Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Mengajarkan Taat dan Berbagi Lewat Kegiatan Qurban di Sekolah

Diterbitkan :

Idul Adha bukan sekadar perayaan, melainkan momentum spiritual yang dalam bagi umat Islam untuk merenungi arti sejati dari pengorbanan, ketakwaan, dan kepedulian sosial. Setiap tanggal 10 Dzulhijah, jutaan umat Islam di seluruh dunia menunaikan ibadah qurban, menghidupkan kembali kisah penuh keimanan antara Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, ketika keduanya diuji oleh Allah dengan perintah penyembelihan yang luar biasa berat.

Sebagaimana termaktub dalam QS. As-Saffat ayat 102, keteguhan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail menjadi teladan abadi bagi umat manusia tentang keikhlasan dan ketaatan:

“Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Ayat ini menggambarkan kepasrahan mutlak kepada perintah Allah, yang menjadi dasar dari pelaksanaan qurban hingga kini. Namun, Allah tidak menghendaki darah atau daging dari hewan qurban itu sendiri. QS. Al-Hajj ayat 37 menjelaskan:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamu-lah yang dapat mencapainya.”
Dari sini kita pahami bahwa nilai utama dari qurban bukan terletak pada jumlah hewan atau seberapa besar nilainya, melainkan pada niat, ketulusan, dan kepekaan sosial yang mengiringinya.

Di sinilah letak pentingnya kegiatan qurban yang diselenggarakan di sekolah. Selain sebagai ibadah, qurban menjadi media pendidikan karakter yang kaya makna. Para siswa bukan hanya diajarkan bagaimana menyembelih hewan sesuai syariat, tetapi juga diajak memahami hakikat pengorbanan, kerja sama, keadilan sosial, dan kasih sayang terhadap sesama. Mereka terlibat langsung dalam proses mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga distribusi daging kepada masyarakat yang membutuhkan, sebagaimana amanah dalam QS. Al-Hajj ayat 36:

“…Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta-minta.”

Melalui kegiatan ini, sekolah tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga beriman, berempati, dan peduli kepada lingkungan sosialnya.

Untuk melaksanakan qurban di sekolah diawali dengan rapat koordinasi antar guru dan siswa, khususnya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), waka kesiswaan, Pembina OSIS, Pembina Rohis, pengurus Rohis dan pengurus OSIS. Mereka bersama-sama membentuk panitia kecil yang terdiri dari beberapa divisi penting, seperti: Divisi logistik, yang mengatur peralatan penyembelihan dan pengemasan, Divisi konsumsi, yang menyiapkan makanan untuk panitia dan relawan, Divisi distribusi, yang mencatat nama warga penerima daging qurban dan Divisi dokumentasi-publikasi, yang bertugas merekam proses dan membuat laporan kegiatan.

Di fase ini, siswa belajar menyusun proposal kegiatan, membuat anggaran belanja, menyebarkan informasi ke wali murid, serta membuka donasi qurban dari para guru dan orang tua. Semangat kolaborasi dan tanggung jawab mulai tumbuh di antara mereka.  Kegiatan ini juga diperkuat dengan edukasi makna qurban dari sisi ajaran Islam, termasuk membaca dan mendiskusikan ayat-ayat Al-Qur’an, seperti QS. Al-Kautsar: 2 yang artinya :

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.”
Ayat ini menjadi dasar bahwa qurban bukan hanya ibadah ritual, melainkan wujud syukur dan ketundukan kepada perintah Allah SWT.

Pada hari pelaksanaan, kegiatan bisa diawali dengan sholat Idul Adha di lapangan sekolah.  Sholat Idul Adha bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momen sakral yang memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menyatukan hati dalam satu tujuan—menyembah Allah dan meneladani ketaatan hamba-Nya. Inilah awal dari rangkaian ibadah qurban yang mengajarkan pengorbanan, ketulusan, dan empati.

Setelah itu, seekor kambing sehat yang telah diperiksa oleh petugas kesehatan hewan disiapkan untuk disembelih. Ustadz yang hadir memberikan arahan terlebih dahulu kepada seluruh siswa bahwa menurut ajaran Islam, penyembelihan harus dilakukan dengan memenuhi syarat : (1) penyembelihan harus dilakukan sambil mengucapkan basmalah dan takbir, (2) pisau yang digunakan harus tajam agar hewan tidak kesakitan dan dapat memutus saluran pernapasan dan pembuluh darah utama di leher, serta (3) hewan tidak boleh disiksa atau dibiarkan melihat sesama hewan yang disembelih.  Proses ini menjadi momen penting untuk menanamkan nilai kasih sayang dan tanggung jawab terhadap makhluk hidup, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW :

“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan (kebaikan) dalam segala hal. Maka jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan baik…”
(HR. Muslim)

Setelah penyembelihan, hewan ditutup dan dibiarkan hingga darahnya benar-benar keluar. Para siswa menyaksikan langsung proses tersebut, dan banyak yang merasa tersentuh oleh nilai ibadah yang begitu nyata dan menyentuh nurani.  Usai disembelih, panitia memulai proses pemotongan. Siswa dan guru dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, yaitu kelompok pemotong daging, kelompok penimbang, dan kelompok pembungkus/pelabelan. Daging dipotong sesuai takaran yang adil dan merata. Dalam Islam, pembagian daging qurban dibagi menjadi tiga bagian, yaitu untuk : (1) yang berqurban (jika bukan nadzar), (2) disimpan dan dimanfaatkan sendiri,dan (3) diberikan kepada orang lain, terutama kaum dhuafa.

Di sela-sela kegiatan, guru Biologi bisa menjelaskan anatomi tubuh hewan sembelihan. Ini menjadikan kegiatan qurban juga sebagai pembelajaran lintas mata pelajaran. Siswa jadi lebih paham fungsi otot, organ dalam, dan struktur tulang, semuanya dipelajari secara kontekstual. Di sekolah, biasanya seluruh daging qurban dibagikan ke masyarakat sekitar yang membutuhkan. Ini menjadi latihan empati dan kepekaan sosial bagi siswa, sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat. Paket daging biasanya dikemas dengan plastik ramah lingkungan, lalu didistribusikan oleh tim panitia langsung ke rumah-rumah warga sekitar atau melalui RT/RW setempat. 

Salah satu bagian paling berkesan dari kegiatan ini adalah saat para siswa menyerahkan langsung daging qurban kepada warga sekitar sekolah, khususnya kaum dhuafa, janda, lansia, dan pekerja informal. Para siswa berjalan kaki dari rumah ke rumah, menyapa dan menyerahkan paket dengan salam dan senyum. Banyak dari mereka baru pertama kali melihat secara langsung kondisi sosial di lingkungan sekitar. Guru Agama kembali mengingatkan akan pesan dalam QS. Al-Hajj: 36, yang artinya :

“…Makanlah sebagian darinya dan berikanlah kepada orang yang tidak meminta-minta dan orang yang meminta-minta.”

Pengalaman itu membuat para siswa lebih bersyukur dan empati terhadap sesama manusia. Kegiatan ini menjadi pelatihan kepekaan sosial yang tidak akan mereka dapatkan hanya dari buku teks.

Pelaksanaan qurban bukan hanya ritual keagamaan, tapi juga media pembelajaran lintas disiplin meliputi pendidikan agama, pendidikan sosial dan karakter, pendidikan kewirausahaan dan manajemen, pendidikan sains dan biologi.  Kegiatan qurban di sekolah juga bukan hanya sebagai bagian dari syariat Islam, tetapi juga sebagai model pendidikan karakter yang utuh,  melatih tanggung jawab, kerja sama, empati, disiplin, dan tentunya pengamalan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Para siswa tidak hanya menyaksikan, tetapi mengalami langsung proses qurban, mulai dari persiapan hingga distribusi. Mereka belajar menjadi manusia yang bertakwa bukan hanya soal ibadah ritual, tapi juga tentang mengenal anatomi hewan, kesehatan hewan, higienitas daging, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama. Melalui kegiatan qurban, sekolah telah membentuk ruang pendidikan yang menyeluruh, berbasis Al-Qur’an, bernuansa sosial, dan bermakna mendalam.

Penulis : Khilyatul Khoiriyah, Guru Fisika SMA Negeri 3 Demak.