Di sebuah desa bernama Tlaga, lereng sunyi Kecamatan Gumelar, Banyumas, tinggal seorang guru honorer bernama Pak Sarno. Umurnya 51 tahun, wajahnya bersih, kulitnya legam terpanggang matahari jalan kaki pulang pergi sekolah, dan rambutnya sudah bercampur uban. Tapi setiap pagi, ia tetap berdiri di depan kelas dengan semangat yang tidak bisa dibeli: semangat mengajar anak-anak desa agar tidak menjadi orang kalah.
Sudah 17 tahun Pak Sarno menjadi guru GTT di SDN Tlaga . Gajinya? Rp500.000 sebulan dari dana BOS. Itu pun kalau lancar. Tidak ada tunjangan sertifikasi, tidak ada jaminan pensiun, tidak ada BPJS ketenagakerjaan.
“Kalau dihitung-hitung,” katanya sambil tertawa getir, “sehari saya digaji sekitar Rp16 ribu. Tapi ya gimana, ini jalan hidup saya.”
Pak Sarno punya tiga anak. Yang bungsu masih SMA, yang sulung baru lulus dengan nilai nyaris sempurna di jurusan IPA. Cita-citanya jadi dokter. Tapi seperti mimpi-mimpi di desa yang sering kandas, anak itu tidak bisa kuliah. Biaya pendaftaran terlalu mahal. SPP-nya ratusan ribu per bulan. Belum transport, sewa kos, dan kebutuhan harian.
“Saya hanya bisa bilang ke anak: sabar ya, Nak. Mungkin Tuhan kasih jalan lain,” ucapnya lirih, sambil menatap sawah yang kering retak.
Antara Panggilan Jiwa dan Perangkap Sistem
Pak Sarno bukan satu-satunya. Di seluruh Indonesia, menurut data Kemendikbudristek, ada lebih dari 900.000 guru honorer seperti dirinya. Mereka mengajar dengan beban sama seperti guru PNS—kadang malah lebih berat. Tapi gaji mereka tidak cukup untuk membeli beras sebulan penuh.
Mereka hidup di antara dua jebakan:
Kalau diam, mereka tetap miskin dan dilupakan.
Kalau bicara, mereka dianggap pembangkang dan tak tahu bersyukur.
Yang lebih menyakitkan, saat guru GTT meminta kejelasan nasib, yang datang justru motivasi murahan:
“Tetap semangat ya, Pak. Ikhlas saja, nanti dapat pahala.”
“Guru itu pahlawan tanpa tanda jasa, Pak Sarno!”
Tapi Pak Sarno tahu, pahlawan tak bisa bayar listrik pakai ucapan terima kasih.
Kepala Sekolah pun Terkepung Dilema
Bu Sukma, kepala sekolah di sekolah tempat Pak Sarno mengajar pun serba salah. Ia ingin membantu menambah honor Pak Sarno dan guru-guru GTT lain. Maka diadakan rapat komite. Orang tua murid sepakat iuran Rp10.000 sebulan per anak. Sumbangan sukarela katanya.
Tapi belum sempat berjalan, datang LSM.
Lalu laporan ke aparat penegak hukum.
Stempel “pungutan liar” pun dilempar.
Akhirnya? Semuanya mundur. Komite takut, kepala sekolah tertekan, Pak Sarno tetap pulang dengan motor tua, boncengan bersama anaknya yang gagal kuliah.
Ke Mana Negara?
Tahun demi tahun berlalu. Pemerintah berganti, program pendidikan berubah-ubah: Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, PPPK, digitalisasi, pelatihan daring, pengembangan kompetensi. Tapi tak satupun menyentuh langsung kehidupan Pak Sarno.
Tidak ada kebijakan yang menjamin harga sembako turun agar guru honorer bisa bertahan.
Tidak ada afirmasi agar anak guru honorer bisa kuliah gratis sebagai bentuk penghargaan.
Tidak ada regulasi yang fleksibel dan manusiawi yang membolehkan sekolah menambah honor guru secara sukarela.
Yang ada hanyalah seminar motivasi, workshop perubahan mindset, dan pelatihan “ikhlas digital”.
Saat Tuhan Pun Terasa Jauh
Pak Sarno bukan atheis. Ia orang yang taat. Tapi kadang, di balik sholat tahajudnya, ia bertanya:
“Apa Tuhan mendengar doa saya?”
“Kenapa anak saya yang cerdas malah tidak bisa kuliah?”
Tapi ia memilih diam. Karena mengeluh pun tak mengubah apa-apa.
Ketika Pak Sarno Tak Lagi Mengajar
Jika suatu hari Pak Sarno berhenti mengajar, mungkin tidak ada berita di koran. Tidak ada perpisahan besar. Tidak ada pejabat yang datang melepas.
Tapi satu hal pasti akan hilang: seorang guru yang mencintai muridnya lebih dari dirinya sendiri.
Dan ketika guru seperti Pak Sarno satu per satu menyerah,
maka yang kalah bukan mereka — tapi kita semua.
Jika tulisan ini membuat Anda marah, tersinggung, atau merasa tersindir,
itu tandanya nurani Anda belum mati.
Dan jika Anda punya kuasa,
maka jangan beri motivasi.
Berilah solusi.
Ajibarang, 23 Juli 2025
Penulis : Trisnatun, Kepala SMP Negeri 1 Cilongok
