Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Mengatasi Tantrum pada Balita

Diterbitkan :

Tantrum adalah bagian dari proses tumbuh kembang yang wajar pada anak usia dini. Pada usia balita, anak sedang belajar mengenali dan mengungkapkan emosinya, namun belum memiliki kemampuan verbal dan kontrol diri yang memadai untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan dengan cara yang dapat diterima. Akibatnya, emosi yang membuncah bisa tumpah dalam bentuk teriakan, tangisan, bahkan perilaku agresif. Fenomena ini sering membuat orang tua bingung dan kewalahan. Padahal, memahami tantrum sebagai bagian dari perkembangan alami anak dapat mengubah perspektif kita sebagai orang dewasa dalam menyikapinya. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang tua untuk tidak hanya mengetahui bahwa tantrum itu wajar, tapi juga mempelajari cara-cara yang bijak dan empatik dalam meresponsnya. Artikel ini hadir untuk memberikan panduan praktis, penuh pengertian, dan tetap membumi agar orang tua merasa lebih siap dan tenang dalam menghadapi tantrum anak-anak mereka.

Tantrum kerap menjadi ujian kesabaran dan emosi bagi orang tua. Ketika anak menjerit, menggulingkan badan, atau melempar barang, sering kali kita merasa frustrasi, lelah, bahkan malu—terutama jika kejadian ini terjadi di tempat umum. Namun di balik perilaku yang “mengganggu” tersebut, ada kebutuhan emosional yang belum bisa diungkapkan secara jelas oleh si kecil. Tantrum bukanlah bentuk manipulasi atau kenakalan, melainkan cerminan dari emosi yang membuncah tanpa jalan keluar yang sehat. Anak mungkin lapar, lelah, kecewa, atau merasa tidak dipahami. Sayangnya, banyak orang tua yang tanpa sadar merespons tantrum dengan cara yang justru memperburuk situasi: marah balik, membiarkan anak sendirian, atau malah menyerah demi meredakan keributan secepat mungkin. Reaksi-reaksi semacam ini mungkin memuaskan dalam jangka pendek, tetapi bisa mengganggu perkembangan emosional anak jika dilakukan terus-menerus. Alih-alih menjadi pembimbing, kita justru gagal menangkap pesan yang ingin disampaikan anak.

Langkah pertama dan terpenting dalam menghadapi tantrum adalah menjaga ketenangan diri. Ketika anak meledak secara emosional, hal terakhir yang mereka butuhkan adalah orang tua yang ikut terbakar emosi. Kita tidak bisa membantu anak menenangkan diri jika kita sendiri tidak tenang. Tarik napas dalam-dalam, hitung sampai sepuluh, atau beri jeda sejenak sebelum merespons. Ingatkan diri bahwa yang sedang kita hadapi bukan “anak nakal,” tetapi anak yang sedang kewalahan oleh emosi. Dalam situasi seperti ini, reaksi spontan biasanya justru merugikan. Misalnya, membentak anak bisa membuat mereka merasa lebih tidak aman dan makin meledak, sedangkan merespons dengan ketenangan membantu menulari anak energi yang lebih stabil. Contohnya, ketika anak menangis histeris karena tidak diberi permen, alih-alih langsung menegur keras, kita bisa menunduk ke level mata mereka dan berkata dengan tenang, “Mama tahu kamu pengin permen, tapi sekarang belum waktunya.”

Langkah selanjutnya adalah memvalidasi perasaan si kecil. Banyak orang tua merasa ragu untuk melakukan hal ini karena takut anak akan merasa perilakunya dibenarkan. Padahal, validasi bukan berarti menyetujui tindakan anak, tetapi mengakui perasaan yang mendasarinya. Kalimat seperti “Kakak marah ya karena mainannya diambil?” memberi anak ruang untuk merasa dimengerti. Ini adalah langkah awal yang sangat penting dalam mengajarkan anak mengenali dan memberi nama pada emosinya sendiri. Anak-anak yang merasa didengarkan cenderung lebih cepat tenang karena mereka tidak lagi merasa harus “berteriak” agar dipahami. Proses ini juga membantu membangun kepercayaan emosional antara anak dan orang tua—anak merasa bahwa orang tuanya bisa menjadi tempat yang aman untuk berbagi emosi.

Dalam kondisi tantrum, keselamatan anak dan orang sekitar harus menjadi prioritas utama. Jika anak mulai membahayakan diri sendiri atau orang lain, segera arahkan ke tempat yang lebih aman. Misalnya, jika tantrum terjadi di dekat tangga atau dapur, pindahkan anak ke ruang yang lebih terbuka dan minim risiko. Namun, penting untuk diingat bahwa kehadiran fisik saja tidak cukup. Anak membutuhkan kehadiran emosional—seseorang yang tetap berada di dekatnya meskipun mereka belum siap untuk bicara atau dipeluk. Hindari meninggalkan anak sendirian dalam kondisi emosi yang tinggi. Keberadaan kita secara tenang di dekat mereka memberi sinyal bahwa meski dunianya sedang kacau, ada orang dewasa yang bisa diandalkan untuk menemani proses itu.

Dengan pendekatan yang tenang, penuh validasi, dan berorientasi pada keamanan, tantrum akan kehilangan daya ledaknya. Anak yang merasa didengarkan akan cenderung lebih cepat pulih dari ledakan emosinya. Seiring waktu, frekuensi dan intensitas tantrum biasanya berkurang. Anak mulai belajar bahwa mereka bisa mengungkapkan emosi tanpa harus meledak. Inilah titik awal dari keterampilan pengelolaan emosi yang akan mereka bawa hingga dewasa. Lebih dari itu, ketika orang tua merespons dengan konsisten dan penuh kasih, hubungan emosional antara anak dan orang tua menjadi lebih erat. Anak tahu bahwa orang tuanya bukan hanya penegak aturan, tetapi juga pendengar setia dan pelindung dalam situasi sulit.

Tantrum bukan musuh yang harus dikalahkan, melainkan sinyal yang layak dimengerti. Ini adalah panggilan minta tolong dari anak yang sedang kebingungan dengan dunia emosinya. Jika kita bisa hadir dengan ketenangan, mengakui perasaan anak, dan memastikan mereka merasa aman, maka tantrum tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Justru sebaliknya, ia menjadi kesempatan emas untuk menumbuhkan kedekatan, membangun rasa percaya, dan mengajarkan keterampilan hidup yang esensial. Maka dari itu, mari kita tidak lagi melihat tantrum sebagai “gangguan,” melainkan sebagai bagian penting dari perjalanan anak menjadi manusia yang sehat secara emosional. Tumbuh bersama anak tidak selalu mudah, tapi dengan niat dan kasih yang konsisten, kita bisa melewatinya—satu tantrum pada satu waktu.

Penulis : Citra Ayu Amelia, Guru Sejarah SMK Negeri 3 Jepara