Mbah Panji Kusuma merupakan Putra dari Raja Kerajaan Kediri yang hidup di masa kewalian yakni sekitar 1500 masehi. Waktu itu Kerajaan Kediri sedang mengalami gejolak atau perang dengan pasukan gelang-gelang, kemudian pangeran Panji diminta oleh para sesepuh kerajaan Kediri untuk melarikan diri ke barat dengan tujuan untuk mencari tempat yang nantinya akan ditempati keturunan Mbah Panji dan masyarakat.
Setelah perjalanan panjang dengan ditemani oleh pembantu kerajaan Kediri yaitu Mbah Dayat, sampailah Pangeran Panji Kusuma tiba di pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah Selat Muria serta berada diantaranya Kudus, Jepara, dan Demak. Kebetulan dalam proses perjalanan itu mengalami beberapa halangan. Dengan ketulusan dan keteguhan hati Mbah Panji Kusuma menjalankan perintah dari para sesepuh kerajaan Kediri, maka sampailah mbah Panji di tempat ini. Tempat ini dulunya adalah hutan belantara yang dipenuhi banyak pohon-pohon besar atau biasanya disebut alas dan banyak makhluk-makhluk gaib jahat. Melihat hutan ini sangatlah luas dan dapat dihuni oleh manusia, maka Mbah Panji Kusuma melakukan tirakat berpuasa, bertapa, tidak makan minum dan tidak tidur selama beberapa hari (Topo Broto) agar memperoleh pertolongan oleh Allah SWT menyelesaikan tirakat mbabat (menebang) pohon-pohon ini dengan lancar dan tidak diganggu oleh makhluk-makhluk jahat tersebut.
Menurut Juru Kunci Makam Mbah Panji, Pak Muslimin dalam melakukan topo broto Mbah Panji menyamar sebagai orang yang mencari ikan di sungai dengan alat seperti “CUNDIK” (alat dari bambu dan diberi jaring) namun bacongnya (bagian ujung jaring) dipotong sehingga ikan yang sudah tertangkap bisa keluar lagi. Hal ini dilakukan Mbah Panji Kusuma karena merupakan salah satu sarana melakukan topo broto.
Mbah Panji Kusuma juga dikenal sebagai Kyai Panggang oleh orang zaman dahulu. Sebutan tersebut diperoleh beliau karena beliau sering mencari kayu dan daun kering yang kemudian dibakar untuk digunakan sebagai alat pemanas badan Mbah Panji ketika merasa kedinginan setelah masuk ke dalam sungai. Setelah tubuhnya merasa hangat, Mbah Panji turun lagi ke sungai dan ini dilakukan secara terus-menerus.
Di tengah melakukan topo broto, Mbah Panji Kusuma didatangi seorang dari Cirebon. Beliau adalah Syekh Nur Salim yang masih keturunan Kasultanan Cirebon. Syekh Nur Salim juga merupakan orang yang Hafidz Qur’an. Kemudian Beliau membantu Mbah Panji dalam babat alas. Dalam pertengahan membantu Mbah Panji, Syekh Nur Salim mengalami sakit kemudian meninggal. Makam Syekh Nur Salim terletak dekat makam Mbah Panji Kusuma.
Setelah selesai membabat alas tempat tersebut, kemudian Mbah Panji Kusuma membangun tempat tinggal untuk keluarganya. Konon diceritakan, Mbah Panji Kusuma kembali ke Kediri untuk menjemput istri dan anaknya yakni Dewi Kubro dan Dewi Nawang Wulan setelah selesai babat alas dan membangun tempat tinggal. Ada orang menyebut istri Mbah Panji dengan nama Dewi Kebrok. Diceritakan bahwa Dewi Nawang Wulan atau biasa juga disebut Dewi Karsi atau Nawangsih merupakan anak angkat dari Mbah Panji Kusuma dan Mbah Dewi Kubro.
Setelah Mbah Panji Kusuma dan keluarga menempati rumah yang dibangun tak lama berselang datang seorang laki-laki tampan yang melakukan pengembaraan. Laki-laki tersebut adalah Citro Moyo atau juga dikenal Sastro Moyo. Beliau konon ceritanya merupakan santri dari Surabaya dan juga masih keturunan Raja Majapahit Brawijaya IV/Prabu Kerta Wijaya. Citro Moyo kemudian menikah dengan Dewi Karsi menjadi anak mantu dari Mbah Panji Kusuma. Makam Mbah Citro Moyo dimakamkan di wilayah makam Mbah Panji Kusuma.
Setelah menjadi Desa, banyak para sahabat Mbah Panji Kusuma datang beserta banyak pendatang dari luar dan menetap di desa. Mbah Panji Kusuma merasa tidak enak karena desa masih ada bau amis karena dekat sungai dan selat, membuat para sahabat Mbah Panji Kusuma menyarankan agar ditanami banyak bunga agar harum semerbak. Seiring waktu, desa pun berubah, kehidupan penduduknya semakin makmur dan damai, membawa kebahagiaan yang tiada tara. Perasaan senang atau “bungah” ini menjadi ciri khas desa, sejalan dengan keindahan bunga yang menghiasi setiap sudutnya. Maka, desa tersebut diberi nama Desa Bungo, yang konon berasal dari kata Jawa “Bungah,” yang berarti berbunga-bunga dalam kebahagiaan dan kedamaian.
Dalam mensyiarkan agama islam di Desa Bungo, Mbah Panji Kusuma mempunyai cara tersendiri. Diceritakan, dulu di desa banyak penghuni dari banyak macam golongan seperti orang yang bermaksiat, orang yang mabuk dan banyak lagi. Mbah Panji Kusuma dengan sabar menghadapi mereka. Mbah Panji Kusuma tidak melakukan kekerasan untuk melawan mereka. Beliau mengalahkan orang-orang yang bermaksiat dan mabuk dengan cara yang bijak dan arif yakni dengan cara membagi ikan secara gratis dan terkadang memberikan sedikit kekayaan dari hasil jual ikan kepada masyarakat. Dengan keyakinan iman dan sering bersedekah, banyak orang ingin menjadi pengikut Mbah Panji Kusuma. Dengan begini, orang yang bermaksiat dan pemabuk dengan sendirinya keluar dari desa tanpa ada perlawanan secara fisik.
Mbah Panji Kusuma sangat dekat dengan kehidupan masyarakat setempat sampai sekarang. Konon cerita, karomah dari Mbah Panji Kusuma sering membantu masyarakat setempat khususnya nelayan. Para nelayan sering kali menyebut nama Mbah Panji Kusuma ketika teroambang-ambing di laut. Nelayan sering minta pertolongan dengan mengucap, “Mbah Panji, kulo putune njenengan mbah, tulungi putune mbah”. Alhamdulilah para nelayan kemudian selamat.
Masyarakat Desa Bungo meyakini bahwa Mbah Panji Kusumo memiliki karomah yang membantu nelayan yang kesulitan di laut. Mereka sering menyebut nama beliau dengan harapan mendapatkan keselamatan. Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat rutin menggelar haul dan kirab budaya setiap tahun di makam Mbah Panji Kusumo. Tradisi ini menjadi wujud syukur dan upaya untuk melestarikan budaya lokal.
Dengan demikian, Mbah Panji Kusumo bukan hanya pendiri Desa Bungo Kecamatan Wedung Kabupaten Demak tetapi juga sosok yang membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat melalui pendekatan spiritual dan sosial yang bijaksana sampai sekarang ini.
Penulis : Destriawan Kurniadi, Guru SMAN 1 Wedung Demak
