Tantangan abad 21 dan perkembangan teknologi terhadap dunia pendidikan tidak hanya berpusat pada pencapaian akademik semata, melainkan juga bagaimana menumbuhkan karakter positif pada murid. Sebagai kepala sekolah saya melihat salah satu persoalan yang menjadi perhatian kami di SDN Pedurungan Kidul 03 adalah rendahnya kesadaran murid terhadap lingkungan hidup serta minimnya pengalaman dalam berwirausaha sejak dini.
Generasi Alpha cenderung lebih dekat dengan gawai daripada alam di sekitarnya. Mereka mahir dalam menggunakan aplikasi digital, tetapi belum tentu peka terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan atau berinisiatif untuk menciptakan sesuatu yang produktif. Padahal, pendidikan karakter sejati justru tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, seperti merawat tanaman, mengelola sampah, atau beternak sederhana. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, ketekunan, dan kemandirian bisa dibangun lewat pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
Berawal dari keprihatinan tersebut, kami di SDN Pedurungan Kidul 03 merancang sebuah program sederhana namun bermakna yaitu “Harlei Datong” memelihara lele dalam tong. Program ini kami munculkan sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual yang bertujuan menumbuhkan kepedulian murid terhadap lingkungan dan menanamkan semangat kewirausahaan secara alami.
Sementara itu, jiwa kewirausahaan menjadi sangat penting untuk menghadapi dunia yang penuh tantangan. Mengajarkan kewirausahaan sejak dini membuka kesempatan bagi murid untuk belajar mengelola sumber daya, mengambil inisiatif, berinovasi, dan bertanggung jawab atas hasil kerja mereka. Ini juga menjadi bekal bagi masa depan mereka, baik sebagai pekerja mandiri maupun sebagai penggerak ekonomi kreatif.
Langkah awal yang kami lakukan adalah sosialisasi kepada guru dan orang tua murid mengenai tujuan dan manfaat program ini. Kolaborasi ini juga mempererat hubungan antarwarga sekolah, menciptakan budaya gotong royong dan kepedulian bersama. Orang tua turut memberikan dukungan baik dalam bentuk fasilitas maupun motivasi kepada anak-anaknya. Sekolah pun berperan sebagai fasilitator dan motivator yang mendorong inovasi pembelajaran. Kami menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar memelihara lele melainkan sebuah laboratorium hidup tempat anak-anak belajar banyak hal dari ilmu pengetahuan alam, matematika, bahasa, hingga seni dan kewirausahaan.
Setiap tong lele dikelola setiap kelas masing-masing yang dibagi dalam piket kelas yang bertugas secara bergiliran. Mereka belajar bagaimana membersihkan tong, memberi pakan dengan takaran tertentu, mencatat pertumbuhan lele, hingga menghitung potensi hasil panen. Kami juga menghadirkan pengawas sekolah sebagai narasumber yang membagikan pengalaman budidaya ikan secara sederhana di lingkungan terbatas.
Menariknya, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk mengintegrasikan pembelajaran lintas mata pelajaran. Misalnya, dalam pelajaran IPA murid mempelajari daur hidup ikan, dalam matematika mereka menghitung jumlah pakan dan berat ikan, dalam bahasa mereka menulis laporan kegiatan, dan dalam seni mereka membuat poster promosi hasil panen.
Setelah beberapa bulan berjalan, kami melihat perubahan nyata pada murid. Mereka menjadi lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah, semangat dalam merawat ikan, dan bahkan beberapa mulai mencoba meniru kegiatan ini di rumah. Jiwa wirausaha mulai tumbuh ketika mereka diajak menghitung biaya dan keuntungan dari hasil panen lele yang dijual saat bazar sekolah.
Selain itu, terjadi peningkatan kualitas interaksi antarwarga sekolah. Guru, murid, dan orang tua bekerja sama dalam merawat tong lele, menciptakan suasana gotong royong yang hangat dan mendukung. Program ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi sekolah kami, dan mulai dilirik oleh sekolah lain sebagai praktik baik yang bisa ditiru.
Sebagai kepala sekolah, saya belajar bahwa solusi atas permasalahan pendidikan tidak selalu harus mahal dan membutuhkan lahan yang luas. Justru, dengan menggali potensi lokal dan memberdayakan lingkungan sekitar, kita bisa menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berdampak jangka panjang. Program budidaya lele dalam tong menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana dapat menumbuhkan karakter penting dalam diri murid yaitu peduli, mandiri, kreatif, dan bertanggung jawab.
Program “Harlei Datong” membuktikan bahwa pembelajaran kontekstual yang sederhana mampu mengatasi permasalahan mendasar seperti rendahnya kepedulian lingkungan dan semangat berwirausaha. Kepala sekolah berperan sebagai penggerak utama yang menjembatani antara visi pendidikan dengan kebutuhan karakter murid masa kini. Inisiatif kecil dengan pendekatan kolaboratif dapat menghasilkan dampak besar bagi pembentukan karakter murid yang lebih tangguh, peduli, dan mandiri.
Kami berharap inisiatif kecil ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk terus berinovasi, menciptakan pembelajaran yang hidup dan relevan dengan kebutuhan sesuai zaman. Karena pendidikan sejatinya bukan hanya soal angka, tetapi bagaimana membentuk manusia yang utuh, cerdas, peduli, dan siap menghadapi tantangan dimasa yang akan datang.
Penulis : Megandari Surgana, S.Pd.SD., M.Pd. Kepala Sekolah di SDN Pedurungan Kidul 03 Semarang.
