat luar biasa yang tak bisa diabaikan: Dwi adalah atlet pencak silat yang tengah mempersiapkan diri untuk kejuaraan besar, dengan latihan intensif setiap malam, sembari harus menempuh perjalanan sejauh 30 kilometer setiap hari dari rumah ke sekolah.

Setiap pagi adalah pertarungan tersendiri bagi Dwi Jayanto. Setelah malam yang dihabiskan untuk latihan fisik dan teknik silat, tubuhnya yang letih harus bangkit dini hari untuk mengejar waktu masuk sekolah. Perjalanan jauh melewati medan jalan yang tidak selalu bersahabat membuatnya kelelahan dan sering kali datang terlambat. Tak jarang, ia bahkan tidak bisa hadir sama sekali. Dari sudut pandang administrasi sekolah, ia tergolong siswa dengan kehadiran rendah, yang berisiko tidak lulus karena tidak memenuhi jumlah hari hadir yang disyaratkan. Di sinilah muncul dilema: apakah sekolah harus bertindak tegas sesuai aturan dan melepas seorang siswa dengan catatan akademik lemah? Ataukah ada ruang untuk melihat lebih jauh, lebih dalam, dan memberi kesempatan?

Pertanyaan itu tak mudah dijawab. Namun, di ruang-ruang kelas jurusan Teknik Listrik dan rapat-rapat guru wali kelas, muncul suara-suara bijak yang menolak melihat siswa hanya dari absensi dan angka rapor. Guru-guru di jurusan itu, bersama wali kelasnya, sepakat untuk melihat Dwi sebagai pribadi yang memiliki potensi besar—meski bukan di bidang akademik. Mereka memilih untuk tidak menyerah. Alih-alih menghukum, mereka membuka ruang. Alih-alih mencoret, mereka membimbing.

Pendekatan yang diambil bukan sekadar kelonggaran, tetapi upaya sungguh-sungguh untuk menemukan keseimbangan. Dwi tetap diminta bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolahnya, meski dengan jadwal belajar yang lebih fleksibel. Ia diberi kesempatan untuk menyusul pelajaran, menyelesaikan tugas di waktu yang sesuai, dan menerima pendampingan dari guru secara khusus. Lebih dari itu, sekolah menanamkan nilai kedisiplinan dan tanggung jawab melalui dialog yang manusiawi—bukan sekadar teguran formal. Dwi diajak menyadari pentingnya menyelesaikan pendidikan, bahkan ketika prioritasnya adalah dunia silat.

Proses ini tentu tidak instan. Ada hari-hari ketika Dwi tampak lelah dan tak fokus. Ada minggu-minggu di mana kehadirannya kembali terganggu karena kejuaraan daerah atau nasional. Namun perlahan, ia mulai memahami arti tanggung jawab. Ia mulai menghargai kepercayaan yang diberikan sekolah. Ia tidak ingin mengecewakan guru-gurunya yang telah memilih untuk tetap percaya padanya.

Dan pilihan itu tidak sia-sia. Dwi Jayanto berhasil menyelesaikan studinya. Ia lulus dari SMK dengan nilai cukup, namun dengan pengalaman hidup luar biasa yang menempanya sebagai pribadi tangguh. Berbekal ketekunan, semangat bela negara yang tumbuh dari latihan silat, serta kedisiplinan yang ia pelajari dari perjuangan hariannya, Dwi melanjutkan jalan hidupnya ke dunia militer. Ia diterima dan lolos seleksi sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia. Tidak hanya itu, kini ia tercatat sebagai bagian dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) Republik Indonesia—sebuah unit elit yang bertugas menjaga kepala negara. Sebuah pencapaian yang membanggakan tidak hanya bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bagi sekolah yang telah memberi kesempatan kedua dalam hidupnya.

Kisah Dwi Jayanto menjadi bukti kuat bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang nilai dan ujian. Pendidikan adalah tentang membentuk manusia seutuhnya, mengenali keunikan tiap anak, dan membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik. Di balik seragam sekolah, ada anak-anak dengan mimpi besar, ada yang punya bakat luar biasa dalam bidang olahraga, seni, organisasi, atau kepemimpinan—semua menanti untuk diakui dan diberdayakan.

Tentu tidak semua siswa bisa menjadi atlet nasional atau anggota pasukan elit. Namun setiap anak punya potensi untuk bersinar di bidangnya masing-masing. Sekolah yang memahami hal ini tidak akan tergesa-gesa menilai dari absensi dan rapor semata. Ia akan melihat lebih dalam, mencari cerita di balik catatan, dan menemukan potensi yang tersembunyi.

Peran guru menjadi sangat penting dalam konteks ini. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembaca kehidupan siswa. Guru yang sabar dan peka bisa menjadi penyulut api semangat yang sempat padam. Guru yang memberi kepercayaan, bisa menjadi jembatan harapan bagi siswa yang nyaris menyerah. Seperti guru-guru Dwi Jayanto, yang tidak hanya mengajar listrik, tetapi juga menyalakan cahaya masa depan dalam gelapnya kebimbangan.

Pada akhirnya, sekolah adalah tempat di mana masa depan dibentuk, bukan dihakimi. Di mana proses tumbuh dihargai, bukan sekadar hasil akhir. Di mana siswa yang penuh tantangan, bukan disingkirkan, tapi dirangkul agar bisa mengatasi dirinya sendiri. Ruang kelas bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga tempat bertumbuh menjadi manusia utuh.

Mari terus dorong sekolah menjadi ruang yang manusiawi, inklusif, dan penuh empati. Mari tanamkan keyakinan bahwa pendidikan tidak harus seragam, tetapi harus adil dan memampukan. Karena siapa tahu, anak yang hari ini tampak kesulitan hadir tepat waktu, adalah sosok yang kelak berdiri gagah di barisan depan menjaga kehormatan bangsa. Karena setiap anak, seperti Dwi Jayanto, punya potensi untuk bersinar—asal kita cukup sabar untuk melihatnya.

Penulis : Joko Mulyono, S.Pd,  Guru SMK Muhammadiyah 2 Cepu