Selasa, 05-05-2026
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat
  • Website Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan SahabatWebsite Ardan Sirodjuddin menerima tulisan artikel Guru, Kepala Sekolah dan Praktisi Pendidikan dalam Kolom Tulisan Sahabat

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Praktik Perawatan Jenazah

Diterbitkan :

Di sebuah sekolah menengah kejuruan di kota kecil yang bersisian langsung dengan pegunungan dan perkampungan padat, seorang guru Pendidikan Agama Islam mulai merasa ada yang tak beres dengan praktik pembelajaran yang selama ini ia ajarkan. Selama bertahun-tahun, praktik pernikahan menjadi bagian dari kurikulumnya sebagai bagian dari pelajaran fikih. Para siswa kerap antusias saat mempraktikkan akad nikah, memainkan peran sebagai pengantin pria dan wanita, wali nikah, saksi, dan penghulu. Tapi kegembiraan yang ditampilkan siswa lama-lama mulai terasa berlebihan. Mereka menyusun dekorasi seperti pernikahan sungguhan, bercanda kelewat batas, dan mengunggah potongan adegan ke media sosial dengan caption yang justru bertentangan dengan nilai-nilai yang ingin diajarkan.

Guru itu merenung. Apa yang sebenarnya sedang dia ajarkan? Apakah ini bentuk pendidikan agama atau sekadar permainan yang berpotensi disalahpahami? Dalam keheningan ruang guru suatu siang, saat sebagian rekan sedang istirahat, ia membaca ulang kitab-kitab fiqih klasik dan buku-buku pendidikan modern. Dari sana, ia menemukan sesuatu yang selama ini luput ia pikirkan: praktik pengurusan jenazah, yang juga merupakan kewajiban fardu kifayah, bisa jadi lebih mendalam dalam menanamkan nilai-nilai keislaman dibanding sekadar praktik nikah yang terlalu mudah disalahartikan.

Salah satu kekhawatirannya yang paling besar adalah betapa praktik nikah sering membuka peluang siswa menyentuh wilayah yang tidak seharusnya. Meski hanya simulasi, terkadang ada gestur tubuh yang tidak pantas, pemilihan pakaian yang terlalu santai atau bahkan menyerupai busana pengantin sungguhan yang glamor, dan lebih parah lagi, candaan yang menjurus pada pelecehan makna sakral sebuah akad. Bahkan dalam beberapa praktik, siswa merasa seolah “benar-benar menikah”, memanggil satu sama lain dengan sebutan suami-istri, dan membagikan video ke sosial media dengan narasi yang tidak bisa dibenarkan secara syar’i. Ini tentu mencederai nilai-nilai luhur pernikahan itu sendiri dan menyemai benih ketidakseriusan dalam memahami peran dan tanggung jawab rumah tangga. Belum lagi munculnya rasa malu dan saling goda antar teman yang mengganggu psikologis siswa lain.

Dengan penuh pertimbangan, ia mengusulkan perubahan pada kepala sekolah. Ia menjelaskan bahwa pengurusan jenazah bukan hanya mengajarkan fiqih praktis, tetapi juga mengasah empati, keberanian, rasa tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Kepala sekolah awalnya tertegun. Tapi guru itu tak datang dengan tangan kosong. Ia membawa rancangan pembelajaran, daftar alat dan bahan sederhana, serta surat rekomendasi dari tokoh agama setempat.

Setelah mendapat restu, ia mulai merancang pembelajaran. Ia mendatangkan kain kafan, ember, sabun, boneka besar sebagai alat praktik, dan mendesain kelas menjadi ruang praktik kecil. Di awal pertemuan, suasana kelas hening. Ketika ia mulai menceritakan hakikat kematian dalam Islam, bagaimana jenazah seharusnya dihormati, dan bagaimana pentingnya mempersiapkan diri sebelum ajal datang, beberapa siswa mulai menggigit bibir, sebagian tertunduk, satu-dua menatap kosong ke jendela.

“Kematian bukan akhir segalanya,” katanya, “tapi awal dari pertanggungjawaban.” Ia tak sedang menggurui. Ia sedang berbagi sesuatu yang nyata. Ia pun membuka sesi praktik memandikan jenazah. Boneka yang digunakan diletakkan di atas meja panjang, ditutupi kain putih. Dengan perlahan dan penuh penghormatan, ia menunjukkan cara menyiram air, mengusap dengan lembut, dan niat yang harus dibaca. Siswa laki-laki diminta bergiliran mencoba, sementara siswa perempuan mencatat dan mendampingi.

Di minggu-minggu berikutnya, mereka belajar cara mengkafani, menshalatkan, dan bahkan ia mengajak mereka mengunjungi pemakaman sambil berbicara tentang kehidupan, kematian, dan amal jariyah. Dalam kunjungan itu, seorang siswa yang biasanya usil dan suka terlambat, berdiri lama di sisi salah satu pusara. Ketika dihampiri, ia hanya berkata pelan, “Saya baru sadar, hidup itu nggak selamanya.”

Salah satu titik balik yang mengejutkan datang saat kelas praktik berlangsung dan seorang siswi tiba-tiba menangis ketika menggulung kain kafan. Ketika ditanya, ia berkata dengan suara bergetar, “Saya jadi ingat nenek saya. Waktu kecil saya lihat dia dimandikan, tapi dulu saya nggak ngerti apa-apa. Sekarang saya ngerti kenapa harus pelan-pelan, kenapa harus hati-hati.”

Efek dari pembelajaran ini mulai terasa di luar kelas. Siswa-siswi jadi lebih tertib saat salat, mulai menaruh perhatian terhadap teman yang sedang kesusahan, dan mulai muncul kelompok kecil yang mengadakan pengajian sendiri setiap Jumat sore. Salah satu siswa yang dulunya paling ogah ikut praktik, kini justru menjadi pemimpin salat jenazah simulasi dengan suara lantang dan khidmat. Ia bahkan bilang bahwa ia ingin menjadi ustaz kelak.

Tentu, perjalanan ini tidak mulus. Ada orang tua yang awalnya khawatir anaknya jadi takut atau trauma. Ada juga siswa yang menolak praktik karena merasa jijik atau takut. Tapi guru itu sabar. Ia datangi orang tua, ia bicarakan dengan siswa satu per satu, bahkan ia dampingi siswa yang sangat takut untuk hanya sekadar menyentuh boneka praktik. Perlahan, hambatan demi hambatan bisa diatasi.

Beberapa guru dari sekolah lain yang mendengar metode ini pun datang dan mengamati langsung prosesnya. Mereka terkesima dengan antusiasme siswa dan kedalaman refleksi yang muncul dari pengalaman praktik. Salah satu guru berkata, “Saya tidak pernah menyangka, praktik jenazah bisa mengubah sikap siswa secepat ini.” Guru itu tak menganggap ini sebagai pencapaian pribadi. Baginya, ini adalah bagian dari tanggung jawab seorang pendidik. Ia menolak menyederhanakan pembelajaran agama menjadi hafalan atau simulasi seremonial yang hampa. Ia ingin setiap pelajaran agama mengakar di hati siswa, membekas dalam tindakan mereka sehari-hari.

Kini, dua tahun sejak metode ini diterapkan, praktik perawatan jenazah telah menjadi bagian tetap dari kurikulum sekolah. Bahkan, saat sekolah lain memilih kembali ke praktik nikah, sekolah ini tetap dengan pendiriannya. Mereka percaya bahwa mendekatkan siswa dengan realitas akhir kehidupan bukan untuk menakuti, tetapi untuk menyadarkan, memperdalam iman, dan memperkuat akhlak.

Dan di ruang kelas itu, setiap kali praktik perawatan jenazah digelar, selalu terdengar suara tenang memandu dengan sabar. Di hadapan para siswa yang awalnya gelisah namun akhirnya khidmat, terdengar kalimat yang menenangkan, “Hidup ini bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling siap. Siap meninggalkan dunia dengan baik, dan siap memberi manfaat sebanyak-banyaknya selagi masih hidup.”

Begitulah kisah seorang guru agama yang memilih jalan sunyi, mengganti glamornya praktik pernikahan dengan kesyahduan praktik jenazah, demi satu harapan sederhana: mencetak generasi yang bukan hanya tahu agama, tapi benar-benar hidup dalam cahaya nilai-nilai yang diajarkan.Dan dari sana, pendidikan tak lagi sekadar instruksi. Ia menjadi pengantar pulang yang damai—menuju keabadian yang tenang.

Penulis : Ajeng Virga Sawitri Maro.S.Pd.,M.Pd, Guru SMK Negeri 1 Pringapus Kabupaten Semarang