Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menemukan Keikhlasan Sejati di Hari Raya Kurban

Diterbitkan :

Takbir menggema dari segala penjuru, memenuhi udara subuh yang masih basah oleh embun. Langit tampak lebih tenang pagi itu, seakan ikut meresapi getaran suci yang terucap dari lisan-lisan yang bertakbir. Di halaman masjid dan lapangan terbuka, ribuan umat Islam berkumpul dalam barisan rapi. Wajah-wajah berseri, penuh harap dan syukur, menengadah dalam sujud panjang di hari raya yang penuh makna. Anak-anak berlarian membawa balon, ibu-ibu menyiapkan hidangan, dan dari dapur-dapur rumah menguar aroma khas daging kurban yang dimasak dengan cinta. Inilah Idul Adha—hari besar penuh hikmah, saat seluruh umat Islam mengenang kembali kisah agung tentang pengorbanan dan ketundukan yang tak tertandingi.

Idul Adha bukan sekadar hari raya untuk menyembelih hewan dan membagi daging. Ia adalah perayaan spiritual yang menembus ruang dan waktu, membawa umat Islam pada perenungan mendalam tentang makna keikhlasan dan kepasrahan. Di balik gemuruh aktivitas kurban, tersimpan pesan yang jauh lebih besar: bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki, tetapi tentang memberi; bukan hanya tentang mencintai, tapi juga rela melepaskan demi ketaatan kepada Tuhan.

Kisah itu dimulai dari sosok yang dikenal sebagai bapak para nabi, Ibrahim AS. Seorang hamba Allah yang tak hanya taat dalam ucapan, tetapi juga dalam tindakan. Saat ia diminta mengorbankan putra yang sangat dicintainya, Ismail, Ibrahim tidak membantah. Tidak juga menawar atau menangis histeris. Ia justru menundukkan hatinya, menerima perintah itu dengan segenap jiwa, percaya bahwa Allah Maha Tahu atas segala sesuatu. Ismail, putranya, pun menunjukkan ketundukan serupa. Dengan keberanian luar biasa, ia berkata kepada ayahnya untuk melaksanakan apa yang diperintahkan, dan insya Allah ia akan termasuk orang yang sabar.

Betapa luar biasa ketundukan itu. Seorang ayah yang siap mengorbankan anaknya, dan seorang anak yang rela dikorbankan, hanya karena perintah dari Tuhan mereka. Inilah puncak iman, di mana cinta kepada Allah melampaui cinta kepada makhluk. Dan pada detik terakhir, saat pisau hampir menyentuh leher Ismail, Allah menggantikan sang anak dengan seekor domba. Ujian pun berakhir. Keikhlasan telah sempurna. Pengorbanan telah diterima.

Tapi kisah ini tak berhenti di masa lampau. Ia hadir kembali setiap tahun, setiap Idul Adha, untuk mengajak kita bertanya pada diri sendiri: apa ‘Ismail’ dalam hidup kita? Apa yang selama ini begitu kita cintai, kita genggam erat, hingga kadang lupa bahwa semua hanya titipan semata?

Dalam kehidupan modern, ‘Ismail’ bisa bermakna apa saja. Ia mungkin pasangan yang begitu kita cintai hingga rela menabrak aturan demi bersamanya. Ia bisa berupa harta yang kita kumpulkan tanpa peduli halal-haramnya. Ia mungkin jabatan, status, atau popularitas yang membuat kita menyingkirkan nilai kejujuran dan integritas. Bahkan, ‘Ismail’ bisa jadi adalah ego kita sendiri—ambisi, amarah, atau rasa sakit yang enggan kita lepaskan. Kita memeluknya erat-erat, seolah-olah tanpanya hidup kita akan runtuh. Padahal bisa jadi, justru karena terlalu mencintainya, kita menjauh dari ridho Tuhan.

Tak sedikit dari kita yang terperangkap dalam kecintaan duniawi. Kita menunda sholat demi rapat. Kita enggan berbagi karena takut kekurangan. Kita mempertahankan hubungan yang salah karena tak sanggup melepaskan. Dunia seolah menjadi pusat segalanya, dan Allah menjadi pilihan kedua—atau bahkan terakhir. Di situlah letak ujian kita. Bukan pada pisau dan domba, tapi pada keberanian melepaskan apa yang paling kita cintai demi kebaikan jiwa dan kedekatan dengan-Nya.

Maka Idul Adha adalah panggilan untuk kembali pada jalan kepasrahan. Untuk kembali bertanya: sudahkah aku ikhlas? Sudahkah aku menyerahkan hidupku pada kehendak-Nya, atau masih mempertahankan kehendakku sendiri? Kepasrahan bukan kelemahan. Justru di situlah kekuatan sejati seorang mukmin lahir. Saat ia mampu berkata, “Ya Allah, jika ini yang terbaik menurut-Mu, maka aku terima meski hatiku menangis.” Di situlah jiwa menjadi matang, hati menjadi lapang, dan iman menemukan bentuknya yang paling utuh.

Melepaskan ‘Ismail’ dalam hidup bukan perkara mudah. Tapi dari sana, kita bisa mulai menyembuhkan luka yang lama mengendap. Kita bisa menghapus dendam yang selama ini membakar dada. Kita bisa mengampuni, bersyukur, dan mulai mencintai dengan cara yang benar. Dalam kepasrahan, ada ruang bagi kebahagiaan sejati. Kita tak lagi menggantungkan hati pada sesuatu yang fana. Kita kembali menyandarkan segalanya hanya kepada Yang Maha Abadi.

Dari keikhlasan itu, hasil pun tumbuh perlahan. Hati kita menjadi tenang, sebab tak lagi dibebani ambisi dan kecemasan. Hubungan kita dengan sesama manusia menjadi lebih hangat, karena tak lagi didominasi ego. Hidup menjadi ringan, bukan karena semua masalah hilang, tapi karena kita belajar menerima dan tidak menggenggam terlalu erat. Kita pun sadar bahwa tidak ada yang benar-benar milik kita. Anak, pasangan, jabatan, dan bahkan nyawa ini hanyalah titipan yang sewaktu-waktu bisa diminta kembali. Yang abadi hanyalah Allah, dan kepada-Nya lah segala sesuatu kembali.

Pada akhirnya, Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah panggilan batin untuk mentransformasi diri. Untuk menjadi hamba yang lebih ikhlas, lebih tunduk, dan lebih berserah. Hari raya ini mengajak kita untuk membebaskan diri dari belenggu dunia dan kembali menemukan makna sejati dari hidup: bahwa kita tidak diciptakan untuk menggenggam, tetapi untuk melepaskan; tidak untuk memaksakan kehendak, tetapi untuk menerima takdir dengan lapang dada.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H. Semoga kita termasuk golongan yang diterima ibadahnya, dikaruniai keikhlasan, dan mampu melepaskan ‘Ismail’ dalam hidup kita untuk mencapai ridho Ilahi.

Penulis : Arma Setyo Nugrahani, Guru dari SMK Negeri 1 Slawi