Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menjembatani antara Mimpi dan Realita

Diterbitkan :

Bukan hal yang mengejutkan ketika kita bertanya kepada murid atau remaja masa kini tentang apa yang mereka inginkan dalam hidup, lalu mendapatkan jawaban singkat seperti “tidak tahu” atau “terserah”. Jawaban ini kerap membuat orang dewasa mengernyitkan dahi, bahkan tidak jarang dianggap sebagai tanda kemalasan berpikir, kurangnya ambisi, atau sikap tidak bertanggung jawab. Namun, jika ditelaah lebih dalam, fenomena ini sesungguhnya jauh lebih kompleks. Ia bukan sekadar persoalan kemauan, melainkan juga refleksi dari mekanisme pertahanan diri, tekanan psikologis, serta dampak lingkungan sosial dan budaya yang mengelilingi generasi muda saat ini.

Secara psikologis dan sosiologis, ada banyak alasan mengapa remaja sekarang kesulitan menentukan pilihan. Generasi sebelumnya tumbuh dengan pilihan yang relatif terbatas. Jalur hidup terasa lebih linear dan dapat diprediksi. Sementara itu, generasi saat ini hidup di era internet dengan akses hampir tak terbatas terhadap informasi, peluang, dan alternatif kehidupan. Sekilas, kondisi ini tampak menguntungkan. Namun, terlalu banyak pilihan justru dapat menimbulkan efek sebaliknya. Fenomena yang dikenal sebagai choice overload membuat seseorang merasa kewalahan hingga akhirnya tidak memilih sama sekali. Ketika semua tampak mungkin, menentukan satu pilihan terasa seperti kehilangan ribuan kemungkinan lain, dan rasa kehilangan itu sering kali lebih menakutkan daripada rasa ingin mencoba.

Di sisi lain, ketakutan akan kegagalan menjadi faktor yang sangat dominan. Media sosial menampilkan potret kesuksesan yang serba instan, rapi, dan sempurna. Remaja setiap hari disuguhi kisah sukses para influencer, tren di TikTok, dan narasi bahwa usia muda adalah waktu emas untuk “menjadi sesuatu”. Standar kesuksesan pun melambung tinggi, sering kali tidak realistis. Dalam kondisi seperti ini, salah memilih terasa seperti bencana besar yang dapat menghancurkan masa depan. Maka, mengatakan “tidak tahu” menjadi cara aman untuk menghindari tanggung jawab atas pilihan yang berpotensi dianggap gagal. Kebingungan itu bukan semata kebodohan, melainkan bentuk perlindungan diri.

Kebisingan eksternal juga membuat remaja sulit mendengarkan suara internal mereka sendiri. Opini datang bertubi-tubi dari berbagai arah: media, teman sebaya, figur publik, hingga ekspektasi orang tua. Setiap suara menawarkan definisi tentang hidup ideal, pekerjaan impian, atau standar kebahagiaan. Akibatnya, remaja jarang memiliki ruang hening untuk bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sungguh mereka inginkan. Ketika pertanyaan itu akhirnya datang dari guru atau orang dewasa, yang muncul justru kekosongan. Mereka merasa blank karena memang belum pernah benar-benar mengenali diri sendiri.

Ketergantungan pada keputusan orang tua juga memainkan peran penting. Pola asuh yang terlalu protektif atau terlalu mengatur sejak usia dini dapat melemahkan kemampuan anak untuk mengambil keputusan. Ketika sejak kecil pilihan-pilihan sederhana seperti pakaian, aktivitas, atau hobi selalu ditentukan, anak tidak terbiasa berlatih memilih. Saat memasuki usia remaja, ketika tuntutan untuk menentukan tujuan hidup semakin besar, mereka justru merasa tidak percaya diri dan takut salah. Kebingungan itu bukan karena tidak punya potensi, melainkan karena kurangnya pengalaman mengambil keputusan secara mandiri.

Dalam konteks inilah peran guru menjadi sangat strategis. Sebagai orang dewasa yang hadir secara konsisten dalam kehidupan siswa, guru memiliki kewajiban moral dan profesional untuk mendampingi generasi ini menemukan arah hidupnya. Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hanya orang yang memiliki tujuan yang bisa tersesat. Artinya, kebingungan adalah bagian dari perjalanan menuju tujuan, bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, agar kebingungan itu berbuah pertumbuhan, dibutuhkan pendampingan yang tepat. Di sinilah kemampuan coaching menjadi sangat relevan bagi guru.

Melalui pendekatan coaching, guru membantu siswa memisahkan antara keinginan pribadi dan tekanan lingkungan. Guru tidak lagi berposisi sebagai pihak yang paling tahu dan paling benar, melainkan sebagai pendamping yang memfasilitasi proses berpikir siswa. Dalam proses ini, siswa belajar menyadari bahwa tidak ada pilihan yang seratus persen sempurna, dan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses belajar. Perlahan, kebuntuan bernama “tidak tahu” dapat diubah menjadi tujuan yang lebih terarah dan realistis, bahkan dirumuskan menjadi tujuan yang SMART dengan langkah-langkah yang relevan dalam kehidupan mereka.

Dengan kemampuan sebagai coach, guru dapat membantu siswa mengubah tujuan yang semula abstrak, kabur, atau terlalu umum menjadi lebih jelas dan spesifik. Tujuan yang jelas akan lebih mudah diwujudkan karena memberikan arah dan motivasi yang konkret. Peran guru pun mengalami pergeseran penting, dari sekadar pengajar (teacher) menjadi fasilitator dan coach. Guru adalah figur yang paling dekat dan paling strategis untuk membantu siswa, khususnya Generasi Z, keluar dari jebakan jawaban “tidak tahu” atau “terserah” saat berbicara tentang masa depan.

Dalam peran ini, guru belajar untuk berhenti memberi instruksi dan mulai mengasah keterampilan bertanya. Alih-alih mengatakan, “Kamu masuk jurusan IPA karena nilai matematikamu bagus,” guru dengan pendekatan coaching akan mengajukan pertanyaan reflektif seperti, “Aktivitas apa yang membuatmu merasa paling bersemangat saat melakukannya?” atau “Jika kamu punya satu kekuatan super dalam belajar, apa itu?” Pertanyaan-pertanyaan ini tidak bertujuan mengarahkan, melainkan membantu siswa mendengarkan suara batin mereka sendiri di tengah riuhnya ekspektasi luar.

Banyak siswa merasa kewalahan karena mimpi mereka terlalu besar atau terlalu abstrak. Guru dapat berperan membedah mimpi tersebut menggunakan kerangka SMART. Ketika siswa mengatakan ingin “sukses”, guru tidak berhenti pada kata itu, melainkan mengajukan pertanyaan lanjutan. Apa arti sukses bagi dirinya secara spesifik? Apakah itu memiliki bisnis sendiri, bekerja di perusahaan besar, atau memberi dampak sosial? Guru membantu siswa menemukan indikator yang dapat diukur, menilai apakah tujuan tersebut dapat dicapai dengan kemampuan saat ini, serta menggali relevansinya dengan nilai-nilai pribadi siswa. Unsur waktu juga menjadi penting, karena tujuan tanpa batas waktu sering kali hanya menjadi angan-angan.

Dalam proses ini, guru juga bertanggung jawab menciptakan suasana yang aman secara psikologis. Banyak siswa memilih menjawab “tidak tahu” atau “terserah” karena takut dihakimi jika pilihannya dianggap aneh, tidak realistis, atau tidak sesuai harapan orang dewasa. Guru sebagai coach perlu memastikan bahwa tahap eksplorasi adalah ruang bebas dari penilaian. Validasi sederhana seperti mengatakan bahwa kebingungan adalah hal yang wajar dapat membuat siswa merasa diterima dan berani membuka diri. Ketika siswa merasa didengarkan secara utuh melalui Active Listening, mereka lebih siap untuk mengeksplorasi pikirannya sendiri.

Salah satu kekuatan utama dari coaching adalah tindak lanjut. Guru tidak berhenti pada membantu siswa merumuskan tujuan, tetapi juga hadir sebagai pengingat yang suportif. Melalui percakapan berkala, guru dapat mengajak siswa merefleksikan proses yang telah mereka jalani, hambatan yang muncul, dan penyesuaian yang perlu dilakukan. Bahkan ketika siswa kembali terjebak pada jawaban “tidak tahu”, guru masih memiliki berbagai teknik untuk membuka ruang berpikir, termasuk pertanyaan pengandaian yang membantu siswa melewati kebuntuan mental.

Pada akhirnya, guru yang berperan sebagai coach tidak memberikan jawaban, melainkan menyediakan cermin agar siswa dapat melihat potensi mereka sendiri dengan lebih jernih. Dengan pendampingan yang tepat, tujuan SMART tidak lagi terasa seperti tugas sekolah yang membosankan, melainkan berubah menjadi peta jalan menuju masa depan yang benar-benar mereka miliki. Dari sinilah generasi yang semula ragu dan bingung dapat tumbuh menjadi individu yang lebih sadar diri, berani memilih, dan siap bertanggung jawab atas jalan hidupnya sendiri.

Penulis : Coach Dian, Guru SMA PL Don Bosko