Senin, 04-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Minimnya Tradisi Menulis dan Krisis Ingatan di Dunia Pendidikan

Diterbitkan :

Salah satu ironi terbesar dalam dunia pendidikan adalah ini: mereka yang setiap hari mengajarkan literasi justru jarang meninggalkan jejak literasi. Guru membimbing murid membaca dan menulis, tetapi pengalaman mengajarnya sendiri sering berakhir sebagai cerita lisan yang menguap bersama waktu.

Minimnya tradisi menulis di kalangan guru kerap disederhanakan sebagai soal kemauan pribadi. Padahal, persoalan ini lebih dalam: ia lahir dari budaya sistemik yang lama membentuk guru sebagai pelaksana, bukan pemikir.

Pendidikan yang Kehilangan Ingatan

Setiap guru adalah laboratorium hidup pendidikan. Puluhan tahun mengajar berarti puluhan tahun menguji teori, metode, dan kebijakan dalam situasi nyata. Namun, pengetahuan berharga itu jarang terdokumentasi.

Akibatnya, dunia pendidikan seperti berjalan tanpa ingatan kolektif.

Kesalahan yang sama diulang, kebijakan yang tidak kontekstual terus diterapkan, dan guru-guru baru harus memulai dari titik nol—bukan dari bahu pengalaman para pendahulunya.

Di sinilah absennya tradisi menulis menjadi persoalan serius: pendidikan kehilangan memori praksisnya.

Administrasi Menggerus Ruang Berpikir

Sulit menuntut guru menulis secara reflektif jika sebagian besar energinya dihabiskan untuk mengisi formulir, laporan, dan unggahan data yang tak pernah benar-benar selesai. Sistem birokrasi pendidikan, sering kali tanpa disadari, lebih sibuk mengukur kepatuhan daripada menumbuhkan pemikiran.

Guru dibebani dokumen berlapis, aplikasi yang berganti-ganti, serta tuntutan pelaporan yang seragam, seolah semua realitas kelas bisa diringkas dalam kolom dan angka. Ruang untuk merenung, menulis, dan berpikir pun perlahan tergerus.

Dalam situasi seperti ini, menulis tidak mati karena guru malas, tetapi karena waktu dan energi intelektualnya habis lebih dulu.

Menulis yang Direduksi Menjadi Formalitas

Ironisnya, ketika menulis muncul dalam sistem, ia sering hadir sebagai kewajiban administratif: syarat angka kredit, laporan best practice, atau publikasi demi kenaikan pangkat. Tulisan lahir bukan dari kegelisahan intelektual, melainkan dari tenggat birokrasi.

Akibatnya, menulis kehilangan ruh reflektifnya. Ia menjadi aktivitas sesaat, berhenti begitu tujuan administratif tercapai. Tradisi menulis tidak pernah benar-benar tumbuh, karena sistem lebih menghargai kelengkapan berkas daripada kedalaman gagasan.

Pensiun yang Sunyi di Tengah Arsip yang Ramai

Setiap tahun, banyak guru memasuki masa purna tugas. Arsip administrasi mereka mungkin lengkap, tetapi arsip pemikiran mereka nyaris kosong. Sekolah kehilangan pengetahuan, bukan karena guru tidak memilikinya, tetapi karena sistem tidak pernah sungguh-sungguh memberi ruang untuk mendokumentasikannya.

Pensiun pun menjadi peristiwa sunyi—tanpa warisan intelektual yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Menulis sebagai Etos Perlawanan yang Sunyi

Di tengah sistem yang menuntut kepatuhan administratif, menulis justru bisa menjadi bentuk perlawanan paling sunyi dan bermartabat. Dengan menulis, guru menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar pelaksana kebijakan, tetapi subjek yang berpikir dan merefleksi.

Menulis bagi guru bukan soal bakat atau popularitas. Ia adalah tanggung jawab moral dan intelektual untuk memastikan bahwa pengalaman panjang tidak lenyap tanpa jejak.

Jika pendidikan ingin bergerak maju, maka sistem birokrasi perlu ditata ulang agar tidak mematikan daya pikir para pendidiknya. Namun sambil menunggu perubahan itu, satu hal tetap bisa dilakukan: guru menulis, meski dalam keterbatasan.

Karena guru yang tidak menulis akan mudah dilupakan.

Sebaliknya, guru yang menulis akan terus mengajar, bahkan setelah pensiun.

Ajibarang, 28 Desember 2025

Oleh: Trisnatun Abuyafi Ranaatmaja