Anak-anak zaman sekarang, khususnya generasi Z atau yang sering disebut Gen Z, kerap menjadi sorotan dalam berbagai perbincangan sosial. Dalam perilaku sehari-hari, sikap, cara berbicara, hingga berpenampilan, tidak sedikit dari mereka yang dinilai kurang memperhatikan adab dan sopan santun. Fenomena ini terlihat baik dalam pergaulan dengan teman sebaya maupun ketika berinteraksi dengan orang yang lebih tua, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan yang sering kali mengemuka di ruang publik: siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas persoalan ini? Apakah sepenuhnya kesalahan anak, kegagalan sekolah, atau justru kelalaian keluarga sebagai lingkungan terdekat mereka?
Pesatnya perkembangan teknologi menjadi salah satu faktor utama yang tidak dapat diabaikan. Kehadiran gawai, media sosial, serta arus informasi yang begitu cepat telah membentuk pola pikir dan perilaku anak dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Anak-anak tumbuh dalam dunia yang serba instan, terbuka, dan nyaris tanpa sekat. Mereka terpapar beragam nilai, gaya hidup, serta cara berkomunikasi yang tidak selalu sejalan dengan norma dan budaya ketimuran yang menjunjung tinggi adab dan kesantunan. Pergaulan yang semakin bebas, baik secara langsung maupun melalui ruang digital, turut memperkuat perubahan ini. Tidak sedikit anak yang mulai mengabaikan kebiasaan-kebiasaan baik yang dahulu diajarkan dan dianggap penting dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, pendidikan karakter jelas tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah memang memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui pembelajaran dan keteladanan guru, namun waktu anak di sekolah sangat terbatas. Sebagian besar kehidupan anak justru berlangsung di rumah dan lingkungan keluarga. Oleh karena itu, pendidikan karakter sejatinya merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah dan keluarga, dengan keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama yang membentuk kepribadian anak sejak dini. Di rumah, anak pertama kali belajar tentang sopan santun, menghargai orang lain, mengelola emosi, serta memahami batasan-batasan dalam bersikap.
Pendidikan karakter dalam keluarga adalah proses yang sangat mendasar dan menentukan. Keluarga bukan hanya tempat anak bertumbuh secara fisik, tetapi juga ruang utama pembentukan nilai dan moral. Melalui pembiasaan nilai-nilai kebaikan, komunikasi yang hangat dan efektif, serta dukungan emosional yang memadai, keluarga menjadi contoh nyata bagi anak dalam meniru perilaku positif. Nilai-nilai seperti keimanan, kejujuran, toleransi, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab tidak cukup diajarkan melalui nasihat semata, tetapi harus ditunjukkan melalui keteladanan dan konsistensi orang tua dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dilihat anak jauh lebih berpengaruh dibandingkan apa yang hanya didengar.
Keteladanan orang tua menjadi kunci utama. Anak belajar tentang sopan santun dari cara orang tua berbicara, belajar tentang tanggung jawab dari bagaimana orang tua menepati janji, dan belajar tentang empati dari cara orang tua memperlakukan orang lain. Inilah pondasi penting agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, memiliki kepekaan sosial, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan yang semakin kompleks. Tanpa pondasi ini, anak akan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai kebaikan.
Namun demikian, tantangan pendidikan karakter dalam keluarga semakin besar di tengah dominasi media sosial. Anak-anak kini sering kali merasa lebih percaya pada apa yang mereka lihat dan dengar dari dunia digital dibandingkan nasihat orang tua. Figur publik di media sosial, content creator, dan teman sebaya di ruang maya sering menjadi rujukan utama dalam membentuk sikap dan gaya hidup. Tidak jarang, nasihat orang tua dianggap kuno, ketinggalan zaman, atau tidak relevan dengan realitas kekinian. Situasi ini menuntut orang tua untuk melakukan refleksi dan penyesuaian dalam pola pengasuhan dan cara berkomunikasi dengan anak, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai dasar yang menjadi pedoman hidup.
Orang tua masa kini dituntut untuk lebih terbuka, mau mendengarkan, dan memahami dunia anak. Komunikasi yang bersifat satu arah, penuh ceramah, dan cenderung menghakimi akan semakin menjauhkan anak dari orang tua. Sebaliknya, dialog yang setara, empatik, dan saling menghargai akan membantu anak merasa dipahami. Dalam suasana seperti inilah nilai-nilai karakter dapat ditanamkan secara lebih efektif, karena anak tidak merasa dipaksa, melainkan diajak untuk menyadari dan memilih kebaikan dengan kesadaran sendiri.
Menerapkan pendidikan karakter di rumah tentu bukan perkara mudah dan instan. Diperlukan kesadaran, kesabaran, dan upaya yang berkelanjutan. Orang tua perlu terus belajar, baik melalui berbagai sumber bacaan, pelatihan pengasuhan, maupun refleksi dari pengalaman pribadi. Dalam praktik sehari-hari, pendidikan karakter dapat diterapkan melalui langkah-langkah sederhana namun bermakna. Memberikan teladan nyata dalam bersikap sopan, jujur, dan bertanggung jawab adalah langkah awal yang sangat penting. Selain itu, membangun pembiasaan positif seperti berdoa bersama, menjaga kebersihan lingkungan rumah, memberi salam, makan bersama keluarga, serta melatih tanggung jawab sesuai usia anak akan memperkuat karakter mereka secara perlahan.
Komunikasi yang efektif juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan karakter. Mendengarkan pendapat anak, menghargai perasaan mereka, dan memberikan ruang untuk berdiskusi akan menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus tanggung jawab. Pendidikan moral dan nilai-nilai kebaikan perlu disampaikan secara kontekstual, sesuai dengan situasi yang dihadapi anak dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman empati dan toleransi dapat dilakukan dengan mengajak anak memahami perasaan orang lain dan menghargai perbedaan. Dukungan dan motivasi dari orang tua akan membuat anak merasa aman untuk belajar, mencoba, dan bahkan melakukan kesalahan sebagai bagian dari proses tumbuh dewasa.
Secara garis besar, keluarga memegang peran sebagai pondasi utama dan panggung pertama dalam pembentukan watak dan kepribadian anak. Proses ini tidak bersifat sesaat, melainkan berlangsung secara berkelanjutan dan menyeluruh seiring pertumbuhan anak. Di sisi lain, keluarga juga berperan sebagai mitra strategis sekolah dalam mendukung pelaksanaan pendidikan karakter di lingkungan pendidikan formal. Sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi kunci agar nilai-nilai yang diajarkan tidak saling bertentangan, melainkan saling menguatkan.
Berbagai kasus yang terjadi di sekolah dan kerap menyudutkan pihak sekolah maupun guru sejatinya tidak dapat dilepaskan dari persoalan karakter peserta didik. Permasalahan disiplin, sikap kurang hormat, hingga konflik sosial sering kali berakar dari lemahnya pendidikan karakter. Oleh karena itu, pembenahan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Dukungan penuh dari orang tua serta konsistensi penerapan nilai-nilai karakter di rumah menjadi faktor penentu keberhasilan.
Pada kenyataannya, banyak orang tua yang telah berupaya menanamkan pendidikan karakter dalam keluarga, namun hasilnya belum maksimal. Berbagai kendala masih sering dihadapi, mulai dari kurangnya keteladanan, keterbatasan pemahaman orang tua tentang konsep pendidikan karakter, hingga kuatnya pengaruh media sosial dan lingkungan pergaulan yang kurang mendukung. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter adalah proses yang menuntut pembelajaran dan perbaikan terus-menerus, bukan sekadar niat baik semata.
Sebagai pendidik, kami menyadari memiliki peran ganda, yakni sebagai orang tua di sekolah dan juga di rumah. Keteladanan menjadi tanggung jawab yang tidak dapat ditawar, karena anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Sudah saatnya kita semua, baik orang tua maupun pendidik, melakukan refleksi bersama. Membenahi diri, memperbaiki hal-hal yang belum terlaksana secara optimal, serta menanamkan pendidikan karakter secara perlahan namun konsisten adalah langkah nyata yang dapat dilakukan. Dengan langkah-langkah kecil yang dilakukan secara berkelanjutan, kita dapat membangun pondasi yang kuat agar anak tumbuh menjadi individu yang berkarakter, bermoral, dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Pada akhirnya, tidak ada kata terlambat untuk memulai atau memperbaiki pendidikan karakter dalam keluarga, bahkan ketika anak-anak telah beranjak dewasa. Pendidikan karakter adalah proses sepanjang hayat yang selalu dapat diperkuat dan disempurnakan. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan berubah, harapan untuk melahirkan generasi yang beradab dan berkarakter akan selalu terbuka.
Penulis: Mami Julianti,S.Pd Guru IPS SMP Negeri 2 Ajibarang
