Memasuki pertengahan bulan Juli 2025, awal tahun ajaran baru diwarnai tantangan penguasaan teknologi terbaru sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam dunia pendidikan. Pendidik dan peserta didik dituntut mampu berinteraksi, beradaptasi dan bersinergi dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), khususnya ChatGPT. Kehadiran ChatGPT dalam dunia pendidikan menimbulkan kecemasan tersendiri bagi sebagian pendidik, sebab mereka beranggapan peserta didik tidak perlu berpikir keras dan belajar serius, mengingat ChatGPT mampu memberikan jawaban secara akurat dari pertanyaan apa pun yang ditujukan kepadanya. Apakah kita sebagai tenaga pendidik perlu memiliki kekhawatiran terhadap aplikasi modern ini, ataukah kita mampu memanfaatkannya dalam proses pembelajaran yang menyenangkan?
ChatGPT merupakan model kecerdasan buatan berdasarkan arsitektur Generative Pre-trained Transformer yang diprogram supaya menghasilkan output dalam bentuk teks bahasa yang biasa kita buat berdasarkan input yang diterima. ChatGPT mampu membuat tugas literasi dan numerasi yang sering kita kerjakan seperti membuat proposal kegiatan sekolah, menyusun karya tulis, menjawab pertanyaan seluruh mata pelajaran, menjelaskan konsep dasar pelajaran, menterjemahkan bahasa asing, serta menyelesaikan soal-soal numerik dalam pelajaran matematika, fisika dan kimia. ChatGPT mampu menanggapi percakapan secara interaktif layaknya kita sedang menggunakan WhatsApp jalur pribadi (japri). ChatGPT sanggup merespon pertanyaan kita dalam bentuk jawaban dialog tertulis yang relevan, sebab menggunakan Large Language Model, yaitu model kecerdasan buatan berupa pemrosesan bahasa secara natural.
Bagi pendidik yang belum begitu memahaminya, ChatGPT menjadi ancaman serius karena mampu memberikan jawaban pelajaran yang seharusnya dijawab oleh peserta didik setelah melalui beberapa tahapan proses belajarnya. ChatGPT diposisikan seperti sebuah aplikasi berbahaya karena langsung mengarah pada hasil dan bukan pada proses belajar. Sebagai pendidik yang selektif dan adaptif terhadap teknologi terkini, kita dapat menggunakan ChatGPT sebagai partner, bukan sebagai shortcut dalam proses pembelajaran.
Apabila pendidik menggunakan ChatGPT sebagai shortcut, maka peserta didik hanya mengambil jawaban begitu saja, tanpa ada upaya menambah pengetahuannya. Sebaliknya, apabila pendidik menggunakan ChatGPT sebagai partner dalam diskusi timbal balik yang menyenangkan, maka peserta didik mendapatkan pengetahuan yang lebih luas lagi. Perbedaan partner dan shortcut ChatGPT sangat terlihat, misalnya dalam pemahaman pelajaran sejarah. Sebagai guru sejarah, saya bisa memulainya dengan mengajukan pertanyaan kepada ChatGPT sebagai berikut: “Buatlah 10 pertanyaan tentang strategi pemerintah kolonial Belanda dalam menjalankan Sistem Tanam Paksa di Indonesia mulai tahun 1830 sampai 1870 tanpa jawaban!”
Dengan berbekal 10 pertanyaan tanpa jawaban yang dibuat ChatGPT, guru meminta setiap peserta didik untuk menjawab secara mandiri, tanpa Googling, tanpa membaca buku teks pelajaran dan tanpa bertanya kepada temannya. Jawaban peserta didik ditulis di buku catatan sejarah. Setelah selesai menuliskan jawaban 10 pertanyaan, guru meminta peserta didik untuk “berdiskusi” dengan ChatGPT. ChatGPT diminta memberikan jawaban 10 pertanyaan sejarah tersebut. Langkah selanjutnya, guru mengajak peserta didik untuk membandingkan jawabannya sendiri dengan jawaban dari ChatGPT. Dengan memotivasi peserta didik untuk “berdiskusi” dengan ChatGPT maka mereka mampu melihat kekurangannya dalam memahami materi sejarah, sekaligus menambah wawasan jawaban yang lebih lengkap. Jika guru hanya meminta peserta didik untuk mencari jawaban begitu saja melalui ChatGPT, maka tindakan shortcut ini tidak memberikan andil dalam penambahan wawasan peserta didik.
Dalam dunia pendidikan di jenjang SMA, ChatGPT dapat dimanfaatkan sebagai tutor virtual yang selalu siap sedia setiap saat membantu peserta didik dalam memahami materi pelajaran secara mandiri di luar jam belajar sekolahnya. Contoh konkret saat menghadapi ulangan harian, apabila peserta didik mengalami kesulitan dalam memahami perbedaan Sistem Tanam Paksa dan Sistem Politik Pintu Terbuka sebagai upaya eksploitatif pemerintah kolonial Belanda terhadap Indonesia, maka mereka dapat langsung bertanya kepada ChatGPT untuk menjelaskannya secara ringkas.
Sebagai “teman” belajar, ChatGPT juga sangat bermanfaat dalam mengembangkan kemampuan literasi peserta didik. Melalui pertolongan ChatGPT, peserta didik memiliki semangat mengembangkan gagasannya, belajar menyusun kalimat-kalimat sederhananya ke dalam kerangka cerita, serta memperoleh informasi tambahan mengenai struktur dan jenis karangan dalam Bahasa Indonesia. Kemampuan ChatGPT semacam ini pasti sangat menolong peserta didik yang sebagian besar masih ragu-ragu untuk menuangkan idenya dalam bentuk karangan dengan menggunakan tata Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
ChatGPT juga sanggup membantu peserta didik dalam merencanakan waktu belajarnya. Banyak peserta didik merasa kesulitan dalam pengaturan waktu yang efektif dan efisien, terutama di awal tahun ajaran baru ketika aktivitas belajar mulai padat. ChatGPT dapat digunakan sebagai media untuk membuat jadwal belajar mandiri, memberikan masukan prioritas materi pelajaran, bahkan mampu membuatkan rancangan metode belajar yang paling sesuai dengan gaya belajar setiap peserta didik yang sangat beragam.
Jika dilihat dari sisi guru sebagai tenaga pendidik, ChatGPT dapat membantu dalam penyusunan tugas administratif seperti pembuatan ringkasan mata pelajaran, penyusunan modul ajar, maupun penyusunan soal-soal ulangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Dibalik segala keunggulannya, penggunaan ChatGPT juga harus disertai pengawasan dan pemahaman etika akademik. Guru sebagai pendidik kedua dan orang tua sebagai pendidik pertama perlu memberikan pengarahan agar peserta didik tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi modern, melainkan menjadikannya sebagai “teman” belajar, dan sebagai alat bantu pemahaman materi pelajaran yang melengkapi proses pembelajaran di sekolah.
Dengan segala manfaat yang tidak bisa diragukan lagi, ChatGPT memiliki potensi besar dalam mendukung pembelajaran mendalam (Deep Learning) pada jenjang SMA, khususnya di awal tahun ajaran baru 2025/2026 yang penuh tantangan. Apabila pendidik dan peserta didik mampu memanfaatkannya secara bijaksana, teknologi ini bukan sekedar membantu memahami materi pelajaran, akan tetapi juga menumbuhkan semangat, kegembiraan, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemandirian belajar pada diri pendidik serta peserta didik. ChatGPT sebagai sebuah kemajuan teknologi informatika merupakan keniscayaan, sebagai insan petualang pendidikan kita harus bijaksana dalam memanfaatkannya untuk tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Penulis : Anna Sri Marlupi, S.S. Guru SMA PL Don Bosko Semarang
