Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Microlearning Berbasis Nearpod, Solusi Efektif Mengatasi Hambatan Belajar Siswa Generasi Z di Era Digital

Diterbitkan :

Siswa Generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1995 hingga 2010, tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya diliputi oleh teknologi digital. Mereka merupakan generasi yang sangat akrab dengan gawai, media sosial, dan internet sejak usia dini. Tidak mengherankan jika karakteristik mereka pun berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi Z dikenal lebih mandiri, kreatif, terbiasa melakukan banyak hal secara bersamaan (multitasking), dan cenderung lebih kritis terhadap informasi yang diterima. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat pula sejumlah tantangan yang menghambat proses pembelajaran mereka.

Beberapa hambatan umum yang dihadapi siswa Generasi Z adalah mudah terdistraksi, kesulitan berkonsentrasi dalam waktu lama, kurang sabar, dan minim partisipasi dalam pembelajaran konvensional. Kondisi ini juga ditemukan di kelas X Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL) SMK Negeri 2 Temanggung, di mana siswa menunjukkan kesulitan mempertahankan fokus saat mengikuti pembelajaran yang bersifat ceramah atau bersumber dari buku teks semata. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri, mengingat keberhasilan proses belajar sangat dipengaruhi oleh sejauh mana siswa dapat terlibat aktif dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran.

Untuk menjawab tantangan tersebut, diperlukan pendekatan pembelajaran yang sejalan dengan gaya belajar generasi digital ini. Salah satu strategi yang terbukti efektif adalah penggunaan microlearning berbasis teknologi. Djamarah dan Zain (2010) menjelaskan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang berfungsi menyampaikan pesan pembelajaran agar tujuan dapat tercapai. Sementara itu, menurut Azhar (2011), media pembelajaran tidak hanya menjadi perantara informasi, tetapi juga mampu merangsang dan memfasilitasi pengalaman belajar siswa baik di dalam maupun di luar kelas.

Microlearning merupakan bentuk penyajian materi pembelajaran yang singkat, spesifik, dan sederhana. Karakteristik ini sangat cocok dengan siswa Generasi Z yang cenderung menyukai informasi yang cepat, visual, dan mudah diakses kapan saja. Berbagai format dapat digunakan dalam microlearning, seperti video singkat, kuis interaktif, infografis, hingga potongan teks yang dikemas secara menarik. Dengan bantuan teknologi, guru kini memiliki peluang besar untuk mengemas pembelajaran yang lebih hidup dan kontekstual.

Salah satu platform yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan microlearning adalah aplikasi Nearpod. Platform ini dirancang untuk mendukung pembelajaran interaktif dengan fitur-fitur yang fleksibel, seperti kuis real-time, video pembelajaran dengan soal yang tertanam, kolaborasi lewat collaborative board, serta penyajian materi dalam berbagai format seperti teks, audio, maupun visual. Melalui Nearpod, guru dapat menyajikan materi yang sesuai dengan kebutuhan dan gaya belajar siswa, sekaligus memastikan keterlibatan mereka secara aktif.

Keunggulan Nearpod tidak hanya terletak pada fitur teknologinya, tetapi juga pada kemudahannya diakses baik secara langsung di kelas maupun secara daring dari lokasi mana pun selama terhubung dengan internet. Lasito dalam Prosiding Seminar Nasional UNY (2022) mengemukakan bahwa microlearning bersifat sederhana, kolaboratif, dan mudah diikuti. Siswa dapat belajar dalam kelompok kecil, saling berdiskusi, memberi umpan balik, dan mengerjakan tugas secara bersama-sama. Ini tentu saja meningkatkan interaksi sosial dan keterlibatan emosional siswa dalam proses belajar.

Kelebihan lain dari microlearning berbasis Nearpod adalah sifatnya yang ekonomis dan inklusif. Guru dan siswa dapat memanfaatkan teknologi gratis dan fitur yang tersedia, seperti media sosial atau akun gratis Nearpod, untuk memperkaya pembelajaran. Dengan menyisipkan soal pada video, guru dapat memastikan bahwa siswa menonton dengan penuh perhatian dan tidak sekadar “skip” konten. Hal ini menjadikan proses pembelajaran lebih disiplin namun tetap menarik.

Pengalaman di kelas X AKL SMKN 2 Temanggung menunjukkan bahwa implementasi Nearpod tidak menemui hambatan besar. Siswa relatif cepat beradaptasi dengan tampilan dan fitur Nearpod. Mereka merasa lebih fokus, aktif, dan terlibat dalam pembelajaran. Hasil yang ditunjukkan pun sangat menggembirakan. Sebelum penggunaan Nearpod, hanya 25% siswa yang mampu mencapai nilai di atas Kriteria Ketuntasan Tingkat Program (KKTP). Namun setelah penerapan microlearning melalui Nearpod, angka tersebut melonjak hingga 89%. Ini adalah bukti nyata bahwa metode ini efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

Penelitian yang dilakukan oleh Fidan (2022) turut memperkuat temuan ini. Microlearning dinilai mampu meningkatkan motivasi intrinsik siswa serta keterlibatan emosional mereka. Format pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik Generasi Z membuat mereka merasa lebih nyaman, tertarik, dan bersemangat dalam belajar. Mereka lebih menyukai konten yang ringkas, visual, aplikatif, dan mudah diakses melalui perangkat pribadi seperti smartphone atau tablet.

Meski demikian, penggunaan microlearning tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Jika konten tidak bervariasi, siswa dapat merasa bosan. Konten yang terlalu sederhana juga bisa menyulitkan siswa dalam memahami konsep yang kompleks atau abstrak. Selain itu, kurangnya ruang untuk diskusi bisa menurunkan kualitas interaksi sosial dan emosional di antara siswa. Ketergantungan pada teknologi pun bisa menjadi masalah jika akses internet terbatas atau jika terjadi gangguan teknis. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah potensi kesenjangan dalam akses teknologi antara siswa yang satu dengan yang lain.

Observasi lebih lanjut menunjukkan bahwa keberhasilan penggunaan microlearning sangat dipengaruhi oleh lima faktor utama. Pertama, kualitas konten. Materi yang disajikan harus relevan, akurat, dan sesuai dengan kurikulum. Kedua, kualitas penyajian. Tampilan visual, alur informasi, dan kejelasan bahasa menjadi faktor penting agar siswa tertarik dan mampu memahami isi materi. Ketiga, kualitas interaksi. Siswa perlu diajak berdiskusi, berkolaborasi, dan berpartisipasi secara aktif dalam setiap sesi pembelajaran. Keempat, kualitas evaluasi. Penilaian yang dilakukan harus objektif, valid, dan beragam, untuk mengukur pencapaian siswa secara menyeluruh. Kelima, ketersediaan dukungan. Baik guru, rekan sebaya, maupun infrastruktur teknologi harus siap membantu siswa dalam mengatasi kesulitan selama proses belajar berlangsung.

Untuk menjawab tantangan yang ada, microlearning berbasis Nearpod dapat dioptimalkan dengan sejumlah strategi. Guru dapat menyajikan konten dalam bentuk teks singkat, video animasi, atau infografis yang menarik. Kuis singkat setelah penyampaian materi berfungsi sebagai evaluasi sekaligus penguat pemahaman. Feedback cepat dan membangun akan memotivasi siswa untuk terus berkembang. Konten pun harus disesuaikan dengan kecepatan dan preferensi belajar masing-masing siswa, agar mereka merasa lebih nyaman dan percaya diri dalam belajar.

Lebih jauh, penulis merekomendasikan agar guru tidak hanya menggunakan microlearning sebagai alat bantu belajar, tetapi juga mengintegrasikan unsur gamifikasi dalam setiap pembelajaran. Penggunaan elemen permainan, seperti poin, lencana, atau leaderboard, akan menambah semangat siswa dalam mengikuti kegiatan belajar. Aplikasi Nearpod sangat mendukung hal ini karena fleksibel dan mudah digunakan. Guru tidak perlu memiliki keahlian tinggi dalam teknologi untuk dapat membuat konten menarik di Nearpod. Komunitas pendidik yang aktif juga menjadi sumber inspirasi dan dukungan berkelanjutan.

Melalui penerapan microlearning berbasis Nearpod, guru dapat merespons tantangan pembelajaran siswa Generasi Z secara lebih efektif. Model ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mempercepat pencapaian kompetensi karena selaras dengan dunia dan kebiasaan digital siswa masa kini. Dengan pendekatan yang tepat, siswa akan lebih terlibat, termotivasi, dan mencapai hasil belajar yang optimal. Sudah saatnya pembelajaran di kelas bertransformasi menuju model yang lebih personal, fleksibel, dan relevan dengan zaman. Nearpod adalah mitra yang tepat dalam mewujudkan transformasi ini.

Penulis : Bayu Dwi Jadmika, Guru SMK Negeri 2 Temanggung