Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Menumbuhkan Sikap Religius dan Budaya Malu : Mana Lebih Penting?

Diterbitkan :

Suara Sunyi Yang Tak Di Dengar

Di halaman sekolah, jam tujuh pagi bukan hanya angka.

Waktu pagi itu, adalah ruang antara dunia yang kita tinggali saat ini dan dunia yang sedang kita bangun. Dunia masa depan kita siapkan setiap pagi dengan kegiatan pembiasaan.

Anak-anak datang dengan langkah yang belum selesai, mereka sedang memulai perjalanan kehidupan:

ada yang ceria, ada yang letih oleh kemiskinan yang tak terlihat, ada yang pura-pura kuat untuk menutupi masalah, ada yang resah sebab semalam tidak belajar, genting di rumahnya bocor, menyiram buku tulisnya.

Dan setiap pagi, salahsatu dari 7 kebiasaan anak Indonesia hebat rutin dilakukan.Sekolah memiliki program pembiasaan ibadah hampir seperti rutinitas keagamaan di surau-surau kecil, terdengarlah suara pengeras:

“Anak-anak, mari kita shalat Dhuha berjamaah…”

Kita dengan sangat jelas melihat anak-anak berdiri.Keluar dari ruangan.  Rapi. Tertib. Patuh.

Tetapi kalau sempat mengamati, coba berdirilah di tepi halaman, lihat semua ruangan, diam-diam kita akan mendengar sesuatu yang lain:

suara wudu yang tergesa-gesa, gerakan shalat yang seperti salin-tempel, dan tatapan mata yang masih memikirkan PR matematika jam kedua.

Di bangsa kita, suara sesuatu yang sebenarnya penting sering kalah oleh suara sesuatu yang terlihat penting.

“Duha itu sunnah, Mas Guru.” Kata seorang penjaga, protes, tetapi suaranya setengah tertelan.

Guru agama yang masih muda dan pengantin baru itu hanya tersenyum. Dia paham benar bahwa sholat Duha itu memang sunnah.  memang

Tapi kita, banyak sekolah negeri,  memperlakukannya seperti wajib.

Duhur itu sholat yang wajib.

Tapi kita, di banyak sekolah juga hanya memperlakukannya seperti apa adanya.Boleh dikerjakan boleh tidak. Apalagi bila hujan atau jadwalnya berbagi waktu dengan makan MBG.

Dan di antara dua ruang itu, salah bersikap tentang yang sunnah dan yang wajib, di situlah sebenarnya letak bibit penyakit bangsa ini.

Sangat Religius, Sedikit Merasa Bersalah

Saya pernah membaca  tulisan bahwa kita ini bangsa yang ibadahnya ramai tapi hatinya sering sepi.

Bukan sepi dari Tuhan.

Sepi dari rasa malu terhadap Tuhan.

Indonesia adalah negara di mana orang bisa membaca “Aamiin” lebih cepat daripada membaca tanda bahaya di hati nuraninya.

Kita membuat kegiatan keagamaan seperti membuat undangan hajatan:

ada pembukaan, ada doa, ada dokumentasi, ada konsumsi.

Dan murid-murid mengikuti semuanya.

Tertib. Lurus.

Sampai guru-guru percaya bahwa anak-anak ini sedang tumbuh menjadi generasi yang religius.

Padahal mereka baru tumbuh menjadi generasi yang patuh.

Patuh itu tidak sama dengan takut berbuat salah.

Patuh itu tidak sama dengan jujur.

Patuh itu hanyalah anak tangga pertama menuju kesadaran.

Kalau kita berhenti di situ, kita sedang membesarkan generasi yang menganggap Tuhan adalah “CCTV yang tidak selalu aktif”.

Mengajari Ayat, Tidak Mengajari Makna

Cobalah masuk ke kelas pelajaran agama.

Guru menjelaskan rukun Islam dengan suara lantang.

Murid-murid menghafal ayat dengan fasih.

Tetapi jarang sekali kita mendengar dialog seperti:

“Apa jadinya bangsa kalau orang-orangnya tidak merasa bersalah ketika mengambil hak orang lain?”

“Mengapa Tuhan memerintahkan shalat? Apakah hanya agar kita hafal gerakannya?”

“Untuk apa kita belajar agama kalau kita tidak belajar takut menyakiti hati sesama manusia?”

Kita membesarkan generasi yang hafal teks, tapi tidak tahu jarak antara ayat dan perbuatannya sendiri.

Cak Nun, seorang guru bangsa yang sangat peduli dengan kondisi negeri ini pernah bilang, kira-kira begini:

“Bangsa ini sedang sakit bukan karena kurang ilmu, tapi karena tidak merasa bersalah ketika salah.”

Agama di sekolah mengajarkan ilmu.

Tapi belum tentu mengajarkan rasa bersalah. Nilai yang tercantum di daftar guru kemudian ditulis di buku raport, bukan cermin kedalaman akhlak yang sesungguhnya.

Belum tentu Mengerti, murid Mengamati

Anak-anak adalah makhluk yang paling jujur.

Mereka melihat lebih tajam daripada orang dewasa.

Ketika guru berkata,

“Shalat itu penting.”

Mereka melihat apakah guru itu benar-benar jujur dalam hal-hal kecil.

Ketika guru berkata,

“Jangan menyontek.”

Mereka memperhatikan apakah guru itu memanipulasi angka di rapor.Anak yang berpikir dan jujur,  kadang heran karena merasa tidak pintar tetapi angka 80 nongol di rapornya

Ketika sekolah berkata,

“Kita sekolah religius.”

Mereka memperhatikan apakah rapat guru diisi bisik-bisik gosip yang tidak lebih baik bersumber dari tayangan infotainment murahan.

Jadi jangan heran kalau anak menganggap agama itu semacam hiasan dinding:

dipasang rapi, dipuji tamu, tapi tidak terlalu dihiraukan oleh penghuni rumah.

Anak-anak itu tidak kurang taat.

Mereka hanya bingung:

mengapa orang dewasa begitu semangat mengajarkan ibadah sunah, tetapi begitu longgar terhadap dosa sosial?

Di sinilah letak tragedinya.

Bukan tragedi besar seperti korupsi triliunan.

Ini tragedi kecil-kecil yang kalau diakumulasi, menjadi hancurnya sebuah bangsa.

Janggal : Sunnah Dikuatkan, Wajib Dibiarkan

Bertahun-tahun saya memikirkan hal ini.

Mengapa sekolah-sekolah begitu rajin membuat program ibadah sunah?

Mengapa kegiatan keagamaan begitu selebratif?

Saya akhirnya menemukan satu kemungkinan yang menyedihkan:

Karena ibadah sunah tidak menyinggung kepentingan siapa pun.

Ia aman.

Ia cantik.

Ia instagramable.

Ia mudah dilaporkan dalam bentuk foto.

Sedangkan ibadah wajib—apalagi sifat moralnya—tidak selalu indah bagi orang dewasa.

Jujur itu berat.

Amanah itu capek.

Menjaga integritas itu tidak bisa difoto.

Ibadah sunah itu seperti bunga:

orang senang memamerkannya.

Ibadah wajib itu seperti akar:

orang jarang melihatnya, tapi tanpa itu pohon tumbang.

Negara ini terlalu banyak bunga, terlalu sedikit akar.

Memotret versus Menggali

Ada satu kalimat yang sering saya dengar dari guru-guru:

“Mas, yang penting ada dokumentasinya.”

Saya selalu sedih mendengarnya. Dan kesedihan itu menjelma kegelisahan jiwa. Tetap saja tak berdaya dan tak bisa merubah apa-apa. Semua yang terjadi sudah biasa dan dinormalisasi. Berpikir beda dan merasakan hal yang beda, sepertinya sebuah dosa. Apalagi berani untuk bicara. Itu lebih dosa, tak punya tatakrama dan mengganggu kenyamanan bersama. Diam dan pura-pura iya itu baru aman dan mulia.

Perilaku dan ibadah sesuai agama itu, seharusnya sesuatu yang tidak bisa didokumentasikan:

kesadaran, rasa malu, takut pada kemunafikan, cinta kepada sesama.

Hal-hal itu, pasti tidak bisa dibuktikan dengan foto.

Tetapi kita memaksanya masuk ke kamera.

Di rapat guru, ada pula yang berkata:

“Program keagamaan harus terlihat.”

Dalah hal tanggungjawab  kepemimpinan, dan mendidik  “terlihat” sering lebih penting daripada “tercapai”.

Kita lupa bahwa tanaman yang tumbuh diam-diam jauh lebih kuat daripada tanaman yang tumbuh karena sorotan lampu.

Alternatif Solusi

Tidak usah muluk-muluk.

Tidak usah membuat proyek revolusi karakter nasional.

Solusinya mungkin hanya sesederhana ini:

Kembalikan ibadah sebagai pengalaman pribadi.Tidak semua hal suci harus dibuat berbaris.

Mengajar secara logis, utamakan yang wajib.

Tuhan sendiri mendahulukannya.

Guru harus lebih takut berbuat salah daripada takut pada kepala sekolah. Dan kepala sekolah harus lebih takut salah karena bertanggungjawab terhadap jumlah yang lebih banyak manusia.

Anak-anak memperhatikan semua yang mereka lihat, dengar dan terjadi di lingkungan belajarnya.

Rasanya sangat penting untuk menjadikan moral sebagai inti kurikulum agama.

Bukan hanya ayat dan hafalan. Kita bersama harus berusaha mengentikan budaya “yang penting kelihatan religius”.

Religius itu bukan kegiatan.Religius itu cara hidup.

Bangsa yang sibuk menambah ibadah sunnah tapi malas memperbaiki wajib sosialnya—adalah bangsa yang sedang latihan menjadi munafik massal tanpa sadar.

Semakin Hilang Malu

Saya menulis ini bukan karena saya lebih suci.

Saya menulis ini karena saya juga takut.Takut jika diam saja dan harus ikut menanggung kekeliruan kolektif.

Takut bahwa bangsa ini sedang tumbuh menjadi bangsa yang fasih beribadah tetapi gagap melakukan kebaikan.

Takut bahwa murid-murid kita akan tumbuh menjadi orang dewasa seperti kita—yang mudah memaafkan diri sendiri atas kesalahan sosial, tetapi keras menghakimi orang atas pelanggaran ritual.

Takut bahwa sekolah-sekolah kita sedang membangun generasi yang rajin memuji Tuhan tetapi malas menjaga amanah Tuhan.

Kita tidak kekurangan doa.

Kita kekurangan rasa malu.

Dan sekolah—tempat anak-anak menumbuhkan masa depan—harus menjadi tempat pertama di mana rasa malu itu diajarkan:

malu untuk menyontek,

malu untuk berbohong,

malu untuk memanipulasi laporan,

malu untuk memamerkan kesalehan palsu,

malu untuk menjadi generasi yang tidak malu.

Karena bangsa yang kehilangan rasa malu,

pelan-pelan akan kehilangan masa depan.

Ajibarang, 20 Nop 2025

Penulis :Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja